Semar disebut juga Badranaya

Mengemban sifat among, membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia.

Benih yang baik untuk hasil terbaik

Apabila menginginkan hasil yang baik maka tentulah dipilih bibit yang baik pula, bibit yang unggul, bibit yang sempurna.

Tesing dumadi, asal mula terjadinya Manusia.

Asal mula manusia adalah dari getaran tanaman dan getaran binatang yang kita makan, dan akhirnya berwujud air putih (air suci) dengan sinar cahaya tri tunggal yaitu nurcahya = sinar cahaya allah, nurrasa = sarinya Bapak dan nur buat = sarinya Ibu).

Pancasila..sikap hidup bangsa Indonesia.

Menurut ajaran spiritual Budaya Jawa, Pancasila merupakan bagian dari Wahyu Sapta Warsita Panca Pancataning Mulya (Wahyu tujuh ajaran yang masing-masing berisi lima butir ajaran mencapai kemuliaan, ketentraman, dan kesejahteraan kehidupan alam semesta hingga alam keabadian/akhirat).

Apakah yang kita miliki..?

Ketika mati pun kita tidak akan membawa sepeser pun uang. Masihkah kita merasa sebagai makhluk yang adigang-adigung-adiguno?

Sujud dasawarsa, Sujudnya warga KSD

Sujud secara Kerohanian Sapta Darma adalah tata cara menembah kehadapan Hyang Maha Kuasa.

Kita tidak sendiri

Alam beserta isinya adalah milik kita bersama...mari jaga kerukunan, kebersamaan dalam menjaga kelestarian demi generasi selanjudnya

out of body experience

Peristiwa out of body experience adalah merupakan gambaran awal dari kematian, Adalah merupakan indikasi putusnya hubungan Input sensor dalam tubuh, ketika kondisi manusia dalam konsisi sadar.

Butir-butir budaya jawa

Hanggayuh Kasampurnaning Hurip Berbudi Bawalesana Ngudi Sejatining Becik

Wewarah Tujuh

Merupakan kewajiban yang harus dijalankan Warga SAPTA DARMA dalam kehidupannya.

Sesanti

Sikap dan perilaku hidup dalam masyarakat yang harus diciptakan oleh Warga SAPTA DARMA.

Wejangan

Wejangan Panuntun Agung Sri Gutomo bagi warga SAPTA DARMA dalam mengenali jati diri yang sebenarnya.

Tampilkan postingan dengan label SEJARAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SEJARAH. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Juni 2011

Bung Karno: Elang Terbang Sendiri


PENAKISEMAR> Terlalu banyak kisah heroik menjelang dan pasca Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Jalannya revolusi, penuh riak gelombang. Panas-dingin suhu politik. Naik-turun irama pergerakan. Jalinan hubungan antara sang pemimpin dengan yang dipimpin, tak urung mengalami pasang dan surut.

Bung Karno tak pernah sepi dari kontroversi. Lihat sejarah Romusha. Tengok sejarah pembentukan PETA. Tidak semua langkah Sukarno didukung semua elemen perjuangan. Beberapa pemuda bahkan menentang keras, mengecam, bahkan mengutuk Sukarno yang mereka tuding sebagai “kolaborator”. Benar. Sikap Sukarno yang mau bekerja sama dengan Jepang untuk beberapa hal, dinilai keblinger, dan melenceng dari cita-cita menuju Indonesia merdeka.
Persoalannya, seperti yang Bung Karno keluhkan kepada Cindy Adams, penulis biografinya, bahwa ia tidak mungkin keliling Indonesia, mendatangi satu per satu orang dan menjelaskan semua langkah dan keputusannya. Termasuk yang cap terhadapnya sebagai kolabortor Jepang. Bung Karno hanya punya keyakinan. Bung Karno hanya punya perhitungan. Bung Karno hanya punya ego yang sangat kuat.
Alhasil, ketika tahun 1943 Jepang mendirikan PETA, Bung Karno sendiri yang memilihkan pemuda-pemuda cakap untuk menjadi anggotanya, satu di antaranya Gatot Mangkupraja, pemberontak PNI yang senasib dengan Bung Karno ketika dijebloskan ke penjara Sukamiskin tahn 1929. Sikap Bung Karno didasari perhitungan, dengan menjadi anggota PETA, maka para prajurit muda asli putra bangsa, akan mendapat pelajaran-pelajaran penting tentang dasar-dasar kemiliteran, ilmu berperang, strategi bertempur, dan penguasaan peralatan perang modern.
Sementara, sekelompok muda yang progresif menentang bergabung dengan PETA, bahkan mengutuk Sukarno yang mendukung PETA, demi membantu Jepang melawan Sekutu. Itu pula yang diucapkan seorang dokter muda yang merawat Bung Karno di rumah sakit, sekitar tahun 1943. Katanya, “Banyak orang mengatakan, dengan memasuki tentara (PETA) yang didirikan oleh Jepang hanya berarti kita akan membantu Jepang saja.”
Bung Karno marah dan menukas, “Itulah pandangan yang dangkal. Orang yang berpikir demikian, tidak bisa melihat jangka yang lebih jauh ke depan. Tujuan yang pokok adalah melengkapi alat perjuangan bagi kemerdekaan. Tidak ada maksud lain daripada itu.”
Dokter itu membantah, “Tapi ingatlah bahwa Jepang datang kemari untuk menjajah. Dia itu musuh. Bertempur di samping mereka berarti membantu Fasisme!”
Bung Karno menjawab, “Kukatakan, pendirian yang demikian itu terlalu picik. Tapi, baiklah, Jepang itu datang kemari untuk menjajah dan harus diterjang keluar. Akan tetapi ingat, bahwa mereka adalah penjajah yang bisa diperalat. Saya membantu pembentukan PETA — ya! Tapi bukan untuk mereka! Tidakkah dokter memahaminya? Untuk kita! Untuk engkau! Untukku! Untuk Tanah Air kita! Atau, apakah dokter tetap mau menjadi orang jajahan sampai hari kiamat?
Dokter itu belum puas, dan terus berbantah dengan Sukarno, “Rakyat menyatakan tentang Bung Karno, bahwa……..”
“Rakyat tidak mengatakan apa-apa!” Bung Karno memotong kalimat dokter. “Jikalau mereka yakin, bahwa saya tidak menempuh jalan yang paling baik, tentu rakyat tidak akan mengikuti saya, bukan? Coba, apakah memang rakyat tidak mengikuti saya?”
“Tidak.”
“Bukankah mereka mengikuti saya?”
“Ya, seratus persen.”
“Jadi, rakyat tidak mengatakan apa-apa. Hanya beberapa pemuda yang kepala panas saja yang mengatakan….”
“Bahwa Bung Karno bekerja sama dengan musuh,” dokter melengkapi kalimat Bung Karno.
Tapi toh, dialog itu tidak bisa meredam para pemuda yang disebut Bung Karno kepala panas. Makanya, Bung Karno pada waktu-waktu itu, masih sering menjumpai secarik kertas berisi surat kaleng yang diselipkan di bawah pintu. Salah satu dari surat itu menyebutkan, “Karena kami dipimpin oleh seseorang yang bersemangat tikus, kami tidak berani berjuang. Akan tetapi jika kami dipimpin oleh seseorang yang bersemangat banteng, kami akan bertempur mati-matian.”
Atas kejadian itu, Bung Karno hanya bergumam, “Ah… ini hari yang jelek.” Hati Sukarno benar-benar sedih. Dalam keadaan tertekan seperti itu, satu kalimat yang bisa membuatnya tenang kembali, “Bebek berjalan berbondong-bondong, akan tetapi burung elang terbang sendirian.”

Rabu, 25 Mei 2011

Bagian 5 : Sekelumit Kisah Sunan Kajenar atau Syeh Siti Jenar



Kekhalifahan pertama Jawa, yang selama ini dicita-citakan oleh Kaum Putihan berhasil berdiri. Raden Patah atau Tan Eng Hwat dikukuhkan sebagai khalifah pertama Demak Bintara dengan gelar Sultan Syah 'Alam Akbar Jiem-Boenningrat (Nama Jiem-Boen, adalah nama China. Saya belum tahu pasti darimana dan mengapa nama itu diambil. : Damar Shashangka)

Praktis, Raden Patah mulai berkuasa dari tahun 1479 Masehi. Begitu naik tahta, wilayah negara Demak Bintara yang dulu diperkirakan kurang lebihnya separuh bekas wilayah Majapahit, terutama wilayah bagian barat yang mayoritas sudah banyak penduduknya yang memeluk Islam, ternyata perkiraan itu salah!

Daerah-daerah yang dapat dikuasai oleh Demak, yang terang-terangan dengan suka rela mengakui kedaulatan Demak Bintara, ternyata hanya sebatas Jawa Tengah sekarang dan pesisir utara Jawa Timur hingga ke Pulau Madura. Selebihnya, tidak ada satu Kadipaten-pun yang mau tunduk tanpa syarat.

Yang sangat mencolok mata, begitu Pangeran Cakrabhuwana meletakkan jabatannya sebagai Akuwu (setingkat Adipati ) di Caruban Larang pada tahun 1479, dan pada tahun itu pula Sunan Gunungjati diangkat sebagai pengganti beliau bahkan dinikahkan dengan putri beliau Nyi Pakungwati, Caruban Larang, secara tegas menolak menjadi wilayah Demak Bintara! Sunan Gunungjati berdalih, secara historis, Caruban Larang dari dulu bukan wilayah Majapahit, tapi wilayah Pajajaran. Dan Caruban Larang berhak menentukan nasibnya sendiri.

Syeh Siti Jenar diam-diam prihatin melihat kekonyolan mereka-mereka yang mengaku sebagai pemimpin umat ini. Namun, ketegangan demi ketegangan yang terjadi antar kaum Putihan sendiri, dita,bah operasi-operasi militer yang harus dilakukan oleh pemerintahan Demak Bintara, membuat Syeh Siti Jenar, sedikit banyak luput dari perhatian Dewan Wali.

Dewan Wali tengah sibuk, tengah kewalahan menghadapi perlawanan-perlawanan sisa-sisa kekuatan Hindhu-Buddha yang beberapa daerah masih nekad melakukan perlawanan. Seandainya Prabhu Brawijaya, mau mengkoordinasikan setiap kekuatan sisa-sisa Majapahit ini, maka Demak Bintara tak akan bertahan lama. Cuma yang dikhawatirkan oleh Sunan Kalijaga, jika memang pengkoordinasian kekuatan itu benar-benar dilakukan, bukan hanya Demak Bintara, bahkan seluruh umat muslim yang kontra Demak-pun jadi terkena imbasnya.

Banjir darah tidak hanya akan terjadi di Jawa, tapi diseluruh wilayah Majapahit, jika sampai Prabhu Brawijaya mengeluarkan komando penyatuan sisa-sisa kekuatan itu. Demi kemanusiaan, yang 'sadar', harus mengalah.

Disisi lain-pun, seandainya Raden Patah tidak memandang Dewan Wali Sangha, pasti dia akan melakukan invasi ke Caruban Larang yang kini, setelah dipimpin oleh Sunan Gunungjati, berubah nama menjadi Carbon Girang. Namun mengingat kedudukan kekhalifahan Islam di Jawa masih sangat lemah dan butuh kesatu paduan, untuk sementara Raden Patah memendam niatannya.

Semua dinamika politik ini, tak lepas dari pengamatan Sunan Kalijaga dan Syeh Siti Jenar. Pada awal berdirinya Demak, Sunan Kalijaga yang pernah berjanji kepada Prabhu Brawijaya untuk ikut terjun ke kancah perpolitikan, demi untuk bisa ikut menentukan arah kebijakan Demak Bintara ( baca catatan saya Misi Peng-Islam-an Nusantara : Damar Shashangka ), pada waktu itu memilih untuk menunggu dan melihat perkembangan dulu. Beliau sekarang lebih terfokus untuk berdakwah keliling, dari satu kota ke kota lain, terutama di pedalaman Jawa demi untuk menghindari sewaktu-waktu Dewan Wali Sangha meminta bantuannya untuk menundukkan daerah tertentu dengan meminjam wibawa beliau.

Sedangkan Syeh Siti Jenar, lebih memfokuskan diri untuk mengajar para santri-santrinya. Terdapat beberapa nama santri beliau yang terkenal, diantaranya Lontang Asmara dan Sunan Panggung.

Waktu berjalan cepat. Pemerintahan Demak Bintara terus disibukkan dengan operasi-operasi militer yang tak kunjung selesai. Praktis, kesejahteraan masyarakat menjadi kurang diperhatikan. Rakyat kecil, yang dulu merasakan taraf hidup yang mapan pada saat Majapahit berkuasa, kini, pelahan-lahan, dibahaw naungan Ke-khalifah-an yang katanya pasti akan memberikan keberkahan, ternyata, malah membawa ke ambang ketidak pastian.

Stabilitas kacau balau. Roda perekonomian-pun terganggu. Banyak investor yang sudah pada hengkang dari Jawa. Jawa setelah Majapahit jatuh, bukannya berubah menjadi surga, namun malah menjadi neraka.

Dan konyolnya, pada tahun 1487 Masehi, Sunan Giri Kedhaton memproklamirkan berdirinya kembali Ke-khalifah-an Giri yang dulu pernah dihancurkan oleh Majapahit ( baca Misi Peng-Islam-an Nusantara : Damar Shashangka).

Raden Patah, dibuat pusing karenanya.

Carut marut perpolitikan di Jawa membuat Dewan Wali melupakan kasus Syeh Siti Jenar dalam jangka waktu yang lama. Kini ditambah lagi, Carbon Girang mulai ikut-ikutan mencoba menggoyang Pajajaran.

Tahta Pajajaran, telah berganti dari Prabhu Silih Wangi atau Prabhu Niskala Wastu Kancana kepada Prabhu Tohaan sejak tahun 1475. Sunan Gunungjati, mendapati kakeknya, Prabhu Silih Wangi telah lengser, maka kini dia tak lagi sungkan-sungkan untuk mengadakan penyerangan ke wilayah Pajajaran. Namun, Pajajaran sangat kuat dan tertutup. Sehingga, baik invasi militer maupun taktik infiltrasi seperti yang pernah dilakukan kepada Majapahit, tak mampu menembus Pajajaran. Padahal Carbon Girang dibantu oleh Demak Bintara dan Kadipaten Banten. ( Banten adalah wilayah Carbon Girang. Dipimpin oleh Pangeran Sebakingkin, putra Sunan Gunungjati dengan Nyi Kawungten, putri Adipati Banten. Pangeran Sebakingkin kelak dikenal dengan gelar Maulana Hassanuddin. : Damar Shashangka).

Kegagalan taktik infiltrasi sebagian besar dikarenakan di Pajajaran, tidak banyak pejabatnya yang memeluk agama Islam seperti halnya Majapahit dulu. Bahkan diam-diam, beberapa sisa-sisa lasykar Majapahit, menyokong Pajajaran.

Jalan satu-satunya untuk memperlemah Pajajaran hanyalah menguasai pelabuhan-pelabuhan pantai utara Jawa Barat, dimana dari pelabuhan-pelabuhan ini, roda perekonomian Pajajaran sebagian besar tertunjang karenanya. Seluruh pesisir utara Jawa Barat, dikuasai dengan paksa oleh Carbon Girang. Praktis, jika dengan kekuatan militer, Carbon Girang tidak mampu menembus Pajajaran, maka jalan satu-satunya adalah melakukan blokade ekonomi!

Melihat perkembangan politik Caruban Larang yang kini berganti nama Carbon Girang sedemikian panas, Syeh Siti Jenar punya niatan untuk memindahkan pesantrennya ke pedalaman Jawa. Beliau berniat untuk menyingkir ke basis kaum Abangan. Carbon Girang hendak beliau tinggalkan. Namun, Syeh Siti Jnear, bukanlah tokoh yang dekat dengan kekuasaan seperti halnya Sunan Kalijaga. Beliau kesulitan melobi hunian baru untuk tempat kepindahan pesantrennya.

Seandainya beliau tidak memikirkan nasib para pendukungnya, bisa saja beliau meninggalkan Jawa. Namun, itu bukan watak orang yang sudah 'tercerahkan'.

Menginjak awal tahun 1490 Masehi, ketika Pajajaran diperintah oleh Sang Raja Jayadewata (1482-1521 M), Ki Ageng Kebo Kenanga, atau yang terkenal dengan gelar Ki Ageng Pengging, penguasa daerah Pengging ( sekitar Surakarta, Jawa Tengah, sekarang : Damar Shashangka), yang masih berusia 21 tahun, sangat muda, diam-diam menawarkan daerah Pengging sebagai tempak hunian baru kepindahan pesantren beliau.

Mendengar hal itu, Sunan Kalijaga, yang pernah mendapat amanah agar menjaga trah Pengging dan trah Tarub dari Prabhu Brawijaya ( baca Misi Peng-Islam-an Nusantara : Damar Shashangka ), segera memperingatkan Syeh Siti Jenar agar menolak tawaran tersebut. Mengingat penguasa Demak Bintara masih menganggap trah Pengging adalah bahaya laten bagi Demak Bintara. Karena memang sesungguhnya tahta Majapahit, harus jatuh ke trah Pengging, bukan ke Raden Patah. Jika sampai pemerintah Demak tahu ada hubungan khusus antara Syeh Siti Jenar dengan Pengging, dapat dipastikan, Syeh Siti Jenar maupun Ki Ageng Pengging, akan dicurigai tengah membangun kembali kekuatan politik Majapahit.

Syeh Siti Jenar yang memang tidak paham peta politik Jawa, segera mempertimbangkan akan hal itu. Dan segera, beliau menolak tawaran Ki Ageng Pengging yang masih muda tersebut. Namun, Syeh Siti Jenar tidak bisa mengelak untuk menyukai sosok Ki Ageng Pengging, yang walaupun masih muda, namun sangat tinggi kedalaman 'spiritualitas'-nya. Syeh Siti Jenar dibuat kagug karenanya. Tidak hanya beliau, Sunan Kalijaga-pun juga mengagumi pemuda ini.

Walau terpaut usia yang cukup jauh, Syeh Siti Jenar tak segqan-segan mengajak Ki Ageng Pengging berdiskusi masalah 'spiritualitas'. Walaupun Ki Ageng Pengging pemeluk Shiva Buddha dan Syeh Siti Jenar pemeluk Islam, tapi pada ujung-ujungnya, esensi spiritualitas yang mereka dalami adalah sama.

Seringkali Syeh Siti Jenar memeluk Ki Ageng Pengging dengan penuh kasih. Beliau sudah menganggap, pemuda ini adalah anaknya sendiri, tiada beda dengan Syeh Datuk Pardhun, putra Syeh Siti Jenar sendiri.

Begitu juga Ki Ageng Pengging, juga sudah menganggap Syeh Siti Jenar seolah seperti ayah kandungnya. Maklum, Adipati Handayaningrat IV, ayah kandung Ki Ageng Penggging, memang sudah wafat.

Kedekatan Ki Ageng Pengging dengan Syeh Siti Jenar, menarik minat Ki Ageng Tingkir, Ki Ageng Ngerang dan Ki Ageng Butuh, sahabat-sahabat Ki Ageng Pengging, untuk berguru kepada Syeh Siti Jenar.

Disini perlu diperjelas, yang menjadi murid Syeh Siti Jenar sebenarnya adalah Ki Ageng Tingkir, Ki Ageng Ngerang dan Ki Ageng Butuh, sedangkan Ki Ageng Pengging, walau dekat dengan Sang Syeh, tapi tetap memeluk Shiva Buddha. Hubungan yang indah antara sahabat, ayah angkat, murid dan Guru ini memang seringkali menimbulkan salah pengertian. Kelak, Ki Ageng Butuh dan Ki Ageng Ngerang terkenal dengan gelar Sunan Butuh dan Sunan Ngerang, murid-murid Syeh Siti Jenar.

Namun, gerak-gerik Ki Ageng Pengging, senantiasa dimonitor oleh mata-mata Demak Bintara. Laporan kedekatan Syeh Siti Jenar dengan Ki Ageng Pengging telah masuk ke hadapan Raden Patah, Sultan Demak. Hal ini, perlu diwaspadai. Sebagai seorang pemimpin politik tertinggi Demak, mau tak mau, Raden Patah harus mencurigai kegiatan Ki Ageng Pengging.

Dan laporan serupa, sampai juga ke Kekhalifahan Giri. Sunan Giri, walau telah menjabat sebagai Sultan Giri, namun masih tetap juga menjabat sebagai Pemimpin Dewan Wali Sangha. Kerancauan ini, otomatis membuat Demak Bintara, walau bukan wilayah Giri Kedhaton, namun mau tak mau harus tetap tunduk pada fatwa-fatwa Sunan Giri. Dan fatwa-fatwa Sunan Giri, sangat tipis bedanya dengan perintah-perintah beliau sebagai seorang Sultan. Kalau direnungkan kembali, sebenarnya Raden Patah, tidak memiliki wewenang yang sesungguhnya sebagai Sultan Demak.

Hal inilah yang memicu kelak dikemudian hari, pada masa sesudah Kekhalifahan Demak jatuh, banyak penguasa Kekhalifahan Jawa yang berusaha menyerang Giri Kedhaton dengan kekuatan militer. Karena bagaimanapun juga, sebuah pemerintahan tidak akan bisa mementukan kebijakan secara bebas jika selalu diintervensi penguasa pemerintahan lain dengan berselimutkan fatwa.

Namun, usaha-usaha yang rasional seperti ini, malah dicerca habis-habisan oleh Kaum Putihan dikemudian hari. Mereka menjelek-jelekkan Sultan Hadiwijaya ( Kesultanan Pajang ) dan Panembahan Senopati ( Kesultanan Mataram ) yang menyerang Giri. Pada buku-buku kaum Putihan, yang melimpah ruah dipasaran, kedua penguasa ini sangat-sangat dipersalahkan.

Kelak pada tahun 1679 Masehi, pada saat Kesultanan Mataram diperintah oleh Sunan Amangkurat II, Giri Kedhaton berhasil dihancurkan.

Perkembangan hubungan antara Syeh Siti Jenar dengan Ki Ageng Pengging, terus diawasi oleh Kesultanan Demak Bintara dan Kesultanan Carbon. Menjalang tahun 1497 Masehi, Sunan Giri, atas nama Pemimpin Dewan Wali Sangha, memerintahkan Sultan Syah Alam Akbar, yaitu Sultan Demak dan Sultan Carbon, yang tak lain Sunan Gunungjati, untuk menangkap Syeh Siti Jenar.

Pemerintahan Demak dan Carbon, merespon perintah Dewan Wali tersebut.

Sultan Demak segera menitahkan Sunan Kudus, Senopati Agung Demak Bintara untuk pergi ke Carbon Girang, membawa pasukan sebanyak 700 orang untuk menangkap Syeh Siti Jenar.

Kedatangan pasukan Demak diwilayah Kasultanan Carbon Girang menggegerkan masyarakat sekitar. Pasukan Carbon ikut bergabung dalam barisan pasukan Demak Bintara.

Pasukan gabungan ini lantas menuju Pesantren Krendhasawa, dimana Syeh Lemah Abang atau Syeh Siti Jenar bermukim. Para santri geger melihat kedatangan pasukan gabungan ini. Seluruh santri diultimatum untuk meninggalkan area pondok Pesantren. Namun, perlawanan terjadi. Perlawanan yang takseberapa. Namun jatuh juga korban dipihak santri Syeh Siti Jenar.

Pondok Pesantren Krendhasawa dikepung ketat. Setelah pasukan Demak Bintara dan Carbon berhasil menguasai keadaan, Sunan Kudus, Senopati Demak Bintara, segera masuk ke Dalem Agung, dimana Syeh Siti Jenar tinggal. Kedua ulama yang berseberangan ini bertemu dalam situasi tegang! Sunan Kudus, dengan menunjukkan surat perintah dari Sultan Demak, meminta Syeh Siti Jenar bersedia ditangkap. Syeh Siti Jenar dengan tenang menyatakan kesediaannya untuk ditangkap.

Pondok Pesantren Krendhasawa selama beberapa hari dalam situasi mencekam. Syeh Siti Jenar masih ada didalam sana. Beliautidak diperkenankan keluar dari kediaman beliau. Status beliau sekarang adalah tahanan negara! Beliau akan diadili di Cirebon, dengan tuduhan telah menggalang gerakan makar kepada pemerintahan yang sah dan telah menyebarkan ajaran menyimpang kepada ummat Islam. Ki Ageng Pengging, menyusul kemudian untuk ditangkap!

Tempat pengadilan belum ditentukan, menunggu kedatangan para Wali dari Jawa Timur dan Jawa Tengah yang tengah dalam perjalanan menuju Carbon Girang.

Beberapa hari kemudian Sunan Kalijaga datang lebih dahulu. Diiringi dengan beberapa santri beliau. Sunan Kalijaga, meminta kepada Sunan Kudus agar memperkenankan dirinya bertemu dengan Syeh Siti Jenar. Sunan Kudus tidak memberikan ijin. Tapi, Sunan Gunungjati, meminta Sunan Kudus agar memberikan kelonggaran bagi Sunan Kalijaga. Akhirnya, Sunan Kudus memberikan ijin juga.

Sunan Kalijaga berhasil menemui Syeh Siti Jenar, sosok yang sudah dianggap sebagai kakak kandungnya sendiri. Di Dalem Agung, dimana Syeh Siti Jenar ditahan, mereka berdua berpelukan erat. Meteka berdua bertemu dalam situasi memilukan.

Syeh Siti Jenar, tetap terlihat tegar. Bahkan beliau berpesan kepada Sunan Kalijaga agar terus berjuang menegakkan Islam yang toleran, yang penuh kasih, bukan Islam yang kolot, kaku dan dangkal.

Beberapa hari kemudian, datanglah rombongan Dewan Wali ke Carbon. Mereka langsung menuju ke Istana Pakungwati ( Istana Kasultanan Carbon bernama Pakungwati, mengambil nama dari istri Sunan Gunungjati, Nyi Pakungwati : Damar Shashangka). Dibawah pimpinan Sunan Giri, Para Wali memutuskan untuk mengadili Syeh Lemah Abang dengan mengambil Masjid Agung Sang Ciptarasa sebagai tempatnya.

Syeh Lemah Abang, diiringi Sunan Kalijaga, dengan dikawal pasukan Demak dan Carbon, segera menuju Masjid Agung Sang Ciptarasa. Pengawalan sangat ketat. Seluruh masyarakat Carbon Girang mengawasi dengan hati tercekam.

Ada beberapa kejadian yang tak terduga, beberapa santri Syeh Lemah Abang melakukan perlawanan hendak menerobos blokade militer yang tengah mengawal Sang Syeh. Mereka berhasil ditangkap. Syeh Lemah Abang, ditengah kerumunan pasukan dan masyarakat yang hendak menyaksikan, segera memerintahkan agar seluruh santrinya tenang dan ridlo'. Seluruh pendukungnya diminta agar berserah diri kepada Dzat Penguasa 'Alam.

Di Masjid Sang Ciptarasa, Sunan Kudus berperan sebagai seorang Jaksa, dan Hakim dipegang oleh Sunan Giri.

Pengadilan berjalan a lot dan lamban. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi disana. Karena pengadilan ini bersifat tertutup. Situasi Masjid Agung Sang Ciptarasa sangat mencekam. Penjagaan ketat terlihat disana-sini. Pasukan Demak, dibantu Pasukan Carbon, melakukan penjagaan berlapis-lapis. Tidak ada yang boleh memasuki areal Masjid. Siapapun juga!

Hampir seharian penuh, tak ada perubahan situasi. Tetap mencekam. Dan menjelang malam tiba, nampak Syeh Lemah Abang, digiring ke halaman Masjid Sang Ciptarasa. Pasukan semakin diperketat.

Dihalaman Masjid Sang Ciptarasa, Sunan Kudus sendiri yang menjalankan eksekusi hukuman mati. Syeh Lemah Abang, dengan senyum dibibirnya, dengan kepasrahan total kepada Dzat Yang Meliputi Semesta, menyambut detik-detik terakhir hidupnya.

Sunan Kudus, memenggal kepala Syeh Siti Jenar. Kepala sudah terlepas dari badan. Darah menyemburat! Dan Syeh Lemah Abang, wafat saat itu juga!

Namun terjadi keganjilan, diareal Masjid Sang Ciptarasa, begitu Syeh Lemah Abang terpenggal kepalanya, mendadak sontak tercium aroma wangi semerbak yang aneh. Wangi yang bukan datang dari alam manusia. Wangi yang menyeruak dari alam Illahi!

Seluruh yang hadir tercekat. Para Wali yang menyaksikan jalannya eksekusi mati keheranan. Sunan Kudus tertegun. Para Pasukan yang bertugas sebagai penjaga pelaksanaan eksekusi, miris dan ketakutan.

Bahkan lamat-lamat, Para Wali melihat samar dan halus, ditengah-tengah darah yang menggenang disekitar jasad Syeh Siti Jenar, lamat-lamat, muncul empat huruf yang jika dibaca akan berbunyi ALLAH! Cuma sebentar. Dan kejadian gaib ini, sudah membuat beberapa Wali terjajar halus kebelakang!

Kala itulah, mendadak Sunan Kalijaga mengalami 'Peningkatan Kesadaran'. Batinnya sangat peka. Ada sebuah kekuatan illahi yang menarik 'Kesadaran' beliau. Dan Sunan Kalijaga tergetar begitu mendengar suara lamat-lamat, yang syahdu, berasal dari dalam jiwanya. Suara itu adalah suara Syeh Lemah Abang,...

Inilah yang beliau dengar..............


Kinanti

1.Wau kang murweng don luhung,
atilar wasita jati,
e manungsa sesa-sesa,
mungguh ing jamaning pati,
ing reh pêpuntoning tekad,
santa-santosaning kapti.

2.Nora saking anon ngrungu,
riringa rêngêt siningit,
labêt sasalin salaga,
salugune den-ugêmi,
yeka pangagême raga,
suminggah ing sangga runggi.

3.Marmane sarak siningkur,
kêrana angrubêdi,
manggung karya was sumêlang,
êmbuh-êmbuh den-andhêmi,
iku panganggone donya,
têkeng pati nguciwani.

4.Sajati-jatining ngelmu,
lungguhe cipta pribadi,
pusthinên pangesthinira,
ginêlêng dadi sawiji,
wijanging ngelmu jatmika,
neng kaanan ênêng êning.

Terjemahan :

1.Dari yang sampai kepada Jalan Agung,
Meninggalkan Pesan Sejati,
Wahai manusia semua,
Pada saat kematian menjelang,
Tekad yang kuat (menggapai Kesempurnaan Sejati ),
Dan keteguhan kehendak (menggapai Kesempurnaan Sejati )..

2.Tidak didapatkan karena hanya mendengar semata,
Terkecoh ajaran berbelit-belit,
Mementingkan keutamaan tubuh (Ilmu Fiqh),
Apa yang tertulis dipercayai begitu saja,
Padahal itu hanya Ilmu Etika,
Belum menyentuh apa yang sesungguhnya.

3.Maka jangan terjebak syari'at,
Sangat-sangat mengganggu pencapaian Kesejatian,
Terlalu menimbulkan keragu-raguan dan ketidak pastian,
Walau tidak yakin benar tetap saja kamu jalani,
(Fiqh) itu Ilmu Duniawi,
Ketika meninggal tidak berguna.

4.Sesungguh-sungguhnya Ilmu,
Berada didalam Kesadaranmu sendiri,
Tingkatkan Kesadaranmu itu,
Satukan dengan Kesadaran Sejati,
Kesempurnaan Ilmu Sesungguhnya,
Akan kamu dapatkan dalam keadaan ENENG ( DIAM ) ENING ( HENING).

Sunan Kalijaga menitikkan air mata haru mendapati fenomena luar biasa itu. Dan segera, beliau memerintahkan pasukan Demak, merawat jasad Sang Kekasih Allah tersebut.

Sunan Kudus terpaku. Tak mampu berucap sepatah kata-pun.

Jenasah beliau, dikebumikan di Kampung Kemlaten. Namun dikemudian hari, jenasah beliau dipindahkan ke Giri Amparanjati atas perintah Sunan Gunungjati.

Keharuman nama Syeh Lemah Abang atau Syeh Siti Jenar, tidak bisa dihapuskan begitu saja dari benak masyarakat Jawa. Walaupun demikian hebat fitnahan yang dilancarkan kepada beliau sesudah beliau wafat, namun bagi masyarakat Jawa, diam-diam Syeh Siti Jenar tetap sebagai tokoh Agung.

(Tamat)

Sabtu, 23 Oktober 2010

Bagian 4 : Sekelumit Kisah Sunan Kajenar atau Syeh Siti Jenar

Syeh Siti Jenar, kini telah menjadi semacam duri dalam daging bagi Dewan Wali Sangha. Sebuah duri ditengah berkobarnya semangat kekhalifahan. Sebuah obsesi Kaum Putihan untuk mendirikan bentuk pemerintahan Islam pertama di Jawa. Suatu Kekhalifahan yang menurut mereka bakal menjadi lebih besar gaungnya daripada Kekhalifahan Malaka( yang berdiri -/+ 1400 M) maupun Kekhalifahan Samudera Pasai yang berdiri pada tahun 1285 Masehi, tujuh tahun lebih awal berdiri daripada berdirinya Kerajaan Majapahit di Jawa ( 1292 M).Samudera Pasai bisa berdiri karena Kerajaan Shriiwijaya yang bercorak Buddhis, tengah terlibat peperangan dengan Kerajaan Thai yang juga sama-sama bercorak Buddhis. Ditambah lagi, serangan dari Kerajaan Singhasari yang berpusat di Malang, Jawa Timur dalam ekspedisi Pamalayu-nya, ikut memperlemah kekuatan Shriiwijaya.

Dalam situasi politik yang tidak menentu seperti ini, Samudera Pasai berhasil memisahkan diri, dan kemudian memaklumatkan diri sebagai Kekhalifahan pertama di Nusantara. Namun manakala Majapahit berdiri, sebagai penerus dinasty Singhasari, dan ketika Shriiwijaya berhasil dimasukkan kedalam wilayah kekuasaan Majapahit, maka Samudera Pasai-pun, mau tak mau, harus ikut tunduk mengakui kekuatan Majapahit.

Namun walaupun begitu, otonomi khusus bagi Samudera Pasai tetap diberikan oleh Penguasa Majapahit ( Raden Wijaya kala itu ). Hukum Islam tetap boleh diberlakukan diwilayah Samudera Pasai. Kebijakan yang luar biasa seperti ini, hanya bisa didapati dari mereka-mereka yang sudah berkesadaran tinggi. Seandainya Samudera Pasai yang berkuasa atas Majapahit, apakah akan terjadi sebaliknya?

Dan pada tahun 1401-1406 Masehi, Majapahit dilanda keguncangan. Kadipaten Blambangan, sebuah Kerajaan kecil wilayah Majapahit yang ada diujung timur pulau Jawa, hendak melepaskan diri dari pusat kekuasaan. Maka, terjadilah perang saudara yang terkenal dalam sejarah dengan nama Perang Pareg-greg. Blambangan berhasil ditundukkan. Beberapa bangsawan Blambangan berhasil melarikan diri ke pulau Tumasik ( Negara Singapura sekarang : Damar Shashangka). Namun, beberapa diantara bangsawan Blambangan merasa tetap tidak aman tinggal di pulau Tumasik, salah seorang darinya, bernama Pangeran Paramishora, diiringi beberapa pengikutnya, meninggalkan pulau Tumasik, menuju ke Semenanjung Malaka.

Di Semenanjung Malaka, Pangeran Paramishora dengan para pengikutnya dari Jawa, membuka hunian baru. Karena letaknya strategis, hunian baru itu berkembang pesat menjadi salah satu pusat perdagangan dunia. Pangeran Paramishora lantas memberanikan diri memproklamirkan berdirinya sebuah Kerajaan baru bernama Kerajaan Malaka. Dan Kerajaan Malaka inilah cikal bakal negara Malaysia sekarang.

Mendengar diproklamirkannya sebuah Kerajaan baru di Semenanjung Malaka yang merupakan wilayah Majapahit dan yang tidak mengakui kedaulatan Majapahit, penguasa Majapahit kala itu, yaitu Prabhu Wikramawardhana, tidak tinggal diam. Pangeran Paramishora, meminta bantuan Kaisar China dan menyatakan tunduk kepada Kekaisaran China, sehingga mau tidak mau Angkatan Perang Majapahit jika hendak merebur kembali Malaka, harus berhadapan dengan Angkatan Perang China!

Pangeran Paramoshora memang cerdik, bahkan untuk memperkuat tercapai ambisinya, dia menyatakan masuk Islam karena dia menyadari, di Malaka kebanyakan masyarakatnya telah memeluk Islam. Begitu masuk Islam dia mengganti namanya menjadi Sultan Iskandar Syah. Dan Malaka lantas berubah menjadi sebuah kekhalifahan Islam. Para penduduk Malaka dan Samudera Pasai menyatakan dukungannya kepada Kekhalifahan Malaka. Praktis, kini Majapahit harus menghadapi dua kekuatan sekaligus, yaitu kekuatan Angkatan Perang China dan kekuatan Islam.

Dilain pihak, dipusat kekuasaan Majapahit sendiri, segala keputusan penting yang menyangkut Kedaulatan Negara, terkesan sangat lambat dan tidak tegas. Terutama kebijakan yang terlampau lunak kepada orang-orang Islam yang ada diwilayah Majapahit membuat Majapahit semakin kehilangan pamornya. Kebijakan yang teramat lunak ini juga tak lepas dari banyaknya petinggi Kerajaan yang telah beragama Islam. Maka tak heran, kebijakan yang terlampau lunak kepada orang-otrang Islam, kerap kali mewarnai keputusan-keputusan yang diambil. Dan menyangkut urusan Malaka, pada akhirnya, Malaka lepas juga dari wilayah Majapahit. Konfrontasi yang hendak dijalankan, tidak pernah terwujud. Majapahit tengah disetir oleh kekuatan-kekuatan eksternal yang tidak kasat mata.

Sultan Iskandar Syah, meninggal dunia pada tahun 1414 Masehi. Dia digantikan oleh Muhammad Iskandar Syah. Sepuluh tahun kemudian (1424 M ), terjadi perebutan kekuasaan. Adik Muhammad Iskandar Syah, yaitu Mudzafar Syah, merebut tahta Kekhalifahan. Situasi politik Malaka mencekam.

Pada masa inilah, Syeh Datuk Sholeh, seorang ulama Islam terkemuka yang tinggal di Malaka, melarikan diri ke Jawa.

Syeh Datuk Sholeh, adalah putra dari Syeh Datuk Isa. Syeh Datuk Isa adalah ulama terkemuka juga di Malaka, beliau putra Syeh Ahmad Jalalluddin, ulama Islam yang bermukim di Champa ( Kamboja sekarang : Damar Shashangka ). Syeh Ahmad Jalalluddin adalah pendatang dari India, dia adalah putra Syeh Abdullah Khannuddin, seorang Mursyid Thariqat Syathariyyah yang terkenal di Ahmadabad, India. Syeh Abdullah Khannuddin sendiri adalah putra Syeh Abdul Malik yang juga seorang pendatang di India. Beliau berasal dari Qazam, Hadramaut. Syeh Abdul Malik adalah putra Syeh 'Alawy. Syeh Alawiy adalah keturunan seorang ulama terkenal yang bernama Syeh Isa al-Muhajjir al-Bashori al- 'Alawiy.

Pada tahun 1425 Masehi, Syeh Datuk Sholeh, tiba di Caruban Larang ( Cirebon sekarang : Damar Shashangka ). Kedatangannya bersama istri beliau dan para pengikutnya. Setibanya di Caruban Larang, yang waktu itu sudah diperintah oleh Pangeran Cakrabhuwana, beliau memilih menetap di daerah Pakuwuan Caruban atau Astana Japura sekarang, terletak sebelah tenggara kota Caruban Larang.

Di Caruban, beliau bersahabat dekat dengan Syeh Datuk Kahfi, seorang ulama Islam yang telah lebih dahulu tiba di Caruban, bahkan jauh-jauh hari sebelum Pangeran Cakrabhuwana mendirikan Caruban Larang. Syeh Datuk Kahfi inilah, guru dari Pangeran Cakrabhuwana.

Pada awal tahun 1426 Masehi, Syeh Datuk Sholeh wafat. Kala itu, istri beliau yang tengah mengandung semenjak kepergiannya dari Malaka, melahirkan seorang putra. Putra yang lahir yatim ini, diberi nama San 'Ali Anshar. Kelak, San 'Ali Anshar inilah yang terkenal dengan nama Syeh Lemah Abang atau Syeh Siti Jenar.

Sejak kecil, San 'Ali Anshar diasuh oleh Ki Danusela, sahabat Syeh Datuk Sholeh. Menginjak usia lima tahun, Ki Danusela mengirimkan San 'Ali Anshar ke pasantren Giri Amparan Jati yang diasuh oleh Syeh Satuk Kahfi.

San 'Ali Anshar, adalah santri generasi kedua dari Pesantren Giri Amparan Jati. Pada generasi pertama, tercatat nama Pangeran Walang Sungsang dan Dewi Rara Santang. Keduanya adalah putra-putri Prabhu Silihwangi, Raja Pajajaran. Dan Pangeran Walang Sungsang, lantas bergelar Pangeran Cakrabhuwana, sedangkan Dewi Rara Santang lantas berganti nama menjadi Syarifah Muda'im. Syarifah Muda'im adalah ibu dari Syarif Hidayatullah yang kelak terkenal dengan nama Sunan Gunungjati.

Menginjak dewasa, San 'Ali Anshar setelah merasa cukup menimba ilmu agama dari Syeh Datuk Kahfi, dia lantas memutuskan untuk menuju pedalaman Pajajaran. San 'Ali Anshar merasa bahwa apa yang dicarinya selama

Di Pajajaran, San 'Ali Anshar berhasil berguru kepada seorang Yogi Hindhu. Dari Sang Yogi, San 'Ali Anshar mendapatkan pelajaran Yoga yang bersumber dari Rontal Catur Viphala, sebuah sistem Yoga yang juga dipelajari oleh Prabhu Kertawijaya ( pengganti Ratu Suhita ) Raja Majapahit.

San 'Ali Anshar, mampu dengan cemerlang menguasai empat tahapan sistem Yoga Catur Viphala. Empat tahap yang disebut Nis-Prha, Nir-Hana, Nis-Kala dan Nir- Asraya.

Dalam tahap Nis- Prha, seorang Sadhaka ( pengembara spiritual ) diharapkan sudah mampu melampaui segala macam keinginan duniawinya. Duniawi sudah tidak menarik minatnya lagi. Kehendak 'aku'-nya hanya terarah pada 'Sang Atma' atau 'Aku- Semesta'. Seluruh Panca Indrya ( Lima Indra penghubung dengan dunia Maya ) dan Panca Karmendrya ( Lima Indera penggerak badan kasar ), sudah mampu ditundukkan. Demikian juga dengan Manah ( Pikiran ), Citta ( Ingatan ), Ahamkara ( Keakuan ) dan Buddhi ( Kesadaran terbatas ), sudah sangat tenang. San 'Ali Anshar, menyebut kondisi ini dengan satu kata : Heneng ( Tenang )

Dalam tahap Nir-Hana, seorang sadhaka diharapkan sudah mampu menyadari sebenar-benarnya, bahwa diri-Nya adalah bagian dari Kesadaran Murni Semesta. Telah benar-benar menyadari bahwa diri-Nya adalah Atma. Diri-Nya bukanlah Badan Kasar atau Sthula Sariira yang terlihat ini. Diri-Nya bukanlah Badan Halus atau Suksma Sariira yang terdiri dari Manah, Citta, Ahamkara, Buddhi dan kesepuluh Indra ini. Diri-Nya tak lain adalah percikan Brahman, sebuah Kesadaran Total Murni Yang Absolut Transendental. San 'Ali Anshar, menyebut kondisi ini dengan satu kata : Hening ( Jernih ).

Dalam tahap Nis- Kala, seorang sadhana sudah mampu melampaui Badan Kasar dan Badan Halusnya. Seorang sadhana sudah menyadari betul, bahwa Badan Kasar dan Badan Halus hanyalah produk Maya, Produk Alam, yang tidak kekal dan bakalan musnah. Sandahan benar-benar menyadari hanya Atma-lah yang kekal, karena Atma tidak diciptakan. Atma adalah percikan Brahman. Sang Sadhana sudah melihat kebenaran ini Dia sudah mampu melihat apa itu Atma, apa itu Brahman. Sang Sadhana sudah bisa melihat bahwasanya Atman dan Brahman adalah Satu. San 'Ali Anshar, menyebut kondisi ini dengan satu kata : Hunong ( Melihat ).

Dalam tahap Nir- Asraya, Sang Sadhana sudah mampu melebur 'aku'-nya. Sudah mampu memecahkan belenggu 'Aku'-Nya Sudah melampaui Mindnya. Dan Atma sang Sadhana yang ternyata adalag Satu Kesatuan Tunggal dengan Brahman, kini telah menikmati kondisi penyatuan ini, penyatuan yang telah lama Ia lupakan. Menikmati Ketunggalan yang telah lama tak disadarinya akibat pengaruh Maya, pengaruh Mind. Pengaruh 'aku' kecilnya sendiri. Sang Sadhana telah lebur kedalam Kebahagiaan Sejati Yang Tiada Akhir. San 'Ali Anshar, menyebut kondisi ini dengan satu kata ; Menang ( Kemenangan ).

Di Pajajaran, melalui bimbingan seorang Yogi Hindhu, San 'Ali Anshar, mencapai 'Puncak Kesadaran'. Dan dari Pajajaran inilah, San 'Ali Anshar menyadari bahwa seluruh alam ini, sesungguhnya adalah Satu Kesatuan. Terlihat berbeda karena setiap makhluk masih terliputi kesadaran Badan Halus. Sehingga muncul 'aku' kecil. Begitu 'aku' kecil muncul, maka setiap makhluk merasa terpisah sebagai pribadi-pribadi tersendiri. Begitu pengaruh Maya ini berhasil disingkapkan, maka semua yang terlihat hanyalah Brahman semata. San 'Ali Anshar bersujud syukur, karena melalui seorang Yogi Hindhu, dia bisa menyadari semua ini. Bahkan akhirnya, dia juga bisa memahami apa yang pernah diucapkan oleh seorang Sufi terkenal, yaitu Abu Yazid al-Busthami, manakala beliu pernah berkata kepada seseorang yang tengah mencarinya. Seseorang yang tengah mengetuk pintu rumahnya. Beliau bertanya : Siapa ?.Yang mengetuk menjawab : Aku, mencari Abu Yazid. Beliau lantas menjawab : Pergilah. Yang ada dirumah ini hanya Allah!.

Setelah berhasil memperoleh Kesadaran Purna dari Pajajaran, hasrat San 'Ali Anshar untuk melakukan pengembaraan, tak terbendung lagi. Dia bertolak ke Palembang. Menemui Arya Damar. Disana San 'Ali Anshar memperdalam lagi puncak spiritualitas yang sesungguhnya telah ia dapatkan.

Arya Damar adalah bangsawan Palembang. Dia adalah putra Prabhu Wikramawardhana, Raja Majapahit yang memerintah pada tahun 1389-1429 Masehi dengan seorang putri China. Nama China Arya Damar adalah Swan Liong. Dia adalah peranakan Jawa-China. Sempat belajar agama kepada Syeh Ibrahim As-Samarqand atau yang di Jawa terkenal dengan nama Syeh Ibrahim Smorokondi. Syeh Ibrahim As-Samarqand inilah ayah kandung Sunan Ampel. Arya Damar inilah ayah tiri Raden Patah. ( Baca catatan saya : Misi Peng-Islam-an Nusantara : Damar Shashangka ).

Di Palembang, San 'Ali Anshar bersama Arya Damar membuktikan bahwa seluruh semesta ini sejatinya adalah satu kesatuan tunggal. Sehabis dari Palembang, San 'Ali Anshar melanjutkan pengembaraannya ke Kesultanan Malaka ( +/- 1450 M ). Di Malaka, San 'Ali Anshar dikenal dengan nama Syeh Jabaranta, Bahkan, akibat pertemuannya dengan Syeh Datuk Ahmad, yaitu kakak kandung Syeh Datuk Sholeh, ayahnya, San 'Ali Anshar, diberi nama baru, yaitu Syeh Abdul Jalil.

Rasa ingin mengenal semesta raya yang semakin meletup-letup didada San 'Ali Anshar yang kini dikenal dengan nama Syeh Abdul Jalil, membuatnya memutuskan untuk melanjutkan pengembaraan ke Baghdad, Irak. Bersama seorang ulama Sufi asal Baghdad yang menetap di Malaka, bernama Syeh Ahmad Al-Mubasyarah Al- Tawwalud, Syeh Abdul Jalil, berangkat ke Baghdad.

Di Baghdad, Syeh Abdul Jalil semakin intensif mempelajari spiritualitas. Apalagi disana, dikediaman Al-Tawwalud, banyak naskah-naskah Sufistik yang tersimpan. Seluruh kitab Sufistik mulai dari Ihya' Ulumuddin-nya Al-Ghazali, Fushushul Hikam-nya Ibnu 'Araby, karya-karya Abu Yazid Al-Busthami bahkan At-Thawasun-nya Al-Hallaj, yang terkenal dengan ucapannya 'Anna Al-Khaq' ( Aku-lah Kebenaran Sejati ) dan yang hidupnya berakhir targis ditiang eksekusi mati, semuanya berhasil dipelajari oleh Syeh Abdul Jalil. Termasuk pula kitab Haqiqatul Haqoiq, Insan Kamil dan Manazilul Alahiyyah-nya Al-Jilli, semuanya berhasil dipahaminya.

Setelah dirasa cukup, Syeh Abdul Jalil meneruskan pengembaraannya ke Makkah. Setelah mengunjungi Makkah, Syeh Abdul Jalil bertolak pulang ke Jawa.

Syeh Abdul Jalil tiba kembali dipulau Jawa pada tahun 1463 Masehi. Caruban Larang, kini telah berubah menjadi daerah otonom. Pangeran Walang Sungsang kini menjawab sebagai Penguasa tunggal wilayah Caruban Larang dan bergelar Pangeran Cakrabhuwana, serta bergelar Shrii Manggana. Gelar terakhir adalah gelar pemberian dari ayahandanya Prabhu Silih Wangi.

Syeh Datuk Kahfi, masih dianugerahi usia panjang.

Kedatangan Syeh Abdul Jalil ini diketahui oleh Dewan Wali Sangha, yaitu semacam Majelis Ulama Jawa yang berpusat di Ampeldhenta, Surabaya. Majelis Ulama Jawa ini berdiri pada tahun 1454 dibawah pimpinan Raden 'Ali Rahmad atau lebih dikenal dengan nama Sunan Ampel. ( Baca catatan saya : Misi Peng-Islam-an Nusantara : Damar Shashangka ).

Selama beberapa tahun meninggalkan Jawa, telah banyak sekali perubahan yang terjadi. Syeh Abdul Jalil melihat umat Islam sekarang terkesan lebih militan, jauh berbeda dengan kesan sebelum beliau meninggalkan Jawa.

Karena di Jawa bagian barat kepemimpinan Islam belum ada yang memegang, atas usul Sunan Benang, Syeh Abdul Jalil diangkat sebagai wakil Dewan Wali di sana. Syeh Abdul Jalil, yang setibanya di Caruban mendapat gelar baru Syeh Lemah Abang atau Syeh Siti Jenar, menerima tawaran itu.

Namun melihat dominasi Dewan Wali Sangha yang semakin hari semakin tidak mencerminkan Islam yang sesungguhnya, membuat Syeh Siti Jenar harus berkali-kali melayangkan protesnya kepada Sunan Ampel. Syeh Siti Jenar tidak menyetujui gerakan-gerakan lasykar Islam yang kian hari kian radikal. Harmonisasi terganggu. Toleransi terkoyak. Etika kemanusiaan tercampak. Dan ujung-ujungnya Islam menjadi kambing hitam.

Pada puncaknya, Syeh Siti Jenar menyatakan keluar dari Dewan Wali Sangha. Bagi beliau, spiritualitas Islam yang universal, menjadi terasa sempit terhimpit dinding-dinding kelembagaan Dewan Wali. Dan, Syeh Siti Jenar tidaklah sendiri, seorang anggota Dewan Wali, yang sangat disegani diwilayah Majapahit, yaitu Sunan Kalijaga, mempunyai pandangan yang sama dengan beliau. Maka, dimata Dewan Wali, kedua tokoh ini telah menjadi dua sosok figur 'pemberontak'.

Seorang santri senior Sunan Ampel, yang bernama Sunan Giri, menamakan kelompok Syeh Siti Jenar dan Sunan Kalijaga, sebagai kelompok Abangan, semacam kelompok bid'ah. Kelompok yang tidak mengamalkan ajaran Islam secara keseluruhan, sepotong-sepotong. Dan, situasipun memanas. Ummat Islam Jawa terpecah menjadi dua kelompok besar. Mereka yang berpandangan bahwasanya umat beragama lain berhak berdampingan secara sejajar dengan umat Islam, saling asah, asih dan asuh, saling memberi, saling mengisi, dikelompokkan oleh Sunan Giri sebagai pengikut Abangan. Sedangkan kelompok yang berpandangan bahwa Islam adalah kebenaran tunggal, tidak ada lagi agama yang benar kecuali Islam, tidak ada lagi toleransi bagi mereka yang bukan Islam kecuali ada perjanjian tertulis dan selayaknya ajaran Islam yang berhak mendominasi segala aspek kehidupan manusia, dikelompokkan sebagai kaum Putihan.

Pada tahun 1475 Masehi, Syarif Hidayatullah, keponakan Pangeran Cakrabhuwana, beserta ibunya Syarifah Muda'im, datang ke Cirebon dari Mesir. Mengingat kedudukan kepemimpinan Islam di Jawa bagian barat tengah kosong, maka Dewan Wali Sangha meminta Syarif Hidayatullah bersedia mengisi kekosongan itu. Syarif Hidayatullah lantas terkenal dengan nama Sunan Gunungjati.

Menjelang awal tahun 1478, Sunan Ampel wafat. Kepemimpinan Dewan Wali Sangha beralih ketangan Sunan Giri. Melihat perubahan yang tak terduga ini, mau tak mau posisi abangan sangat terjepit.

Dan manakala mendengar Pesantren Krendhasawa yang diasuh oleh Syeh Siti Jenar mengalami kemajuan sedemikian pesat, dimana materi pengajaran yang diajarkan ternyata sangat-sangat lunak bagi akidah Islam, begitu menurut Sunan Giri, bahkan tassawuf adalah materi utama yang diajarkan disana melebihi ilmu-ilmu yang lain, maka Sunan Giri, yang merasa sebagai Wali Mukmin, Pemimpin Dewan Wali, meminta Syeh Siti Jenar untuk menghadap ke Giri.

Dewan Wali Sangha yang mendapati bahwa Syeh Siti Jenar benar-benar sudah diluar kontrol, diam-diam memutuskan untuk menyingkirkan beliau.

Pada tahun 1478, Demak Bintara mengadakan perebutan kekuasaan. Majapahit berhasil dihancurkan ( Baca catatan saya ; Misi Peng-Islam-an Nusantara : Damar Shashangka ). Perebutan kekuasaan yang berakhir sukses gemilang ini membuat orang-orang Islam golongan Putihan merasa bangga. Kala itu, mereka yakin, Tuhan telah merestui perjuangan mereka. Andai saja mereka tahu, seandainya Majapahit tetap berdiri kokoh, kelak Belanda tidak akan mampu menguasai Nusantara secara keseluruhan. Sebab dengan dihancurkannya Majapahit, maka integrasi wilayah-wilayah diluar pulau Jawa yang selama ini mampu disatukan dalam panji kebesaran Majapahit, akan sangat sulit dilakukan oleh Demak Bintara, mengingat Demak Bintara memiliki kebijakan politik yang sangat kaku.

Begitu juga, hubungan perdagangan dengan bangsa Eropa, pasti tidak akan bisa berjalan lancar selancar disaat Majapahit masih berkuasa. Bangsa Eropa dan dunia Islam, semenjak Perang Salib, telah memiliki dendam sejarah yang teramat dalam. Mau tidak mau, untuk memperlancar kembali pasokan rempah-rempah dari Nusantara yang kini didominasi kekuatan Islam, maka politik konfrontasi akan dikedepankan oleh bangsa-bangsa Eropa.

Secara tidak sadar, ummat Islam Putihan telah mengundang konflik lebih besar bagi Nusantara. Mengundang keterpurukan Nusantara dalam jangka waktu yang cukup lama.

Namun dikala itu, disaat mereka telah berhasil menghancurkan Majapahit, mereka benar-benar optimis, benar-benar yakin, bahwa dengan tegaknya Kesultanan Demak Bintara, maka Nusantara akan diberkahi kemakmuran oleh Tuhan.

Pada kenyataannya, sejak masa itu, Nusantara terus tenggelam kedasar jurang keterbelakangan dan kemiskinan. Mana janji Tuhan ? Seandainya Majapahit tetap berdiri, maka dapat dipastikan, Nusantara akan tetap tegak sejajar dengan China!

Kubu Abangan tidak ikut campur sama sekali dengan urusan perebutan kekuasaan ini. Namun, begitu kaum Putihan memenangkan pertarungan, maka bukan saja komunitas Hindhu-Buddha, kubu Abangan-pun ikut tersudut. Dan pada puncaknya, mereka lama-lama tidak betah juga terus-terusan disudutkan, dihakimi, diajari, dinasehati bahkan diintimidasi. Banyak para pengikut Abangan yang kemudian menjauhi pusat-pusat perkotaan. Menyingkir ke pedesaan. Membentuk kelompok-kelompok kecil, terpisah-pisah dan terkucil. Dan pada perkembangan selanjutnya, sebagian dari mereka ini menyebut dirinya sebagai penganut aliran Kejawen.

(Bersambung).


LIST OF COMMENTS

1/2. Ms
Written by Guest - Thursday, December 10 2009


"Pada kenyataannya, sejak masa itu, Nusantara terus tenggelam kedasar jurang keterbelakangan dan kemiskinan. Mana janji Tuhan ? Seandainya Majapahit tetap berdiri, maka dapat dipastikan, Nusantara akan tetap tegak sejajar dengan China!" comment: siapa yg bisa menjamin bahwa Majapahit akan sejajar dengan China kalau tidak ada gerakan para sunan?, sejarah Imperium China sendiri dimulai nyaris 300 tahun sebelum Masehi dan terus berkembang dari masa ke masa, sepertinya penulis harus membaca lebih banyak lagi dan mengutip nara sumber yg aktual selain dirinya sendiri.

2/2. Giss
Written by Guest - Saturday, January 16 2010


"siapa yg bisa menjamin bahwa Majapahit akan sejajar dengan China kalau tidak ada gerakan para sunan?, sejarah Imperium China sendiri dimulai nyaris 300 tahun sebelum Masehi dan terus berkembang dari masa ke masa, sepertinya penulis harus membaca lebih banyak lagi dan mengutip nara sumber yg aktual selain dirinya sendiri" rasanya penjelasan diatas sudah sangat logis.... saat suatu bangsa bersatu, maka makin sulit untuk digoyahkan...persatuan salah satunya diperoleh dengan adanya sikap toleran terhadap agama/kepercayaan orang lain. yang berarti persatuan tentu tidak dapat dilakukan jika salah satu golongan/kepercayaan menganggap bahwa mereka lebih diatas daripada yang lain (mengganggap orang lain sampah) .....

Rabu, 07 Juli 2010

Bagian 3 : Sekelumit Kisah Sunan Kajenar atau Syeh Siti Jenar


Ucapan Syeh Siti Jenar sangat besar dampaknya bagi image beliau. Kubu PUTIHAN semakin getol menghakimi kubu ABANGAN.

Sesungguhnya memang apa yang diucapkan beliau, terlalu tinggi untuk didengar oleh mereka-mereka yang baru saja mengenal spiritualitas. Namun, pada hakikatnya, memang benarlah apa yang beliau ucapkan.

Siapakah DIA YANG TAK TERBAYANGKAN itu? Siapakah RUH manusia itu? Sesungguhnya tiada beda. Ibarat udara yang terkurung dalam sebuah karet sintetis mainan anak-anak yang biasa disebut Balon, dengan udara bebas yang ada ditempat terbuka. Apakah kita bisa membedakannya? Sebuah karet sintetis yang bernama Balon, ibarat Suksma Sariira ( Badan Halus) dan Sthula Sariira (Badan Kasar) manusia. Dan udara yang terkurung didalamnya ibarat Atma Sariira ( Ruh ). Dan udara yang ada ditempat terbuka adalah Brahman itu sendiri.

Suksma Sariira dan Sthula Sariira, keduanya adalah produk Prakrti, produk Alam, yang muncul karena diadakan, karena diciptakan. Dan sesuatu yang diadakan, diciptakan dari ketiadaan, pasti akan memiliki limitasi, memiliki batas kegunaan. Dan pada saatnya, pasti akan berakhir. Oleh karenanya, kedua produk ini disebut produk Maya, produk khayalan, produk fana.

Sedangkan Atma Sariira (Ruh), tidak diciptakan. Tidak diadakan. Dari dulu ada, sekarang dan sampai selamanya. Atma Sariira adalah bagian yang tak terpisahkan dari Brahman. Apabila Atma Sariira masih terbelenggu oleh Suksma Sariira dan Sthula Sariira, tampaklah ia sebagai MANUSHA. Namun, apabila Atma Sariira ( Ruh ) telah lepas dari belenggu Suksma Sariira dan Sthula Sariira, maka apakah bisa dibedakan lagi mana Atman mana Brahman? Keduanya sudah MENYATU LAGI. Sudah MANUNGGAL lagi. Inilah MANUNGGALING KAWULA GUSTI!.

Setiap kali Syeh Siti Jenar berdzikir dgn sendirinya beliau menangkap suara dzikir yg berbunyi lain. Subhani, Alhamdu li, La ilaha illa ana wa ana al-akbar, fa’budni (Maha Suci Aku, segala puji untuk- Ku, tiada Tuhan selain Aku, Maha besar Aku, sembahlah Aku). Walaupun telinga beliau mendengarkan orang di sekitarnya membaca dzikir Subhana Allah, Al-hamduli Allahi, La ilaha illa Allah, Allahu Akbar, fa’buduhu, namun suara yg di dengar sebaliknya, sebagai esensi bunyi hadist : "Man ‘arafa Nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu" ( Siapa yang mengenal Diri Sejatinya, sungguh dia telah tahu siapa Tuhannya). Dan Syekh Siti Jenar semakin memahami makna hadist Nabi Muhammad yang berbunyi : “Al-Insan sirri wa Ana sirruhu” (Manusia adalah Rahasia-Ku dan Aku adalah rahasianya).

Apabila sudah mencapai puncak spiritualitas seperti ini, apabila sudah mencapai maqam (tingkat) Tajjali ( Allah terlihat nyata) seperti ini. Maka, bisakah kita membedakan mana Jesus mana Bapa? Bisakah kita membedakan mana Siddharta Gautara mana Buddha? Bisakah kita membedakan mana Krishna mana Bhagavan? Bisakah kita membedakan mana Syeh Siti Jenar mana...................................Mengapa kita bertengkar? Mengapa kita saling merasa paling benar? Dan yang merasa paling benar adalah mereka yang baru mempelajari kulit Islam, kulit Hindhu, kulit Buddha dan kulit Kristen. Mereka belum menemukan 'Puncak Kesadaran' yang seharusnya mereka cari. Yang menjadi tujuan pengajaran Krishna, Buddha, Jesus dan Muhammad. Mereka mengajarkan semua manusia untuk itu, bukan mengajarkan kulit luar yang berbeda-beda. Kulit luar hanya sekedar metode. Kulit luar hanya sebuah alat, sebuah sarana, untuk mencapai tujuan ini! Sadarlah!

Maka, bila Syeh Siti Jenar yang telah mampu melampaui belenggu Suksma Sariira ( Nafs ) dan Sthula Sariira ( Jasad ), walaupun nampaknya Atma ( Ruh ) beliau masih terkurung oleh kedua produk fana, produk Maya ini, namun sesungguhnya Ruh beliau telah MENYATU lagi dengan Maha Ruh, yang dulu pernah meniupkan Ruh itu kedalam Nafs dan Jasad! Dalam Nafs atau Suksma Sariira beliau, hanya tersisa Nafs Muthmainnah ( Badan halus yang tenang ) atau Guna Sattva ( Watak suksma sariira yang stabil). Mengapa kita jadi terkecoh hanya karena beda istilah? Dari metode Islam, disebut Nafs Muthmainnah. Dari metode Hindhu disebut Guna Sattva. Apanya yang beda? Kecuali kalimatnya semata. Kecuali kulit luar yang berupa kata-kata semata. Sedangkan esensinya, SAMA! Maka, inilah yang saya maksud JANGAN TERJEBAK METODE! JANGAN DIPERBUDAK METODE! KARENA JIKA ANDA TERJEBAK! ANDA AKAN TERSESAT!

Kisah Syeh Siti Jenar-pun, berlanjut seperti dibawah ini :
Asmaradana.




Syeh Lemah Bang nayogyani
Prapta ing ari Jumungah,
Nuju Ramadlan wulane,
Marengi tanggal ping lima,
Kumpule Pra Auliya',
Anedheng kalaning dalu,
Ngrakit papan kang prayoga.

Sakehing Para Wali,
Samya paguneman Rahsa,
Ing Giri Gajah enggone,
Akarsa musyawaratan,
Ing bab masalah tekad,
Den waspada ing Hyang Agung,
Wajib sami nyatakena.

Kang samya angulah ilmu,
Lamun bijaksaneng driya,
Dadi wijang sayektine,
Tan beda lan puruhita,
Mungguh Rahsaning rasa,
Pralambanging pasang semu,
Tan liyan saking punika.

Nadyan akeh kang wewisik,
Wosing wasana wus ana,
Mung kari met pratikele,
Ing sawurira pepekan,
Kangjeng Sinuhun Benang,
Ingkang miwiti karuhun,
Lan Sunan Kalijaga.

Sunan Cirebon lan kang rayi,
Padha nerang Syeh Lemah Bang,
Lan Sunan Majagung-e,
Suhunan Ing Banten,
Lawan Suhunan Giri Gajah,
Samya agunem ing ilmu,
Jenenge masalah tekad.

Jeng Sinuhun Ratu Giri,
Amiwiti angandika,
He sanak manira kabeh,
Pratingkahe wong makripat,
Aja dadi parbutan,
Dipun sami ilmunipun,
Padha peling pinelingan.

Wong wewolu dadi siji,
Aja na kang kumalamar,
Dipun rujuk ing karepe,
Den waspada ing Pangeran,
Nenggih Sinuhun Benang,
Ingkang miwiti karuhun,
Amedhar ing pangawikan.

Ing karsa manira iki,
Iman tokid lan makripat,
Weruh ing kasampurnane,
Lamun masiha makripat,
Mapan durung sampurna,
Dadi batal kawruhipun,
Pan maksih rasa rumasa.

Sinuhun Benang ngukuhi,
Sampurnane wong makripat,
Suwung ilang paningale,
Tan ana kang katingalan,
Iya jenenging tingal,
Manteb Pangeran Kang Agung,
Kang anembah kang sinembah.

Pan karsa manira iki,
Sampurnane ing Pangeran,
Kalimputan salawase,
Tan ana ing solahira,
Pan ora darbe seja,
Wuta tuli bisu suwung,
Solah tingkah saking Allah.

Sinuhun Benang anuli,
Ngandikani Wali samya,
Heh sanak manira kabeh,
Punika kekasih alam,
Yen mungguh ing manira,
Jenenge Roh semunipun,
Ing Roh-e Nabi Muhammad.

Ora beda ing Roh iki,
Yen sedya mutabangatan,
Tan beda ing panunggale,
Kadya paran karsandika,
Matur Wali sadaya,
Boten sanes kang winuwus,
Sampun atut sabda Tuwan.

Pundi kang ingaran Nabi,
Jenenge Roh ing semunya,
Mapan iku kekasihe,
Sadurunge jagad dadi,
Mapan jinaten tunggal,
Den dadekaken karuhun,
Kang minangka kanyatahan.

Sinuhun Majagung nenggih,
Amedhar ing pangawikan,
Ing karsa manira dene,
Iman Tokid lan Makripat,
Tan kocap ing akherat,
Mung padha samengko wujud,
Ing akherat ora ana.

Nyatane Kawula Gusti,
Iya kang muji kang nembah,
A0pan mangkono lakone,
Ing akherat ora ana,
Yen tan anaa Iman,
Tan weruh Jatining Ilmu,
Ora cukup dadi janma.

Jeng Sunan Ing Gunungjati,
Amedhar ing pangawikan,
Jenenge Makripat mengko,
Awase marang Pangeran,
Tan ana ingkang liyan,
Tan ana roro telu,
Allah pan amung kang Tunggal.

Jeng Sunan Kalijaga ngling,
Amedhar ing pangawikan,
Den waspada ing mengko,
Sampun ngangge kumalamar,
Den awas ing Pangeran,
Dadya paran awasipun,
Pangeran pan Ora Rupa.

Ora Arah Ora Warni,
Tan Ana ing Wujudira,
Tanpa Mangsa Tanpa Enggon,
Sejatine Ora Ana,
Lamun Ora Ana-a,
Dadi jagadipun suwung,
Ora Ana Wujudira.

Syeh Benthong samya melingi,
Amedhar ing tekadira,
Kang aran Allah Jatine,
Tan ana liyan Kawula,
Kang dadi kanyatahan,
Nyata ing Kawulanipun,
Kang minangka Katunggalan.

Kangjeng Molana Maghribi,
Amedhar ing pangawikan,
Kang aran Allah Jatine,
Wajibul Wujud kang ana,
Syeh Lemah Bang ngandika,
Aja-na kakehan semu,
IYA INGSUN IKI ALLAH.

NYATA INGSUN KANG SEJATI,
JEJULUK PRABHU SADMATA,
TAN ANA LIYAN JATINE,
INGKANG BANGSA ALLAH,
Molana Maghribi mojar,
Iku jisim aranipun,
Syeh Lemah Bang ngandika.

Kawula amedhar ilmi,
Angraosi Katunggalan,
Dede jisim sadangune,
Mapan jisim ora ana,
Dene kang kawicara,
Mapan Sejatining Ilmu,
Amiyak warana.

Lan malih sadaya ilmi,
Sampun wonten kumalamar,
Yekti tan ana bedane,
Salingsingan punapaa,
Dening sedya kawula,
Ngukuhi jenenging ilmu,
Sakabehe iku padha.

Kangjeng Syeh Maulana Maghribi,
Sarwi mesem angandika,
Inggih leres ing semune,
Puniku dede wicara,
Lamun ta kapyarsa-a,
Dening wong akathah saru,
Punika dede rerasan.

Tuwan ucapna pribadi,
Aja-na wong amiyarsa,
Anuksma ing lathi dhewe,
Puniku ujar kekeran,
Yen kena-a Tuwan,
Amalangi jenengipun,
Bok sampun kadi mangkana.

Nenggih Jeng Sunan Giri,
Amedhar ing pangawikan,
Pasthine Allah Jatine,
Jejuluk Prabhu Sadmata,
Sampun wancak wicara,
Tan ana pepadhanipun,
Anging Allah Ingkang Tunggal.

Ya ta sakathahing Wali,
Angestokaken sadaya,
Mapan sami ing kawruhe,
Amung sira Syeh Lemah Bang,
Tan kena pinalangan,
Cinegah Wali sadarum,
Tan owah ing tekade.

Angandika Syeh Siti Brit,
Pan sampun ujar manira,
Dennya nututi kepriye,
Dhasare ingkang amedhar,
Pamejange maring wang,
Puniku wuruking Guru,
Datan kenging ingowahan.

Ameksa tan kena gingsir,
Sinuwalan ing ngakathah,
Tan kena owah tekade,
Sampun ujar linakonan,
Pan wus jangjining Suksma,
Sunan Cirebon ngandika rum,
Sampun ta Tuwan mangkana.

Punika ujaring jangji,
Yekti binunuh ing kathah,
Nenggih sampun ing khususe,
Wong ingkang ngaku Allah,
Ngandika Syeh Lemah Bang,
Lah mara Tuwan den gupuh,
Sampun ngangge kalorehan.

Dhasar kawula labuhi,
Ngulati pati punapa,
Pan pati iku parenge,
Sarenge sih kawimbuhan,
Pan tansah kawisesa,
Kang teka jatining suwung,
Ana Kadim ana anyar.

Ngulati punapa malih,
Ora ana liyan-liyan,
Apan apes salawase,
Anging Allah Ingkang Tunggal,
Ya jisim iya Allah,
Taukhid tegese puniku,
Apan Tunggal Kajatennya.

Sakathahe Para Wali,
Pra samya mesem sadaya,
Miyarsa pamuwuse,
Kukuh tan kena ingampah,
Saya banjur micara,
Amiyak warananipun,
Ora ngangge sita-sita.

Angaku jeneng pribadi,
Andadra dadi rubeda,
Ngreribedi wekasane,
Nerang anerak syara',
Rembuge andaliga,
Mawali Pra Wali Wolu,
Winalon kurang walaka.

Lajeng abubaran sami,
Kang Para Wali sadaya,
Kondur ing padalemane,
Mung Jeng Sunan Giri Gajah,
Kang kawogan anglunas,
Kang murang syara'-ing ngelmu,
Mumpung durung ngantos lama.

Jeng Sunan Giri nyagahi,
Ing sirnane Syeh Lemah Bang,
Yen sampun prapteng masane,
Adege Nata ing Demak,
Bedhahing Majalengka,
Sadaya samya jumurung,
Lajeng samya sasowangan.



Terjemahan :



Syeh Lemah Bang menepati janji,
Datang pada hari Jum'at,
Tepat pada bulan Ramadlan,
Bersamaan dengan tanggal lima,
Kumpulnya Para Auliya',
Pada waktu malam hari,
Telah disiapkan tempat yang sepatutnya.

Seluruh Para Wali,
Hendak membahas masalah Ilmu Rahsa (Ilmu Sejati).
Di Giri Gajah tempatnya,
Bermusyawarah,
Tentang pencapaian masing-masing,
Akan kebenaran Hyang Agung ( Maha Agung ),
Untuk saling dinyatakan kepada semua yang hadir.

Mereka yang tengah mendalami Ilmu (Sejati),
Apabila tajam kesadarannya,
Akan terang pemahamannya,
Begitulah orang yang berguru mendalami Ilmu (Sejati),
Menyibak pusat rasanya rasa,
Menguliti segala perlambang dan simbolisme,
Hanya dengan demikian intisari (esensi)nya bisa didapatkan.

Walaupun banyak wejangan ( berbagai metode dan konsep),
Intisari (esensi)-nya pasti sama,
Tinggal bagaimana kesadaran kita mampu menangkapnya,
Setelah genap semua yang hadir,
Kangjeng Sinuhun Benang,
Yang memulai,
Lantas Sinuhun Kalijaga.

Kemudian Sunan Cirebon (Sunan Gunungjati) dan adik beliau,
Tengah membicarakan cara menghadapi Syeh Lemah Bang,
Juga Sunan Majagung,
Sinuhun Banten,
Dipimpin oleh Sunan Giri Gajah,
Hendak membahas Ilmu (Sejati),
Mengungkapkan pencapaian masing-masing.

Jeng Sinuhun Ratu Giri,
Memulai pembicaraan,
Hai saudaraku semuanya,
Etika manusia yang telah mencapai Ma'rifat ( Pencapaian spiritual tertinggi ),
Tidak pantas jika saling berebut benar,
Maka dari itu mari satukan pendapat,
Dan saling ingat mengingatkan.

Semua Wali harus menyatu,
Jangan berbantahan sendiri-sendiri,
Satukan pendapat kita,
Tentang kebenaran Tuhan (yang telah kita capai masing-masing),
Lantas Sinuhun Benang,
Memulai pertama kali,
Menyampaikan pencapaian spiritual beliau.

Menurut pendapatku,
Tingkatan Iman ( Keyakinan ), Taukhid ( Ke-Esa-an), dan Ma'rifat ( Melihat Kebenaran Sejati ),
Masih harus ditambah lagi satu tingkatan yaitu MENYADARI KESEMPURNAAN SEJATI,
Apabila masih dalam tingkat Ma'rifat,
Belumlah sempurna,
Karena masih sekedar 'MELIHAT', belum 'MENYADARI'.
Sehingga masih mengira-ngira.

Sinuhun Benang meyakini benar,
Kesempurnaan Ma'rifat,
Kosong Hilang Penglihatan makhluk,
Tiada lagi yang terlihat,
Karena keadaan sang pelihat,
Hanya 'MELIHAT' PANGERAN KANG AGUNG (TUHAN YANG AGUNG),
(Tiada lagi terlihat lain, kecuali hanya) Yang Menyembah dan Yang Disembah.

Jelasnya maksudku (Sunan Benang) ini,
Kesempurnaan Sejati,
Adalah terliputi selamanya ( oleh Dzat-Nya ),
Tiada lagi gerak (makhluk),
Tiada lagi kehendak (makhluk),
Buta tuli bisu kosong (kemakhlukan kita),
Dan segala gerak dan kehendak hanya dari Allah.

Lantas Sinuhun Benang,
Menanyakan kepada Para Wali,
Wahai saudaraku semua,
Inilah Kekasih Semesta,
Yang ada didalam diri kita semua,
Yaitu Ruh kita ini,
Dan nama Ruh kita sebenarnya adalah Muhammad ( Yang Terpuji).

Tiada beda semua Ruh itu,
Apabila diperbandingkan,
Tak ada beda satu sama lainnya,
Bagaimanakah pendapat saudaraku semua?
Menjawab semua Wali,
Sudah benar apa yang anda yakini,
Kami semua sependapat.

Manakah sesunguhnya yang dinamakan Nabi Muhammad,
Sesungguhnya adalah nama dari Ruh,
Itulah Kekasih Allah,
Sebelum semuanya tercipta,
Berada dalam Jinaten Tunggal (Kesejatian Tunggal/ Jadi Satu dengan Allah),
Lantas ditiupkan dahulu,
Sebagai perwujudan Allah. ( Sunan Benang sebenarnya ingin menunjukkan bahwa Ruh manusia dan Allah adalah SATU. Tapi beliau tidak terang-terangan mengatakannya.)

Sinuhun Majagung kemudian,
Menyampaikan pencapaian spiritual beliau,
Menurut pendapatku ( Sunan Majagung ),
Iman ( Keyakinan ), Taukhid ( Ke-Esa-an ) dan Ma'rifat ( Pencapaian tertinggi spiritual),
Tidak ada gunanya di akherat (kata akherat maksud Sunan Majagung adalah PUNCAK SPIRITUAL) nanti,
Hanya dibutuhkan pada saat ini saja ( Termasuk konsep belaka),
Di akherat tidak ada.

Wujud nyata Kawula ( Hamba ) dan Gusti ( Tuhan ) hanya ada didunia ini,
Terlihat memuji dan menyembah,
Padahal sesungguhnya,
Di akherat tidak terlihat Dua ( maksudnya Kawula dan Gusti. Intinya Sunan Majagung hendak berkata Kawula dan Gusti itu SATU, tapi sama seperti Sunan Benang, beliau juga tidak terang-terangan),
Apabila tidak mempunyai Iman ( Keyakinan ) tentang hal ini,
Tidak akan tahu Kesejatian Ilmu,
(Apabila tidak mengetahui Kesejatian Ilmu, maka ) tidak lengkap menjadi manusia.

Jeng Sunan Gunungjati,
Menyampaikan pencapaian spiritual beliau,
Sesungguhnya Ma'rifat itu,
Penglihatannya hanya melihat Tuhan semata,
(Apabila sudah mengetahui Tuhan, maka akan menyadari) Tidak ada yang lain lagi selain Dia,
Tak ada yang kedua dan ketiga ( Sunan Gunungjati sebenarnya juga hendak mengatakan, TIDAK ADA LAGI KAWULA DAN GUSTI JIKA TELAH MENCAPAI MA'RIFAT, YANG ADA CUMA GUSTI. TIDAK ADA LAGI DUALITAS, ATAU TRINITAS LAGI. KAWULA DAN GUSTI ADALAH SATU. Karena KAWULA telah lebur kedalam GUSTI. INILAH TAUKHID. INILAH KE-ESA-AN. Tapi, beliau sama seperti Sunan Benang dan Sunan Majagung, tidak berani mengatakan terang-terangan).
Hanya Allah Yang Maha Tunggal.

Sunan Kalijaga berbicara,
Menyampaikan pencapaian spiritual beliau,
Sadarlah senantiasa,
Jangan sampai tergoyahkan,
Senantiasa Menyadari Adanya Tuhan,
Bagaimana cara menyadari-Nya?
Bukankah Tuhan tidak ber-Wujud?

Tidak ber-Kedudukan disuatu tempat juga Tidak ber-Bentuk,
Tidak ada Wujud-Nya,
Tanpa Ruang dan Waktu,
Sesungguhnya ALLAH TIDAK ADA, (Allah yang personil, yang berpribadi seperti yang dipahami orang awam)
APABILA BEGITU,
Sesungguhnya ALLAH ITULAH KEKOSONGAN ABADI,
DIA TIDAK BERWUJUD. (Sunan Kalijaga tidak mau membicarakan tentang KESATUAN WUJUD (WAJIBUL WUJUD) seperti yang lain. Beliau hanya memberikan gambaran bahwasanya apa yang dinamakan Allah itu adalah KEKOSONGAN ABADI YANG MUTLAK, SUMBER SEGALANYA. Jadi, jika kita MENYATU LAGI DENGAN YANG MUTLAK itu, maka itu dimungkinkan. Sunan Kalijaga, tidak mau membahas tentang MANUNGGALING KAWULA GUSTI. Karena beliau sepaham dengan Syeh Siti Jenar.)

Syeh Benthong lantas berkata,
Menyampaikan pencapaian spiritual beliau,
Yang disebut Allah sesungguhnya,
Tak lain adalah Kawula ( Hamba ) ini juga,
Yang menjadi KENYATAAN WUJUD-NYA,
Benar-benar nyata Ada-Nya terlihat pada Kawula-Nya,
Karena Gusti (Tuhan) dan Kawula (Hamba) adalah Satu. ( Syeh Benthong lebih berani berbicara. Terlihat disini.)

Kangjeng Maulana Maghribi,
Menyampaikan pencapaian spiritual beliau,
Yang disebut Allah sesungguhnya,
WAJIBUL WUJUD (WUJUD YANG HARUS ADA). ( Syeh Maulana Maghribi, tidak mau berbicara dalam. Terlihat disini).
Dan Syeh Lemah Bang kemudian berkata,
Jangan berputar-putar,
IYA INGSUN IKI ALLAH. (IYA AKU INI TUHAN).

Nyatalah AKU yang Sejati,
Bergelar Prabhu Sadmata ( Raja bermata enam. Shiva adalah Avatara Brahman. Jika Shiva bermata tiga, maka Brahman bermata enam. Inilah maksud 'jargon' spiritual waktu itu).
Tidak ada lagi yang lain,
Apa yang disebut Allah itu.
Maulana Maghribi berkata,
Yang anda tunjuk itu adalah jasad,
Syeh Lemah Bang menjawab.

Hamba membuka rahasia Ilmu Sejati,
Membahas tentang Kesatuan Wujud,
Tidak membahas Jasad (yang fana),
Jasad sudah terlampaui,
Yang saya ucapkan adalah Sejati-nya Ilmu,
Membuka Segala Rahasia.

Dan lagi sesungguhnya semua Ilmu,
Tidak ada yang berbeda,
Sungguh tiada beda,
Sedikitpun tidak,
Menurut pendapat hamba,
Meyakini bahwasanya Ilmu itu,
Semuanya sama.

Kangjeng Syeh Maulana Maghribi,
Sambil tersenyum berkata,
Benarlah sesungguhnya apa yang kamu katakan,
Akan tetapi itu bukan bahan pembicaraan,
Apabila sampai terdengar,
Oleh banyak orang sangat tabu,
Hal itu bukan bahan percakapan.

Ucapkanlah sendiri,
Jangan sampai terdengar oleh orang lain,
Cukup terdengar oleh telinga sendiri,
Hal itu adalah Sabda larangan,
Apabila bisa,
Saya menyarankan,
Janganlah seperti itu.

Lantas Jeng Sinuhun Giri,
Menyampaikan pencapaian spiritual beliau,
Sudah pasti Allah itu sesungguhnya,
Bergelar Prabhu Sadmata,
Janganlah semua yang hadir disini sembrono dalam berbicara,
Dia tidak ada bandingannya,
Hanya Allah Yang Maha Tunggal.

Mendengar kata-kata Sunan Giri ( yang turun ketingkat syari'at),
Seluruh Wali terdiam dan menta'ati,
(Sunan Giri berkata kepada Syeh Lemah Bang), Hanya kamu wahai Syeh Lemah Bang,
Tidak bisa dihalangi,
Tidak bisa dicegah oleh semua Wali,
Tetap tak berubah pendapat kamu.

Berkata Syeh Siti Brit,
Sudah menjadi tekad hamba,
Bagaimanapun juga,
Karena semua itu adalah wejangan,
Diwejangkan kepada hamba,
Oleh Guru hamba,
Tidak bisa lagi dirubah.

Dipaksapun tidak bisa surut,
Dibujuk oleh semua Para Wali,
Tak pula berubah tekadnya,
Sudah menjadi ucapan umum,
Dan sudah menjadi hukum syariat,
Demikian Sunan Cirebon ( Sunan Gunungjati) berkata,
Janganlah tuan seperti itu.

Sudah ditentukan,
Hukumnya adalah dibunuh (Qisas),
Khusus bagi mereka,
Yang mengaku Allah,
Berkata Syeh Lemah Bang,
Segeralah laksanakan,
Jangan ditunda-tunda lagi.

Memang sudah saya niati,
Mencari kematian yang bagaimana lagi,
Sebab bersamaan dengan kematian,
AKAN DATANG KASIH-NYA,
YANG MELIPUTI AKU,
DAN KEKOSONGAN YANG SEJATI AKAN DATANG PADAKU.
Tidak perlu disesali sebab diriku ini memang terdiri dari YANG KEKAL (Ruh) dan YANG FANA (Nafs dan Jasad).

Mau mencari apa lagi?
Tidak ada lagi pencapaian yang lebih sempurna (selain hal ini).
Yang fana selamanya pasti akan kembali ke fana,
Yang kekal akan kembali kepada Allah Yang Tunggal,
Dan jasadku yang sesungguhnya adalah Ruh ini, Iya Ruh Iya Allah, Satu.
Taukhid itu namanya,
Satu kesatuan dalam Kesejatian.

Seluruh Para Wali,
Tersenyum semuanya,
Mendengar apa yang diucapan Syeh Siti Jenar,
Kokoh tidak bisa digoyahkan,
Sangat berani,
Membuka segala rahasia,
Dengan tidak segan-segan lagi.

Menyibak Kesejatian Diri-Nya,
Keberaniannya membikin masalah,
Menjungkir balikkan syara' (Hukum),
Kata-katanya sangat berani,
Dicegah oleh semua Wali,
Namun seolah-olah kurang juga yang mencegah beliau.

Lantas hendak bubar,
Para Wali semua,
Untuk pulang ketempat tinggalnya masing-masing,
Dan Sunan Giri Gajah,
Yang berhak memutuskan hukuman,
Bagi yang menjungkir balikkan syara',
Mumpung belum terlalu lama.

Jeng Sunan Giri menyanggupi,
Akan menjatuhkan hukuman mati bagi Syeh Siti Jenar,
Apabila sudah sampai pada waktunya,
Pelantikan Sultan Demak,
Setelah berhasil merebut kekuasaan dari Majalengka ( Majapahit),
Seluruh Wali menyetujui,
Lantas pulang kekediaman masing-masing.

(by : Damar Shashangka )