Semar disebut juga Badranaya

Mengemban sifat among, membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia.

Benih yang baik untuk hasil terbaik

Apabila menginginkan hasil yang baik maka tentulah dipilih bibit yang baik pula, bibit yang unggul, bibit yang sempurna.

Tesing dumadi, asal mula terjadinya Manusia.

Asal mula manusia adalah dari getaran tanaman dan getaran binatang yang kita makan, dan akhirnya berwujud air putih (air suci) dengan sinar cahaya tri tunggal yaitu nurcahya = sinar cahaya allah, nurrasa = sarinya Bapak dan nur buat = sarinya Ibu).

Pancasila..sikap hidup bangsa Indonesia.

Menurut ajaran spiritual Budaya Jawa, Pancasila merupakan bagian dari Wahyu Sapta Warsita Panca Pancataning Mulya (Wahyu tujuh ajaran yang masing-masing berisi lima butir ajaran mencapai kemuliaan, ketentraman, dan kesejahteraan kehidupan alam semesta hingga alam keabadian/akhirat).

Apakah yang kita miliki..?

Ketika mati pun kita tidak akan membawa sepeser pun uang. Masihkah kita merasa sebagai makhluk yang adigang-adigung-adiguno?

Sujud dasawarsa, Sujudnya warga KSD

Sujud secara Kerohanian Sapta Darma adalah tata cara menembah kehadapan Hyang Maha Kuasa.

Kita tidak sendiri

Alam beserta isinya adalah milik kita bersama...mari jaga kerukunan, kebersamaan dalam menjaga kelestarian demi generasi selanjudnya

out of body experience

Peristiwa out of body experience adalah merupakan gambaran awal dari kematian, Adalah merupakan indikasi putusnya hubungan Input sensor dalam tubuh, ketika kondisi manusia dalam konsisi sadar.

Butir-butir budaya jawa

Hanggayuh Kasampurnaning Hurip Berbudi Bawalesana Ngudi Sejatining Becik

Wewarah Tujuh

Merupakan kewajiban yang harus dijalankan Warga SAPTA DARMA dalam kehidupannya.

Sesanti

Sikap dan perilaku hidup dalam masyarakat yang harus diciptakan oleh Warga SAPTA DARMA.

Wejangan

Wejangan Panuntun Agung Sri Gutomo bagi warga SAPTA DARMA dalam mengenali jati diri yang sebenarnya.

Kamis, 17 Juni 2010

NEGARAWAN SEJATI

MANUSIA YANG MERDEKA DARI HEGEMONI LYMBIC SECTION

Otak Kiri Yang Belum Merdeka
Banyak sekali buku-buku yang ditulis. Bahkan berbagai pelatihan dengan beaya mahal dan sangat ekslusif. Dipresentasikan dengan alat-alat canggih dan mengagumkan. Dengan tujuan mengasah Otak Bagian Kanan yang mengolah impuls kelembutan, keindahan, spirit, bahkan disebut sebagai bagian otak di mana terdapat titik God Spot. Seolah-olah dengan cara itu kita dapat mengembangkan peran Otak Bagian Kiri dan dapat keluar dari berbagai persoalan. Kenyataannya tidaklah semudah dan sesederhana itu, Otak Bagian Kanan (OBKa) dan Otak Bagian Kiri (OBKi) sama saja. OBKa bekerja untuk mengolah dan memikirkan data-data non eksakta : metafisis, budaya, moralitas, seni, ide, gagasan, dan kesadaran spiritual. OBKi bekerja untuk hal-hal yang bersifat eksakta. Namun berdasarkan berbagai penelitian di Eropa dan Amerika, pengembangan OBKa dan OBKi sama saja apabila masih terkendali oleh Lymbic. Lymbic merupakan insting dasar hewani. Lymbic dipelajari pada ilmu neurosains kognitif. Lymbic memiliki beberapa sistem fisiologinya. Meliputi amigdala, Sirkuit Papez, dan termasuk pula Accelerated Learning. Amigdala berasal dari bahasa latin amygdalae (bahasa Yunani αμυγδαλή, amygdalē, almond, 'amandel') adalah sekelompok saraf yang berbentuk kacang almond. Pada otak vertebrata terletak pada bagian medial temporal lobe, secara anatomi amigdala dianggap sebagai bagian dari basal ganglia. Amigdala dipercayai merupakan bagian otak yang berperan dalam melakukan pengolahan dan ingatan terhadap reaksi emosi. Sirkuit Papez adalah suatu jalur utama pada sistem limbik di otak besar dan berperan pada korteks otak besar untuk mengontrol emosi. Sirkuit ini pertama kali dipaparkan oleh James Papez pada 1937. Sementara itu Accelerated Learning atau efektifitas belajar dan mengolah impuls dari luar diri, dan setiap informasi yang masuk ke otak kanan dan kiri terlebih dulu melalui sistem lymbic.

Oleh sebab itu, perkembangan Otak Kanan tanpa pembersihan dari polusi lymbic hanya akan menghasilkan benda-benda kebutuhan insting dasar atau hewani, hanya saja dikemas secara lebih indah dan mewah (hedonisme) saja. Perkembangan otak kiri tanpa pembersihan dari polusi lymbic hanya akan menghasilkan pola hidup yang sangat material dan cenderung destruktif. Itulah keadaan hidup manusia yang masih sangat primitif namun terkesan sebagai manusia kesadaran spiritual tinggi, menjadi soleh dan suci.

Manunggaling “Manusia-Hewan”

Bila kita hidup semata-mata untuk memenuhi kebutuhan insting dasar saja, sesungguhnya kita masih menjadi binatang yang berevolusi kesadaran yang sangat lambat alias masih menjadi binatang yang berkedok jasad manusia. Perbedaannya terletak di mana binatang tidak bisa berpura-pura dan mengelabuhi dirinya sendiri (munafik), sebaliknya manusia dengan perangkat mind (otak sadar/pikiran/akal) mampu berpura-pura seolah bukanlah binatang. Kepura-puraan (sikap munafik) ini berkat pendayagunaan OBKa yang diperhalus OBKi, sehingga manusia lebih mampu memoles insting-insting hewani menjadi lebih halus dan samar. Kita lebih pandai mengelabuhi orang lain seolah telah menjadi insan kamil, manusia sejati, dengan kesadaran spiritual ultra tinggi (highest consciousness). Maka banyak kita membaca berita di koran-koran seorang rohaniawan, pemimpin, politisi, penegak hukum, intelektual melakukan pelecehan seksual, korupsi, penggelapan, tindak kriminal lainnya dsb. Inilah wajah manusia apabila OBKa dan OBKi masih dikuasai oleh sang lymbic. Perkembangan diri manusia masih belum holistik, belum menyeluruh. Hewan di dalam diri hanya menjadi sedikit lebih jinak, tetapi belum menjelma menjadi manusia. Hanya segelintir saja di antara kita yang masih peduli memanusiakan diri sendiri.

KENAPA HARUS ADA LYMBIC
Meskipun lymbic merupakan insting dasar hewani yang terdapat dalam tubuh manusia, bukan berarti lymbic harus dimusnahkan dari dalam diri manusia, lymbic hanya perlu dikendalikan dalam batas-batas yang wajar dan manusiawi agar bermanfaat sesuai fungsinya. Lymbic berfungsi sebagai alat untuk survival, menggerakkan kebutuhan biologis atau jasadiah untuk keperluan mempertahankan kehidupan di planet bumi. Lymbic juga diperlukan untuk reproduksi, proses kelangsungan hidup seluruh makhluk agar kehidupan di bumi tidak punah. Lymbic mencerminkan kebutuhan dasar atau kebutuhan paling primitif makhluk hidup. Sementara itu kehidupan manusia bukan saja untuk memenuhi kebutuhan dasar, lebih dari itu adalah kebutuhan rohani, atau kebutuhan jiwa, sukma atau kebutuhan roh. Kebutuhan insting dasar dipahami sebagai batu loncatan untuk memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi (mulia) yakni kebutuhan jiwa atau roh tersebut. Kebutuhan dasar selalu tumbuh berganti, berubah-ubah, dan tidak langgeng. Sementara kebutuhan akan kemuliaan bersifat langgeng tan owah gingsir, yang azali abadi.

Adapun rumus-rumus dasar dari kebutuhan dasar (insting hewani) yang digerakkan oleh lymbic adalah sbb :

1. Tumbuh, berkembang, lalu hancur.

2. Pertama-tama lahir, hidup, lalu mati.

3. Muncul keinginan, pemenuhan keinginan, kepuasan lalu semakin lama hilanglah kepuasan itu.

Demikianlah sifat dasar dari kebutuhan lymbic, tak ada yang kekal abadi, sebab lymbic hanya mencakup dimensi jasad, atau dimensi bumi saja. Semua yang berada dalam dimensi bumi akan terkena rumus bumi, ada/lahir, tumbuh/berkembang lalu hancur/mati/sirna. Bumi merupakan mercapadha ; merca berarti panas atau rusak, padha artinya papan atau tempat. Bumi seperti halnya jasad, merupakan tempat di mana segala sesuatu akan mengalami kerusakan dan kehancuran.

Keberhasilan mengendalikan si lymbic, akan membuat kita berhasil memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi yakni kebutuhan roh. Artinya, apabila kebutuhan jasad dapat dikendalikan secara wajar justru kebutuhan sukma atau jiwa akan terpenuhi, berupa ketenangan, ketentraman, kemuliaan dan kebahagiaan tertinggi (audaimonistis). Dalam falsafah Jawa, proses pengendalian lymbic ini tercermin dalam pepeling yang tampak sederhana tetapi sudah menjadi bagian dari kearifan lokal : ngono yo ngono ning ojo ngono. Maksudnya agar manusia tidak melampaui batas kewajaran dari nilai-nilai kemanusiaannya, alias tidak “ber-evolusi mundur” atau set back kembali menjadi binatang berbalut raga manusia. Berbagai teknis meredam dan mengendalikan lymbic dengan olah rasa, mengoptimalkan rasa sejati/rasa pangrasa. Sehingga akan lahir menjadi manusia ber-evolusi pesat menjadi manusia linuwih, jalma kinacek, dengan kesadaran spiritual yang tinggi. Menjadi cirikhas orang-orang yang berhasil nuruti kareping rahsa. Bukan sebaliknya nuruti rahsaning karep.

TIPE PENGUASA LYMBIC

Apabila insting-insting hewani kita dibiarkan tumbuh berkembang dalam diri, lama-lama akan mengkooptasi dan menghegemoni alam pikiran bawah sadar, di mana tersimpan nilai-nilai dasar pandangan hidup, yang setiap saat mendasari cara pandang (mind set) dan dapat menjadi nara sumber “kebenaran” yang bersifat subyektif dan palsu. Alam pikiran bawah sadar sebagai stockpile, yang terisi oleh insting dasar hewani tersebut menentukan pola-pikir (mind set), cara pandang, dan menuntun bagaimana harus bertindak. Celakanya, semua itu diartikulasi atau dimanifestasi dalam perbuatan nyata, yakni berupa perbuatan hewaniah. Kekuasaan lymbic tercermin dalam sikap ego dalam diri yang sangat tinggi. Celakanya lagi ego yang melakukan pencitraan harga diri terlalu tinggi membuat seseorang sangat mudah tersinggung, gampang murka, selalu golek menange dewe, golek butuhe dewe, golek benere dewe. Sebuah karakter yang sangat berbahaya, karena karakter muncul dari ego yang sangat kuat, yang dapat menyiksa, menganiaya, menyakiti, menghancurkan, dan memusnahkan segala hal yang tidak sesuai dengan ego-nya sementara kejahatannya itu sebagai bentuk kebenaran tak terbantahkan.

Lymbic, sepadan dengan Nafsu, angkara. Hakikat nafsu dilambangkan sebagai latu murup ing telenging samudra. Nafsu merupakan setitik kekuatan “nyalanya api” di dalam air samudra yang sangat luas. Artinya, nafsu dapat menjadi sumber keburukan/angkara (nila setitik) yang dapat “menyala” di dalam dinginnya air samudra/sukma sejati nan suci (rusak susu sebelanga). Disebut pula sebagai akyanmukawiyah, (nafsu) sebagai kenyataan yang “hidup” dalam eksistensinya. Paradoks dari tugas roh, bila nafsu menundukkan roh, maka manusia hanya menjadi “tumpukan sampah” atau hawa nafsu angkara. Mengikuti rasanya keinginan (rahsaning karep). Hewan bertubuh manusia.

Lymbic bekerja membawahi akal budi. Artinya seberapapun hebat kemampuan akal, secerdas dan sejenius apapun otak manusia tetap saja berada di bawah kekuasaan lymbic. Dalam terminologi falsafah Jawa disebut latu murup ing telenging samudra. Latu atau bara api sebagai kiasan dari insting dasar (hawa nafsu). Sedangkan samudra sebagai kiasan dari jiwa yang suci.

Tipikal pemimpin yang dikuasai lymbic section atau pemimpin yang belum menjalani pengendalian lymbic dapat dilihat sebagai mana tercermin dalam beberapa karakter pemimpin di bawah ini;

1. Kagetan, gumunan. Bersifat reaksioner.

2. Ora kuat nyunggi drajat; begitu mendapat jabatan, mereka akan berubah sikap sangat drastis. Sok jaim, sok wibawa, sering salah tingkah, gagal menjalankan tanggungjawabnya sebagai pelindung dan pelayan masyarakat.

3. Sumber kewibawaan bukan berasal keluhuran budi, kualitas kerja dan karya, melainkan keibawaan identik dengan menakutkan.

4. Menjaga kehormatan diri dan kekuasaannya dengan cara intimidasi dan menebar ancaman.

5. Hilangnya kharisma yang memancar dari dalam diri. Kharisma diganti dengan wajah angker nan galak. Seram dan menakutkan. Sikap yang bukan tegas namun tega dan sadis.

6. Kepatuhan para staf dan rakyatnya hanya dikendalikan oleh rasa takut, bukan rasa welas asih dan terimakasih.

7. Mengutamakan kepentingan kelompoknya; kelompok politik, golongan, ras, suku, agama, dan faham politiknya. Sikap anti toleran, pola pikir sektarian, primordial, rasistis.

8. Lebih memilih penghancuran dan pemusnahan sebagai cara utama dan pertama yang ditempuh daripada pendekatan persuasif melalui penyadaran dan penginsyafan.

9. Kekuasaan bukan dipandang sebagai sarana, tetapi sudah menjadi tujuan utama. Bila seseorang bercita-cita menegakkan keadilan dan ingin menciptakan kemakmuran untuk negeri dan rakyatnya, tetapi meraih kekuasaan melalui cara-cara kotor, menghalalkan segala cara, mau menangnya sendiri, itulah penguasa yang dikuasai lymbic.

10. Power of law, berganti menjadi law of the power. Kekuasaan bukan lagi bersumber dari hukum atau konstitusi yang disepakati rakyat, sebaliknya kekuasaan disalahgunakan untuk merumuskan hukum yang melindungi kepentingan pribadinya.

11. Pemimpin bukan dipahami sebagai pelayan rakyat. Sebaliknya pemimpin malah menuntut rakyatnya yang harus melayaninya.

Tipikal “pemimpin lymbic”, layaknya sindrom yang mengidap sebagian para politisi kita saat ini. Lebih berkiblat kepada nafsu jasad atau (nuruti rahsaning karep) yang bersumber dari lymbic section, ketimbang kebutuhan roh yang bersumber dari cahaya Ilahi (nuruti kareping rahsa).

WASPADAI DIRI SENDIRI

Lymbic mendorong seseorang untuk memenuhi segala kebutuhan insting dasar hewani. Guna mewujudkan setiap keinginan hewani bilamana ada kesempatan seseorang akan menghalalkan segala cara demi mewujudkan insting primitifnya. Tindak “pelacuran otoritas” hingga pembunuhan, tindak kriminal seperti korupsi, mark up, penggelapan, perampasan hak orang lain, merupakan manifestasi dari dorongan lymbic atau insting primitif hewani.

Akal-budi, disebut juga indera. Keberadaan nafsu menjadi wahana adanya akal-budi. Dilambangkan sebagai kudha ngerap ing pandengan, kudha nyander kang kakarungan. Akal-budi letaknya di dalam nafsu, diibaratkan sebagai “orang lumpuh mengelilingi bumi”. Adalah tugas yang amat berat bagi akal-budi; yakni menuntun hawa nafsu angkara kepada yang positif/putih (mutmainah). Sehingga diumpamakan wong lumpuh angideri jagad; orang lumpuh yang mengelilingi bumi. Disebut juga akyan-maknawiyah. Kemenangan akal-budi menuntun hawa nafsu ke arah yang positif dan tidak merusak, maka akan melahirkan nafsu baru, yakni nafsul mutmainah.

Apabila lymbic dibiarkan berkembang secara simultan pada gilirannya akan menghegemoni alam pikiran bawah sadar dan setiap saat akan menjadi sumber pembenaran diri atau kebenaran subyektif. Demikianlah proses terjadinya sosok manusia super egois, hinggga mencapai titik paling ekstrim yakni timbulnya penyakit jiwa seperti megalomania, egosentrisme, psikopat hingga kegilaan permanen. Psikopat tidak selalu tindakan pembunuhan berantai seperti dalam film-film thriller. Psikopat bisa saja dengan mudah menyusup ke dalam perilaku golek menange dewe, golek butuhe dewe, golek benerew dewe. Hal ini membentuk pola pikir atau mind set yang sempit, yang menganggap diri paling bener. Lalu dengan mudahnya mencari-cari alasan pembenar untuk menganiaya lahir atau batin orang-orang yang dibenci atau yang berbeda pendapat dan keinginan dengan dirinya. Seorang psikopat mudah menyakiti dan mencelakai orang lain demi pencapaian keinginan pribadinya. Bahkan saking terbiasanya, ia dapat berbuat kejahatan kepada siapapun yang dikehendakinya, sementara ia menikmati perbuatan jahatnya itu. Bahkan dengan bangganya seorang psikopat mentertawakan kesengsaraan orang lain yang menjadi korban kejahatannya. Itulah gambaran jiwa psikopat, di mana hati nuraninya telah wafat. Kepuasannya justru terpenuhi manakala ia dapat "menari di atas bangkai" para korbannya. Lymbic yang benar-benar out of control amat sangat berbahaya, lebih berbahaya lagi apabila jiwa-jiwa psikopat disertai dengan kecerdasan otak yang relatif tinggi dengan dimilikinya kekuasaan yang legitimate. Manusia akan berubah tidak hanya sekedar binatang, namun menjadi sosok monster yang lengkap memiliki senjata pamungkas. Kenyataannya penyakit jiwa ini banyak menghinggapi penduduk bumi nusantara di masa sekarang ini. Manusia yang turun martabat dan habitatnya menjadi spesies purba dan primitif namun juga sangat ganas. Benar-benar menjelma sebagai manusia homo-hominilupus, alias binatang buas buat manusia lainnya. Apa jadinya bila sosok demikian ini berkesempatan menjadi pemimpin umat di negeri ini ? Menjadi sosok manusia yang mempunyai kesempatan dan kemampuan tinggi untuk menghancurkan bumi. Otak bagian kanan tidak difungsikan untuk menggapai kesadaran dan kecerdasan spiritualitas, sebaliknya hanya berfungsi membangun perilaku munafik, sibuk memperhalus dan menutupi kebuasannya. Selalu berkreasi untuk menjaga imej mulia dan lembut di hadapan khalayak, sementara di dalam dirinya menyimpan potensi besar insting hewani yang primitif yang siap menelan segala yang ia inginkan.

HUBUNGAN KEKUASAAN LYMBIC DENGAN KERUSAKAN ALAM SEMESTA

Negeri ini sudah terlalu carut marut, semrawut, bagaikan benang kusut. Berbagai penyakit kejiwaan akibat dominasi kekuasaan lymbic telah menjangkiti seluruh sendi kehidupan negeri. Tindakan yang sangat mendesak untuk segera dilakukan, adalah ; jati diri palsu bangsa ini harus segera dikoreksi dan diselamatkan dengan cara menselaraskan antara keseimbangan mikrokosmos dengan keseimbangan makrokosmos. Sebagaimana telah dikatakan oleh seorang filsuf Socrates pada 500 th SM, serta terdapat dalam berbagai kitab suci, kita harus mengenali jati diri terlebih dahulu, barulah kita akan mengenali Tuhan. Maka jati diri bangsa ini harus digali dan dikenali lagi. Untuk sebuah gerakan penyadaran jati diri bangsa, akan lebih efektif apabila dimulai oleh para pemimpin dengan menjalani lakuning urip secara pas dan pener. Biarpun kekacauan multidimensi negeri saat ini tampak sudah sangat akut, namun hendaknya kita tetap optimis. Sebab masih ada satu celah dengan cara menghayati nilai-nilai luhur kearifan lokal. Hal ini bukan sekedar latah, karena nilai kearifan lokal adalah nilai yang merepresentasikan jati diri bangsa apa adanya, alamiah dan manusiawi. Dimulai dari diri kita masing-masing, kemudian meningkat dalam lingkup otoritas daerah, selanjutnya hingga ke pusat secara bottom up. Tentu saja untuk sebuah misi mulia itu masing-masing pribadi harus memerdekakan diri dari hegemoni insting primitif hewani terlebih dulu. Sebab untuk menjadi pamomong bagi banyak orang seyogyanya kita lebih dulu harus sukses ngemong diri sendiri.

KENAPA HARUS DI MULAI DARI DIRI KITA PRIBADI ?

Karena kegelisahan, kegundahan, sifat mudah panik, kalut, ela-elu, anut grubyuk, yang merambah dalam diri kita bukanlah disebabkan oleh orang lain atau faktor eksternal. Namun disebabkan oleh mekanisme ketidakseimbangan (disharmoni) dalam diri kita sendiri. Berawal dari terjadinya disharmoni, lalu terjadi disintegritas jati diri kita yang menghasilkan hormon dan adrenalin secara berlebihan. Kelebihan produksi hormon itu dapat mengganggu kestabilan dan kesehatan jiwa raga alias stress dan depress. Terjadilah imbal balik, di mana stres dan depresi, akan mengacaukan kesimbangam dalam diri yang berujung memperdalam terjadinya disintegritas jati diri. Di saat inilah manusia turun drajat menjadi binatang, jika tidak ya sepadan dengan manusia setengah gila.

Carut marut negeri ini berasal dari keadaan mental diri kita sendiri. Mental generasi penerus bangsa yang kehilangan jati dirinya. Tak kenal dan tak selaras lagi dengan karakter lingkungan sosial dan lingkungan alam sekitarnya. Hilangnya jati diri melahirkan tindakan-tindakan melawan kodrat alam. Hal itu meretas kegelisahan dan kebingungan, kepanikan dan kebuntuan dalam mengambil sikap hidup. Semuanya jadi serba salah kaprah & salah tingkah. Banyak hal-hal esensial menjadi serba terbalik maknanya. Inilah yang dimaksud dengan tanda-tanda wolak-waliking jaman seperti pernah diperingatkan oleh para pujangga masa lalu. Yang saat ini ternyata benar-benar terjadi.

Penebangan hutan secara liar, ekploitasi pertambangan alam yang tidak lagi peduli dengan kaidah alamiah dan manusiawiah, cut and fill kontur tanah yang tidak memperhatikan hukum-hukum geografis dan geologis, demi alasan pembangunan nasional sungai-sungai dirombak alur dan irama alamnya menjadi irama nafsu lymbic. Lembah-lembah hijau tempat serapan air dirubah menjadi resapan penghasil fulus dengan ijin “ilegal” mendirikan bangunan rumah disekitar bantaran dan lembah sungai. Mata air digusur, hutannya dibabat habis, gunung-gunung sebagai tampungan air telah digempur diratakan. Akibat dari semua itu adalah banjir, kekeringan, salah mongso, iklim yang kacau, suhu yang berubah-ubah drastis, lempeng bumi terjadi rongga-rongga karena kadar air semakin berkurang, lempeng bumi terjadi pelapukan dan pergeseran lebih cepat. Akibat lebih lanjut adalah terjadi berbagai gempa bumi, kekurangan air tanah, kelembaban udara menurun drastis, mengakibatkan baksil dan bakteri berkembang biak, wabah penyakit dan hama tanaman menjadi sangat variatif dan sulit diatasi.

Itulah gambaran dalam dimensi luas hubungan antara manusia (jagad alit) dengan lingkungan alam (jagad besar) yang tidak lagi selaras, seiring dan sejalan. Untuk itu para pemimpin perlu segera mengupayakan usaha-usaha pemerdekaan diri bagi generasi penerus bangsa dari penjajahan lymbic section. Kembali kepada jati diri bangsa, menggapai kesadaran tinggi (highest consciousness) yang tidak terjajah oleh lymbic, yakni kesadaran rahsa sejati. Usaha itu harus diawali dengan membangun keseimbangan dalam diri kita pribadi. Dimulai dari pribadi-pribadi peduli yang tinggal di “wilayah TIMUR”. Sebagaimana terungkap dalam kitab kuno jongko-joyoboyo. Dan di sinilah tempatnya yang tepat. Dimulai dari kota lumpur Sidoarjo tempat di mana para putra Sang Fajar mulai menyingsing dari ufuk timur. Njejegake soko guru bangsa, yang akan membuka jalan bagi kembalinya kejayaan bumi nusantara. Dan para putra sang fajar itu adalah Anda yang hadir di sini dalam pertemuan ini. Sebagai pemimpin, apabila anda melakukan start lebih awal, anda bersama rakyat akan lebih dulu meraih dan merasakan anugrah agung yakni, indahnya kemuliaan, kehormatan dan kebahagiaan hidup yang sesungguhnya. Yang melibatkan kesejahteraan lahir dan batin. Namun anugrah agung itu tentunya tidaklah GRATIS, karena masyarakat bersama para pemimpin di wilayah Sidoarjo harus menebus anugrah agung dengan musibah dan penderitaan panjang. Semakin tabah menjalaninya, semakin besar pula “uang tebusan” yang anda kumpulkan. Berati semakin besar pula anugrah yang akan diperoleh.

TIPIKAL NEGARAWAN SEJATI

Sementara itu gambaran kejiwaan negarawan sejati, mereka adalah pribadi-pribadi yang tidak hanya memiliki kesadaran theolgis, lebih dari itu memiliki kesadaran kosmik. Kesadaran yang selaras dan seimbang antara jagad kecil (mikrokosmos) dan jagad besar (makrokosmos), keselarasan antara rakyat dengan pemimpinnya (manunggaling kawula kalawan gusti), dan keselarasan jiwa manusia dengan nilai ketuhanan (manunggaling kawula Gusti atau roroning atunggil/dwi tunggal). Pencapaian keadaan itu dapat dirasakan sebagai suasana yang tenang, damai, riang, bahagia. Saling memberi, saling menebarkan aura kasih-sayang. Terpancarlah nilai-nilai kebaikan dalam setiap sendi-sendi kehidupan. Kebaikan akan meretas kebaikan pula. Dalam diri pribadi, keadaan positif ini memicu produksi hormon-hormon melatonin & endorfin, yang bekerja untuk melipatgandakan ketenangan, ketrentaman dan kebahagiaan. Begitulah seterusnya. Hiup menjadi lebih tenang, tidak kelebihan hormon adrenalin yang akan membawa kepada sikap kagetan dan gumunan, raksioner dan frontal, gelisah, geram dan emosional.

Tipikal seorang negarawan sejati yakni merdeka dari pengaruh hegemoni lymbic. Saya sebut pula sebagai pemimpin yang nuruti kareping rahsa. Dalam terminologi falsafah Jawa disebut sebagai kodok kinemulan ing leng, atau wit ing sajroning wiji. Jiwa yang tuntun oleh sukma-sejati/roh kudus/ruh al kuds, dibimbing oleh rasa sejati/sirulah, disinari oleh cahyo sejati/nurullah, dan pada akhirnya menjadi jiwa raga yang dihidupkan oleh atma sejati/chayyu/kayun yakni energi yang menghidupkan. Mereka itulah adalah sosok negarawan sejati. Pribadi yang tidak lagi terkooptasi oleh kelompok kepentingannya sendiri. Tidak mewakili dan mengatasnamakan kepentingan dan warna politik, golongan, dan kelompok tertentu. Negarawan mengatasi kepentingan seluruh warga bangsa, atau mengutamakan kepentingan umum. Perilaku dan perbuatan pribadi negarawan sejati tidaklah egois, sebaliknya bersikap altruis mempersembahkan hidupnya untuk kesejahteraan dan kemakmuran bangsanya di atas kepentingan-kepentingan lainnya (berkah bagi alam/rahmatan lil alamin). Kursi kekuasaan bukan menjadi tujuan, melainkan sebagai sarana atau alat menciptakan kedamaian, ketentraman, dan kebahagiaan bersama. Biarpun tidak sedang menduduki jabatan, seorang yang berjiwa negarawan sejati memiliki tabiat perilaku yang konsisten. Arif dan bijaksana, mampu ngemong diri pribadi sebelum bertanggungjawab ngemong orang banyak sehingga tak ada bedanya saat sebelum dan sesudah menduduki tampuk kekuasaan. Kehidupan ini dijalani dengan sikap profan apa adanya, tidak mengada-ada, antara solah atau perilaku badan dengan bawa atau perilaku batin tidak berbenturan satu sama lain (munafik). Selalu eling akan sangkan paraning dumadi, dan waspada atas segala hal yang dapat menjadi penghalang kemuliaan dirinya. Seorang negarawan sejati berani sugih tanpa bondo, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake. Menjalankan tanggungjawab kepemimpinannya dengan dasar rasa welas asih, welas tanpo alis, belas kasih kepada siapa saja tanpa pilih kasih, dan tanpa pamrih kecuali sebagai bentuk netepi titahing Gusti, mengikuti afngal atau sifat Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang tanpa pernah pilih kasih !! Negarawan memanfaatkan kewenangannya sebagai alat atau sarana laku prihatin yakni dengan tapa ngrame. Laku tapa, tapaking hyang suksma. Menjadi pribadi kosmologis, perilakunya selaras, harmoni dan sinergi dengan kodrat alam. Kesadarannya bukan hanya kesadaran theologis dogmatis saja, namun sudah menggapai kesadaran kosmologis yang berada dalam wilayah kesadaran hakekat.

Pastilah berkah Tuhan akan selalu berlimpah ruah, sumrambah dateng tiyang kathah, mampu merubah segala musibah menjadi anugrah. Kalis ing rubeda, nir ing sambekala. Itulah konsep keadilan dan kemakmuran suatu negeri, akan datang bilamana pemimpinnya adalah sosok pribadi yang jumeneng satria pinandita sinisihan wahyu. Siapapun bisa melakukan asal memiliki kehendak (political will) dan bertekat bulat ibarat melakukan semedi di “alas ketangga” (keketeg ing hangga) yakni dengan tekat bulat meliputi jiwa dan raga.

Figur negarawan sejati, menjadikan dirinya seperti medan magnet positif yang akan menebarkan dan menarik segala hal yang positif, dan rumus ini berlaku pula sebaliknya. oleh sebab itu tidaklah sulit bagi negarawan sejati, bila selama masa kepemimpinannya akan menyebarkan benih-benih kemakmuran dan kesejahteraan masyarakatnya. Menjadikan rakyatnya merasa benar-benar menjadi tuan di istananya sendiri. Bagi negarawan sejati, apa yang diucap akan terwujud (sabda pandita ratu), dan apa yang diucapkan segera terlaksana (idu geni). Siapapun dapat menghayati dan membuktikan sendiri. Karena Negarawan sejati bukan hanya monopoli seorang presiden, raja, atau perdana menteri saja. Tetapi bisa dilakukan oleh siapapun orangnya ; gubernur, bupati, camat, lurah, ketua RW/RT. Setiap orang pada dasarnya adalah pemimpin, minimal menjadi pemimpin buat dirinya sendiri, dan keluarganya.

Kiranya tidaklah mengada-ada, apabila telah diisyaratkan oleh para leluhur kita di masa lampau, bahwa negeri ini akan mencapai kejayaannya kembali, menjadi negeri yang adil, makmur, gemah ripah loh jinawi, hanya pada saat mana dipimpin oleh figur Ratu Adil. Berarti pula memiliki kiasan sebagai pribadi-pribadi yang gandrung keadilan dan sistem ekonomi-politik yang adil. Dan siapapun anda bisa menjadi figur ratu adil apabila anda memiliki kemauan sungguh-sungguh yang anda tetapkan mulai hari ini.

TEKNIK PENGENDALIAN LYMBIC

Kita harus melakukan berbagai usaha untuk meredam kekuasaan lymbic dalam diri kita. Banyak cara dapat ditempuh, misalnya dengan berolahraga dan berolah-batin, misalnya olah meditasi, semedi, mesu budi, maladihening hingga tradisi jazirah dengan cara berzikir, i’tikaf dsb. Semua tujuannya sama, menggali getaran nurani sebagai terminal getaran energi Tuhan Yang Maha Menghidupkan. Energi yang hidup abadi yang ada dalam diri kita. Lebih dekat dari urat leher. Itulah Tuhan yang bersembunyi di dalam hati kita. Persoalannya adalah ; bagaimana kita mampu untuk mengolah tasa menggapau kesadaran tinggi ?! Untuk itu dalam pertemuan nanti, akan saya coba jabarkan soal jati diri, dan bagaimana mengolah rahsa nan sejati menjadi negarawan sejati, yang memiliki sipat kandel, winasis sebagai pribadi yang terwaca, waskita dan permana.

Selasa, 01 Juni 2010

KEJAWEN, DICURIGAI & DIKAMBING HITAMKAN

KEJAWEN
“Permata” Asli Bumi Nusantara yang Selalu Dicurigai
Dan Dikambinghitamkan

Kearifan Lokal yang Selalu Dicurigai
Ajaran kejawen, dalam perkembangan sejarahnya mengalami pasang surut. Hal itu tidak lepas dari adanya benturan-benturan dengan teologi dan budaya asing (Belanda, Arab, Cina, India, Jepang, AS). Yang paling keras adalah benturan dengan teologi asing, karena kehadiran kepercayaan baru disertai dengan upaya-upaya membangun kesan bahwa budaya Jawa itu hina, memalukan, rendah martabatnya, bahkan kepercayaan lokal disebut sebagai kekafiran, sehingga harus ditinggalkan sekalipun oleh tuannya sendiri, dan harus diganti dengan “kepercayaan baru” yang dianggap paling mulia segalanya. Dengan naifnya kepercayaan baru merekrut pengikut dengan jaminan kepastian masuk syurga. Gerakan tersebut sangat efektif karena dilakukan secara sistematis mendapat dukungan dari kekuatan politik asing yang tengah bertarung di negeri ini.
Selain itu “pendatang baru” selalu berusaha membangun image buruk terhadap kearifan-kearifan lokal (baca: budaya Jawa) dengan cara memberikan contoh-contoh patologi sosial (penyakit masyarakat), penyimpangan sosial, pelanggaran kaidah Kejawen, yang terjadi saat itu, diklaim oleh “pendatang baru” sebagai bukti nyata kesesatan ajaran Jawa. Hal itu sama saja dengan menganggap Islam itu buruk dengan cara menampilkan contoh perbuatan sadis terorisme, menteri agama yang korupsi, pejabat berjilbab yang selingkuh, kyai yang menghamili santrinya, dst.
Tidak berhenti disitu saja, kekuatan asing terus mendiskreditkan manusia Jawa dengan cara memanipulasi atau memutar balik sejarah masa lampau. Bukti-bukti kearifan lokal dimusnahkan, sehingga banyak sekali naskah-naskah kuno yang berisi ajaran-ajaran tentang tatakrama, kaidah, budi pekerti yang luhur bangsa (Jawa) Indonesia kuno sebelum era kewalian datang, kemudian dibumi hanguskan oleh para “pendatang baru” tersebut. Kosa kata Jawa juga mengalami penjajahan, istilah-istilah Jawa yang dahulu mempunyai makna yang arif, luhur, bijaksana, kemudian dibelokkan maknanya menurut kepentingan dan perspektif subyektif disesuaikan dengan kepentingan “pendatang baru” yang tidak suka dengan “local wisdom”. Akibatnya; istilah-istilah seperti; kejawen, klenik, mistis, tahyul mengalami degradasi makna, dan berkonotasi negatif. Istilah-istilah tersebut “di-sama-makna-kan” dengan dosa dan larangan-larangan dogma agama; misalnya; kemusyrikan, gugon tuhon, budak setan, menyembah setan, dst. Padahal tidak demikian makna aslinya, sebaliknya istilah tersebut justru mempunyai arti yang sangat religius sbb;
Klenik : merupakan pemahaman terhadap suatu kejadian yang dihubungkan dengan hukum sebab akibat yang berkaitan dengan kekuatan gaib (metafisik) yang tidak lain bersumber dari Dzat tertinggi yakni Tuhan Yang Maha Suci. Di dalam agama manapun unsur “klenik” ini selalu ada.
Mistis : adalah ruang atau wilayah gaib yang dapat dirambah dan dipahami manusia, sebagai upayanya untuk memahami Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam agama Islam ruang mistik untuk memahami sejatinya Tuhan dikenal dengan istilah tasawuf.
Tahyul : adalah kepercayaan akan hal-hal yang gaib yang berhubungan dengan makhluk gaib ciptan Tuhan. Manusia Jawa sangat mempercayai adanya kekuatan gaib yang dipahaminya sebagai wujud dari kebesaran Tuhan Sang Maha Pencipta. Kepercayaan kepada yang gaib ini juga terdapat di dalam rukun Islam.
Tradisi : dalam tradisi Jawa, seseorang dapat mewujudkan doa dalam bentuk lambang atau simbol. Lambang dan simbol dilengkapi dengan sarana ubo rampe sebagai pelengkap kesempurnaan dalam berdoa. Lambang dan simbol juga mengartikan secara kias bahasa alam yang dipercaya manusia Jawa sebagai bentuk isyarat akan kehendak Tuhan. Manusia Jawa akan merasa lebih dekat dengan Tuhan jika doanya tidak sekedar diucapkan di mulut saja (NATO: not action talk only), melainkan dengan diwujudkan dalam bentuk tumpeng, sesaji dsb sebagi simbol kemanunggalan tekad bulat. Maka manusia Jawa dalam berdoa melibatkan empat unsur tekad bulat yakni hati, fikiran, ucapan, dan tindakan. Upacara-upacara tradisional sebagai bentuk kepedulian pada lingkungannya, baik kepada lingkungan masyarakat manusia maupun masyarakat gaib yang hidup berdampingan, agar selaras dan harmonis dalam manembah kapada Tuhan. Bagi manusia Jawa, setiap rasa syukur dan doa harus diwujudkan dalam bentuk tindakan riil (ihtiyar) sebagai bentuk ketabahan dan kebulatan tekad yang diyakini dapat membuat doa terkabul. Akan tetapi niat dan makna dibalik tradisi ritual tersebut sering dianggap sebagai kegiatan gugon tuhon/ela-elu, asal ngikut saja, sikap menghamburkan, dan bentuk kemubadiran, dst.
Kejawen : berisi kaidah moral dan budi pekerti luhur, serta memuat tata cara manusia dalam melakukan penyembahan tertinggi kepada Tuhan Yang Maha Tunggal. Akan tetapi, setelah abad 15 Majapahit runtuh oleh serbuan anaknya sendiri, dengan cara serampangan dan subyektif, jauh dari kearifan dan budi pekerti yg luhur, “pendatang baru” menganggap ajaran kejawen sebagai biangnya kemusyrikan, kesesatan, kebobrokan moral, dan kekafiran. Maka harus dimusnahkan. Ironisnya, manusia Jawa yang sudah “kejawan” ilang jawane, justru mempuyai andil besar dalam upaya cultural assasination ini. Mereka lupa bahwa nilai budaya asli nenek moyang mereka itulah yang pernah membawa bumi nusantara ini menggapai masa kejayaannya di era Majapahit hingga berlangsung selama lima generasi penerus tahta kerajaan.

Ajaran Tentang Budi Pekerti, Menggapai Manusia Sejati
Dalam khasanah referensi kebudayaan Jawa dikenal berbagai literatur sastra yang mempunyai gaya penulisan beragam dan unik. Sebut saja misalnya; kitab, suluk, serat, babad, yang biasanya tidak hanya sekedar kumpulan baris-baris kalimat, tetapi ditulis dengan seni kesusastraan yang tinggi, berupa tembang yang disusun dalam bait-bait atau padha yang merupakan bagian dari tembang misalnya; pupuh, sinom, pangkur, pucung, asmaradhana dst. Teks yang disusun ialah yang memiliki kandungan unsur pesan moral, yang diajarkan tokoh-tokoh utama atau penulisnya, mewarnai seluruh isi teks.
Pendidikan moral budi pekerti menjadi pokok pelajaran yang diutamakan. Moral atau budi pekerti di sini dalam arti kaidah-kaidah yang membedakan baik atau buruk segala sesuatu, tata krama, atau aturan-aturan yang melarang atau menganjurkan seseorang dalam menghadapi lingkungan alam dan sosialnya. Sumber dari kaidah-kaidah tersebut didasari oleh keyakinan, gagasan, dan nilai-nilai yang berkembang di dalam masyarakat yang bersangktan. Kaidah tersebut akan tampak dalam manifestasi tingkah laku dan perbuatan anggota masyarakat.
Demikian lah makna dari ajaran Kejawen yang sesungguhnya, dengan demikian dapat menambah jelas pemahaman terhadap konsepsi pendidikan budi pekerti yang mewarnai kebudayaan Jawa. Hal ini dapat diteruskan kepada generasi muda guna membentuk watak yang berbudi luhur dan bersedia menempa jiwa yang berkepribadian teguh. Uraian yang memaparkan nilai-nilai luhur dalam kebudayaan masyarakat Jawa yang diungkapkan diatas dapat membuka wawasan pikir dan hati nurani bangsa bahwa dalam masyarakat kuno asli pribumi telah terdapat seperangkat nilai-nilai moralitas yang dapat diterapkan untuk mengangkat harkat dan martabat hidup manusia.

Rabu, 19 Mei 2010

Bagian 2 : Sekelumit Kisah Sunan Kajenar atau Syeh Siti Jenar




Kedekatan dua tokoh besar yang sangat disegani oleh seluruh masyarakat Majapahit, sangat merisaukan Dewan Wali Sangha. Apalagi ketika dua tokoh itu, mengumandangkan ajaran Islam yang mengakui segala persamaan dengan agama lain, Dewan Wali sedikit berang. Dewan Wali Sangha masih menganggap Islam adalah segala-galanya, tidak bisa disamakan dengan agama lain.

Dan ketika Sunan Giri mendengar Syeh Siti Jenar mengajarkan esensi Islam yang sesungguhnya tidak berbeda dengan esensi agama lain, maka diutuslah duta untuk memanggil beliau agar menghadap ke Giri Kedhaton.

Syeh Siti Jenar sengaja mengeluarkan ucapan yang sangat dalam, ucapan esensial kepada kedua utusan Sunan Giri, untuk mencoba mereka, apakah mereka juga telah mendapatkan wejangan serupa dari Sunan Giri? Ternyata, kedua utusan masih mentah. Masih bengong dan kebingungan. Jelas sudah, Dewan Wali Sangha hanya mengajarkan kulit luar Islam. Kulit luar yang akan memicu perpecahan, memicu ego spiritual, memicu sikap eksklusifisme, karena bagaimanapun juga, pada tataran ‘kulit’, pastilah akan tampak perbedaan yang mencolok.Jika tidak didalami, jika tidak ditingkatkan lagi, mereka akan terjebak, terjebak pada kulit semata. Ini bisa menyesatkan. Namun, malahan Syeh Siti Jenar yang dianggap sesat. Menggelikan.

Mendengar Syeh Siti Jenar mengucapkan kata-kata yang sangat tinggi kepada kedua ulama utusan Sunan Giri, Sunan Kalijaga segera bertandang ke Cirebon. Beliau menanyakan kebenaran berita itu. Dan Syeh Siti Jenar membenarkannya. Sunan Kalijaga menasehati, agar berhati-hati mengeluarkan ucapan, karena para pengikut PUTIHAN, banyak yang masih terjebak kulit. Mereka tidak memahami esensi Islam. Dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah bagi diri Sang Syeh. Namun Syeh Siti Jenar menjawab itu semua memang beliau sengaja untuk menyentil Sunan Giri. Syeh Siti Jenar tahu, Sunan Giri paham akan ucapan beliau, dan Syeh Siti Jenar ingin melihat reaksi pemimpin Dewan Wali Sangha itu.

Kedua utusan Sunan Giri telah sampai di Giri Kedhaton. Keduanya menghadap Sunan Giri dan kisahpun berlanjut seperti dibawah ini :


Kinanthi.


Makaten wiraosipun,
Heh sira dhuta kekalih,
Ingsun mengko tinimbalan,
Ing ngarsa Jeng Sunan Giri,
Matura yen ora ana,
Kang ana Pangeran Jati.

Sakala kawula rengu,
Paran kang dados pamanggih,
Dene ngaken Pangeran,
Ulun nunten den wangsuli,
Sira iku mung saderma,
Ngaturake ala becik.

Wau sapamyarsanipun,
Legeg Jeng Susuhunan Giri,
Jaja bang mawinga-winga,
Kadya age den tedhaki,
Rinapa pra auliya,
Dhuh Sang Ambeg Wali Mukmin.

Den sabar penggalihipun
Inggih katandha rumiyin,
Kekencengane ing tekad,
Gampil pinanggih ing wingking,
Yen sampun kantenan dosa,
Kados boten makalahi.

Leleh ing penggalihipun,
Myarsa sabdaning Pra Wali,
Jeng Sunan Ing Giri Gajah,
Dhuta kinen wangsul malih,
Animbali Syeh Lemah Bang,
Ujare kinen nuruti.

Jangji seba ngarsaningsun,
Ujare ywa mindho kardi,
Dhuta lajeng nembah mesat,
Sampun prapta ing Siti Brit,
Panggih lawan Syeh Lemah Bang,
Nandukken dennya tinuding.

Mring Sunan Giri Kedhatun,
Pangeran dipun timbali,
Sarenga salampah kula,
Pangeran Siti Jenar angling,
Mengko Pangeran tan ana,
Kang ana Syeh Siti Brit.

Dhuta tan sawaleng wuwus,
Sarehning sampun wineling,
Inggih mangkya Syeh Lemah Bang,
Kang wonten dipun timbali,
Ngandika Syeh Siti Jenar,
Pangeran tan amarengi.

Awit Syeh Lemah Bang iku,
Wajahing Pangeran Jati,
Nadyan sira ngaturana,
Ing Pangeran Kang Sejati,
Lamun Syeh Lemah Bang ora,
Masa kalakona yekti.

Dhuta ngungun lajeng matur,
Inggih kang dipun aturi,
Pangeran lan Syeh Lemah Bang,
Rawuha dhateng ing Giri,
Sageda musyawaratan,
Lan sagunging Para Wali.

Pangran Siti Jenar nurut,
Lajeng kering dhuta kalih,
Praptane ing Giri Gajah,
Pepekan kang Para Wali,
Pangeran Ing Siti Jenar,
Anjujug Jeng Sunan Giri.

Lajeng ingandika arum,
Bageya Pangeran kang prapti,
Rawuhe ing ngarsaningwang,
Pangeran Siti Jenar angling,
Dhuh Pukulun sama,
Sama tumeka suka basuki.

Jeng Sunan ngandika arum,
Marma sanak sun aturi,
Kasok karoban ing warta,
Yen andika teki-teki,
Makiki nangkar Ilmu Khaq,
Dadi paguron sabumi.

Ngasoraken Wali Wolu,
Mandar bawa Imam Suci,
Datan asuci Jumungah,
Saestu ngong anjurungi,
Pira-pira sira bias,
Alim ngelem Para Wali.

Pangeran Siti Jenar matur,
Nggen amba purun mbawani,
Medhar Gaibing Pangeran,
Awit Allah sipat Asih,
Asih samining tumitah,
Saben titah angranggoni.

Nganggowa ugering ilmu,
Kang abuntas den atitis,
Sampun ngantos selang sebat,
Mindhak abebingung piker,
Amet ansar dadi sasar,
Karana kurang baresih.

Pedah punapa mbebingung,
Ngangelaken ulah ilmi,
Jeng Sunan Giri ngandika,
Bener kang kaya sireki,
Nanging luwih kaluputan,
Wong wadeh ambuka wadi.

Telenge bae pinulung,
Pulunge tanpa ling-aling,
Kurang waskhitha ing cipta,
Lunturing Ilmu Sejati,
Sayekti kanthi nugraha,
Tan saben wong anampeni.

Pangran Siti Jenar matur,
Paduka amindho kardi,
Ndadak amerangi tatal,
Tetelane ing dumadi,
Dadine saking nugraha,
Punapa boten ngalami.

Sunan Giri ngandika rum,
Yen kaya wuwusireki,
Tan kena den nggo rerasan,
Yen ngebreh amedhar wadi,
Pangeran ora Kuwasa,
Anane tanpa ling-aling.

Endi kang ingaran Luhur,
Endi kang ingaran Gaib,
Endi kang ingaran Purba,
Endi kang ingaran Bathin,
Endi kang ingaran Baqa’,
Endi kang ingaran Lathif.

Endi kang ingaran Besus,
Endi ingaran Birahi,
Yen Baqa’ mbabar walaka,
Bakal bubur tanpa bibit,
Mangka Pangeran Kang Nyata,
Ora kena den rasani.

Pan Ora kena dinumuk,
Anane wahana Gaib,
Matur Pangran Siti Jenar,
Sedya purun amabeni,
Bantahan masalah rasa,
Sinapih kang Para Wali.

Dhuh sanak sekalihipun,
Ywa tansah aben prang sabil,
Prayogi kanyatakena,
Wonten ing nggon kang asepi,
Samun sepen sepi hawa,
Sarahsa saged anunggil.

Wonten kawekasanipun,
Yen mukid yekti karadin,
Jeng Sunan Ing Giri Gajah,
Wrin kedhaping sambaing liring,
Sabdaning Pra Auliya’,
Lajeng angandika aris.

Heh Syeh Lemah Bang,
Sireku aja pijer madoni,
Besuk ing ari Jumungah,
Padha musyawaratan batin,
Yekti katandha kanyata,
Lelere asmareng ilmi.



Terjemahan :


(Kata sang duta), Begini jawaban beliau,
Hai kalian para duta berdua,
Aku dipanggil menghadap,
Dihadapan Sunan Giri,
Katakan bahwasanya aku tidak ada,
Yang ada PANGERAN JATI (TUHAN YANG SESUNGGUHNYA).

Seketika hamba berdua terkejut,
Bagaimana bias berpikiran demikian,
Mengaku sebagai PANGERAN (TUHAN),
Hamba lantas diberi jawaban,
Kalian berdua hanya sekedar utusan,
Kewajibannya hanya menyampaikan saja.

Setelah mendengar hal tersebut,
Tertegun Jeng Susuhunan Giri,
Dada bergemuruh membara,
Tidak sabar ingin menemui Syeh Siti Jenar sendiri,
Para Auliya (Wali) menyabarkan,
Duh yang menjabat sebagai Wali Mukmin ( Wakil para orang-orang beriman ).

Mohon sabarkan hati,
Seyogyanya dibuktikan dulu,
Apa maksud Syeh Siti Jenar berkata demikian,
Gampang memberikan keputusan hukuman kelak,
Apabila sudah jelas dosa (kesalahan)-nya,
(Dan jika memang sudah terbukti ) tidak menjadi soal lagi untuk menjatuhkan sangsi.

Reda kemarahan (Sunan Giri),
Mendengar sabda Para Wali,
(Oleh) Jeng Sunan Giri Gajah,
Utusan disuruh kembali lagi,
Memanggil Syeh Lemah Bang,
Apapun yang dikatakan supaya dituruti.

Asalkan bias menghadap kepadaku (Sunan Giri),
Jangan sampai mengulang kegagalan,
Utusan lantas menghaturkan sembah dan berangkat,
(Telah) sampai di Siti Brit,
Bertemu dengan Syeh Lemah Bang,
(Lantas) menghaturkan maksud mereka diutus kembali.

Oleh Sunan Giri Kedhaton,
PANGERAN (TUHAN) dipanggil menghadap,
Berangkatlah bersama kami,
Pangeran Siti Brit menjawab,
Saat ini PANGERAN tidak ada,
Yang ada Syeh Siti Brit.

Para utusan tidak membantah perkataan lagi,
Karena sudah diwanti-wanti (oleh Sunan Giri),
Jikalau sekarang yang ada Syeh Lemah Bang,
Syeh Lemah Bang dipanggil menghadap,
Berkata Syeh Siti Jenar,
PANGERAN (TUHAN) tidak membolehkan.

Sebab Syeh Lemah Bang itu,
Wajah Tuhan Yang Sesungguhnya,
Walaupun engkau memohon,
Kepada Tuhan Yang Sesungguhnya,
Namun apabila tidak memohon kepada Syeh Lemah Bang,
Sungguh tidak akan terlaksana.

Para utusan terheran-heran lantas berkata,
Sesungguhnya yang diharapkan,
PANGERAN (TUHAN) dan Syeh Lemah Bang,
Bertandang ke Giri,
Untuk bermusyawarah dengan segenap Para Wali.

Pangeran Siti Jenar menurut,
Dengan diiringi kedua utusan beliau berangkat,
Sesampainya di Giri Gajah,
Para Wali sudah menanti,
Pangeran Siti Jenar,
Menghadap Jeng Sunan Giri.

Lantas ( Sunan Giri ) menyambut dengan berkata ramah,
Semoga senantiasa sejahtera kepada Pangeran (Siti Jenar),
Yang tengah datang dihadapan kami ini,
Pangeran Siti Jenar menjawab,
Duh yang hamba hormati sama-sama,
Sama-sama semoga mendapatkan kebahagian dan keselamatan.

Jeng Sunan (Giri) berkata manis,
Sebab mengapa saudaraku aku undang kemari,
(Sebab) sangat santer terdengar,
Apabila saudaraku tengah ber-olah batin,
Mengajarkan Ilmu Khaq ( Ilmu Sejati ),
Mendirikan sebuah perguruan (yang sangat terkenal) dimuka bumi.

Mengalahkan Para Wali yang lain,
Memegang jabatan sebagai Imam Suci,
Kesucian hari Jum’at-pun seolah tertandingi,
Benar-benar kami mendukung,
Apa saja yang saudaraku kerjakan,
Para Wali menyanjung-nyanjung.

Pangeran Siti Jenar berkata,
Sebab mengapa hamba berani,
Membuka Gaib Tuhan,
Sebab Allah bersifat KASIH,
KASIH kepada semua makhluk,
Setiap makhluk mendapatkannya.

(Hamba hanya ingin) mengajarkan ilmu sesuai dengan ketentuan,
Secara lengkap dan gamblang,
Jangan sampai asal-asalan,
(Sehingga) membuat kebingungan para murid,
Memakai ‘kulit’ (syari’at) berlebihan malah akan menyesatkan,
Sebab apa yang diajarkan kurang jelas.

Apa untungnya membuat bingung,
Mempersulit mereka yang menimba ilmu (Sejati),
Jeng Sunan Giri berkata,
Benar apa yang kamu katakan,
Akan tetapi sangat-sangat dipersalahkan,
Manusia yang sembrono membuka rahasia.

Hanya mengambil inti sari,
Inti sari diambil tanpa memakai ‘kulit’ apapun,
(Hal) itu akan membuat kurang tajam kecerdasan para murid,
Turunnya Ilmu Sejati,
Sungguh harus disertai anugerah,
Tidak setiap orang boleh menerima.

Pangeran Siti Jenar menjawab,
Perkatan paduka bertolak belakang (inkonsisten),
Seperti hendak menghitung serpihan-serpihan kayu sisa digergaji (artinya : merepotkan),
Bukankah sesungguhnya seluruh makhluk,
Tercipta karena anugerah,
Apakah tidak menyadari?

Sunan Giri berkata manis,
Apa yang kamu ucapkan (kepada kedua utusan),
Tidak boleh dibuat percakapan,
Apabila lancang membuka rahasia,
(Maka seolah-olah) Tuhan tidak Maha Kuasa,
Keberadaan-Nya seolah-olah tidak rahasia.

Maka seakan-akan tidak ada lagi konsep Keluhuran,
Seakan-akan tidak ada lagi konsep Maha Gaib,
Seakan-akan tidak ada lagi konsep Maha Berkuasa,
Seakan-akan tidak ada lagi konsep Maha Rahasia,
Seakan-akan tidak ada lagi konsep Maha Kekal,
Seakan-akan tidak ada lagi konsep Maha Halus.

Maka seakan-akan tidak ada lagi konsep Maha Cerdas,
Ujung-ujungnya etika moral juga akan rusak,
Apabila Maha Kekal ( Al-Baqa’: Bhs. Arab) menjadi Walaka ( Bhs. Sanskerta, yang artinya umum, lumrah, remeh. ),
Bakalan bubar tanpa benih,
Padahal Tuhan Yang Sesungguhnya,
Tidak bisa dibuat percakapan.

Tidak bisa diraba dengan tangan kasar,
Keberadaannya berada diranah Gaib,
Berkata Syeh Siti Jenar,
Hendak berniat berdebat tentang Ilmu Rasa ( Ilmu Sejati),
(Namun) dilerai oleh Para Wali.

Duh kedua saudaraku,
Jangan terus-terusan berdebat,
Seyogyanya dinyatakan sendiri ( Hakikat Tuhan itu ),
Ditempat yang sepi,
Yaitu maksudnya sepinya diri dari hawa nafsu,
Dalam kondisi seperti itu pasti akan nyata kesatuan-Nya dengan kita.

Hal ini bisa dicapai,
Apabila kita benar-benar telah berpasrah total,
Jeng Sunan Giri Gajah,
Melihat isyarat leraian,
Melalui ucapan Para Auliya’,
Lantas berkata lirih.

Heh Syeh Lemah Bang,
Jangan hanya bisa membantah,
Nanti pada hari Jum’at,
Datanglah lagi untuk bermusyawarah tentang Ilmu Bathin,
Pasti akan kelihatan nyata,
Siapa yang benar-benar memahami Ilmu Sejati.




(Bersambung)

(29 Oktober 2009, by : Damar Shashangka )

Selasa, 13 April 2010

OUT OF BODY EXPERIENCE





Tehnik Mengeluarkan Jiwa atau Astral dari Tubuh
Oleh: Drs. Agust Rahardjo M.Si.


Out of Body Experience (Tehnik Mengeluarkan Jiwa atau Astral dari Tubuh) diambil dari Jawa Post, Selasa 09 Februari 2010, hal 40, mengatakan bahwa out of body experience adalah:
a. Gambaran awal dari Kematian; 
b. Proses menjelang kematian, sebab syaraf input kesadaran manusia sudah terputus; 
c. Proses keluarnya jiwa dari tubuh manusia yang bisa dipelajari dan dilakukan dengan berbagai cara, antara lain: 
(1). Secara khusus atau  klinis. 
(2). Secara Teknis, yang didasarkan pada penelitian-penelitian para ahli, yang pada akhirnya dapat menciptakan teknis melepas jiwa dari tubuh, dan tehnik tersebut telah dipatenkan dunia, dimana pemegang hak patennya adalah Robert Monre, pendiri Institute Monroe, yang khusus mempelajari tehnik keluarnya jiwa dari tubuh manusia. 
(3). Astraal Projection.
Secara Khusus (Klinis)
Peristiwa out of body experience adalah merupakan gambaran awal dari kematian, yang biasa dialami oleh pasien yang sedang menjalani operasi dengan sistem bius total. Menurut Psyscolog Inggris yang bernama Susan Black More, peristiwa out of body experience adalah merupakan indikasi putusnya hubungan Input sensor dalam tubuh, ketika kondisi manusia dalam konsisi sadar.
Pirn Van Lonel, melakukan penelitian pada 344 pasien penderita gagal jantung, 18 % dari yang bisa diselamatkan, mengalami out of body experience, dimana sang pasien melihat proses penyelamatan yang dilakukan pada dirinya.Demikian juga pasien gagal jantung yang sudah tidak memiliki wilayah kesadaran duniawi, namun begitu terselamatkan, jiwa pasien tersebut kembali pada raganya.

Secara Tehnis
Secara tehnis yang dihasilkan dari beberapa penelitian, tokoh-tokoh yang paling terkenal adalah:  Robert Monroe, beliau adalah peneliti terkenal dalam bidang Kesadaran manusia. Cicilia Green, peneliti dari Inggris, untuk mencapai out  body experience, bisa dicapai dengan tehnik atau methode Lucid Dream, yaitu methode memperdalam mimpi, karena mimpi bisa diatur sehingga mampu berimajinasi sampai bisa mengeluarkan roh dari tubuh manusia. Metode ini dipublikasi pada tahun 1968. Pada tahun 1968, Green menganalisis 400 Akun soal out of body experience, selanjutnya dipublikasi dalam bentuk taksonomi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kesadaran manusia.
Out of body experience juga dikenal dengan nama Astral Projection, banyak cara untuk mewujudkan out of body experience methode yang terbanyak adalah melalui Tidur dan mimpi
Robert Monroe, peneliti terkemuka dari Virginia, AS. Peneliti di bidang kesadaran manusia, peneliti ahli ilmu tidur (Sleep Learning) mengalami out of body experience 9 kali dalam 9 minggu, dimana jiwanya keluar dari tubuh. Dari pengalaman tersebut Monroe mulai meneliti cara melepas jiwa, hasil penelitiannya dilakukan sebagai berikut:
Tahun 1958, pada saat tidur mengalami fenomena yang luar biasa, dimana sebagian tubuh sulit bergerak, matanya seakan-akan melihat cahaya yang sangat terang. Hal tersebut terjadi berurut-turut, selama 9 kali dalam 6 minggu. Dia mengganggap itu sensasi dari getaran dari sebuah kelumpuhan, sedang jiwa tidak bisa bergerak, namun arwahnya bisa merasakan. Selanjutnya pengalaman tersebut dibukukan dengan judul Journey of the Body pada tahun 1971, dari buku tersebut muncul istilah Out Of Body Experince. Tahun 1971. Judul Buku Joerney out of the Body,  berisi panduan untuk mencapai out of body experience.
Tahun 1975, bukunya berjudul tentang Tehnik Oudio untuk merangsang fungsi otak, sehingga belahan otak kiri dan otak kanan menjadi disinkronisasi  atau Helm Syne (Helmispherical Sinkronisasi) yang bisa digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan mental, atau menjadi alat pemicu suatu kondisi kesadaran tubuh yang berubah. Hal tersebut berdasar Hepotesis Binoural Beats, ini diakui sebagai Hepotesis yang sudah dipatenkan.
Tahun 1978, ia mendirikan The Monrue Intitute, yang tujuannya untuk mengexplorasi tujuan manusia.
Tahun 1985, terbitlah bukunya berjudul Far Journey.
Tahun 1994, terbitlah bukunya berjudul Ultimate Journey.
Out Of Body Experince adalah proses keluarnya jiwa dari tubuh manusia yang bisa dipelajari dan dilakukan dengan berbagai cara antara lain Astral Projection. Dengan tahapan tehnis sebagai berikut : 
(a). Siapkan fisik dan mental, badan rileks, sehingga secara terukur gelombang otak akan turun, akan tertidur atau setengah tidur (Hypno Geenic). 
(b). Pengosongan pikiran, sehingga syaraf akan semakin rileks, untuk menuju Astral Projection. 
(c). Lepas gelang, kalung, pakaian dilonggarkan, lakukan relaksasi. 
(d). Jaga pikiran agar tetap membayangkan visualisasi untuk melepas Astral dari tubuh, pada tahap ini jangan terganggu perasaan takut, panik, yang bisa menggagalkan. 

(e).  Munculkan sugesti tubuh yang mulai ringan dan terbang, hingga akirnya Astral keluar dari tubuh kita, dan mulai mengamati sekitar.


Kupasan Out of Body Experince
Di lingkungan Sapta Darma dikenal dengan Wahyu ajaran Sujud, dimana di dalam pendalaman Sujudnya bisa dilakukan atau melakukan Racut (bila pinjam istilah Robert Monroe adalah Out of body Experince). Namun di dalam out of body experincenya Robert Monroe, Hyang Maha Suci kita atau Roh Suci kita  atau jiwa kita, astral kita, hanya berada pada posisi di atas kepala kita atau  di atas tubuh kita, berhenti sampai di situ. Sedangkan pada pendalaman Penelitian Sujud, dengan apa yang disebut Racut ada beberapa Kreteria sebagai berikut :
Racut Klasifikasi Dasar 1
Di sini warga hanya mampu sampai Kukutnya saudara sebelas. 

Racut Klasifikasi Dasar 2
Di sini warga mampu posisi Hyang Maha Suci sudah di atas Lubang 10. 

Racut Klasifikasi Dasar 3
Di sini HMS sudah keluar dari tubuh namun sasarannya bisa pada tempat-tempat tertentu, misalnya AS, Eropa, Kuburan dlsb, dikarenakan Racut pada klasifikasi ini Hyang Maha Suci masih diikuti oleh sebagian Saudara rohani kita.

Racut, di sini HMS sudah sampai pada lapisan ke sap tujuh, dengan tanda tanda khusus yang tidak perlu penulis sampaikan disini. Adapun Racut yang sempurna, pada posisi ini racutnya betul betul sempurna, dimana HMS kita telah sampai atau  menyatu dengan Sinar Cahya Allah.***

Sabtu, 10 April 2010

SERBA SERBI SARGUNG TUNTUNAN DAN SARNAS PERSADA 2009


Tentang Pengambilan Keputusan dan Kebijakan
Oleh: Drs. Agust Rahardjo M.Si.


Pengambilan keputusan dari suatu organisasi biasanya diatur dalam AD/ART, salah satunya dalam AD/ART disebutkan Sarasehan, Sarasehan Luar Biasa, Rapat Kerja, penjelasannya sebagai berikut :

Sarasehan (konferensi-konggres).
Sarasehan bisa diadakan di Tingkat Daerah (Kabupaten atau Kota) atau Propinsi biasa di sebut Sarasehan Daerah.
Sarasehan Agung (Sarasehan Nasional).
Sarasehan di Tingkat Pusat yang dihadiri dari Tokoh-tokoh atau Pengurus Daerah.
Serasehan Luar Biasa.
Diadakan dalam hal-hal yang sangat mendesak, penting, yang harus segera diselesaikan, yang hanya bisa dilaksanakan di Tingkat Pusat.

Rapat Kerja.
Untuk mengevaluasi hasil kerja tahun berjalan, dan untuk menentukan Program Tahunan, sebagai penjabaran dari hasil Srasehan atau Program Kerja yang diputuskan di Sarasehan (bisa Tingkat Pusat dan bisa Tingkat Daerah).
Sarasehan biasanya menghasilkan Keputusan-Keputusan dimana keputusan-keputusan tersebut ditetapkan atau diputuskan melalui sidang-sidang pleno. Secara pokok keputusan dalam sarasehan tersebut adalah :

Keputusan Nomor 1:
Pengesahan tata tertib yang ditindaklanjuti dalam bentuk tulisan yang dibacakan di sidang pleno dan ditandatangani Ketua dan Sekretaris sarasehan.

Keputusan Nomor 2 :
Keputusan pembentukan komisi-komisi yang ditindaklanjuti dalam bentuk tulisan yang dibacakan di sidang pleno dan ditandatangani Ketua dan Sekretaris sarasehan. Ini bisa dibuatkan Keputusan tersendiri  atau tidak tergantung SC.

Keputusan Nomor 3 :

Struktur kepengurusan pejabat yang dipilih dalam masa tertentu sesuai dengan AD/ART yang ditindaklanjuti dalam bentuk tulisan yang dibacakan di sidang pleno dan ditandatangani Ketua dan Sekretaris sarasehan. 
 
Keputusan Nomor 4 :
Program kerja yang ditindaklanjuti dalam bentuk tulisan yang dibacakan di sidang pleno dan ditandatanggani Ketua dan Sekretaris sarasehan.

Keputusan Nomor 1 dan 2 dibacakan pada sidang pleno  I. Keputusan Nomor 3, 4  dibacakan pada sidang pleno III (terakhir, sebelum Sarasehan ditutup).

Mengenai Jalannya (Mkanisme) Sidang Pleno
Setelah sidang dibuka dilanjutkan sambutan-sambutan, diteruskan Sidang Pleno  I yang dipimpin oleh Ketua Sementara, yaitu Ketua SC yang tugasnya memilih Ketua Sidang Pleno dan Sekretaris Pleno. Setelah Ketua Sidang Pleno dan Sekretaris Pleno definitif terpilih, selanjutnya Ketua Pleno Sementara menyerahkan palu sidang kepada Ketua dan Sekretaris Sidang Pleno difinitif.


 
Sidang Pleno  I :
Dipimpin Ketua Sidang Difinitif, isinya :
(1) Pembacaan Naskah Tatatertip (bisa dilakukan oleh Ketua Sidang Pleno Sementara).
(2) Keputusan Pleno tentang Pengesahan Tata Tertib (Keputusan Sarasehan yang Pertama).
(3)  Pengarahan, pandangan umum, nara sumber, tokoh … dan sebagainya.
(4) Pertanggungjawaban Pejabat lama, bisa berupa laporan kegiatan pejabat lama.
(5) Tanggapan Peserta Sidang (bisa dilakukan atau tidak).
(6) Keputusan Ketua Sidang dengan ketok palu sidang bahwa Ketua atau pejabat lama dimisioner.
(7) Pembentukan Komisi-Komisi.
(8) Keputusan Sidang tentang pembentukan Komisi (Keputusan Sarasehan yang Kedua).
 
Sidang Komisi :
Ketua Sidang Komisi sementara dipimpin SC Tugasnya adalah :
Memberikan arahan atau pandangan ruang lingkup atau bidang dari komisi tersebut, sesuai dengan hasil Rapat SC. Pemilihan Ketua dan Sekretaris Komisi, Penyerahan Ketua Komisi dari Ketua Sementara kepada Ketua Komisi Terpilih atau Difinitif, Sidang Komisi dipimpin oleh Ketua Komisi terpilih, dan Proses Sidang Komisi.
 
Sidang Pleno II :
Masing-masing Komisi mempresentasikan hasil Sidang Komisi atau Keputusan Komisi, melalui Juru bicara Komisi. Sanggahan, koreksi, masukan dari komisi lain. Ditetapkan Tim Perumus, yang akan mengakomidir hasil Semua Komisi, yang telah mendapat saran, usulan,  koreksi.
Waktu Istirahat, Sujud, Makan.
Pada posisi ini Tim Perumus bekerja marathon, sampai menghasilkan Keputusan yang sudah dalam bentuk tulisan (Calon Keputusan Sarasehan).
 
Sidang Pleno III :
Pembacaan Keputusan Pleno/ hasil kerja dari Tim Perumus
Acara selesai dengan membacakan : Hasil keputusan sarasehan sah menurut disiplin ilmu organisasi dan ilmu administrasi.
Namun bagaimana dengan Sargung Tuntunan dan Sarnas Persada tanggal 25-26 Desember 2009 yang baru lalu? Tim Perumus Mandul, Tidak berfungsi, Tidak ada  Sidang Pleno III, yang memutuskan Hasil hasil Sargung Tuntunan maupun Sarnas Persada, yang ada adalah “Membacakan” Keputusan Komisi Khusus dari Sargung Tuntunan dan Keputusan Komisi I dari Sarnas Persada. Selanjutnya selesai pembacaan Keputusan Komisi, Sargung Tuntunan dan Sarnas Persada langsung ditutup, tanpa ada sidang Pleno Ke.III yang memutuskan hasil-hasil Keputusan Komisi yang sudah dikritisi dalam Sidang Pleno II dan di resum oleh Tim Perumus.

Komisi Khusus
Dalam Sargung Tuntunan langsung membacakan hasil Keputusan Tim Khusus tersebut, bukan keputusan Pleno III. Kalau keputusan Sidang Pleno III tidak hanya membacakan Tuntunan Agung terpilih yang dibacakan namun juga program kerjanya lima tahun ke depan.

Komisi  I
Dalam Sarnas Persada langsung membacakan Keputusan Komisi I berupa Susunan Kepengurusan Persada yang baru, bukan dibacakan dalam Sidang Pleno III atau  Keputusan Pleno III. Kalau keputusan Sidang Pleno III tidak hanya susunan Pengurus yang dibacakan namun juga program kerjanya lima tahun ke depan.
Kenapa tidak dibacakan? 
 
Karena Tim Perumus Sargung Tuntunan dan Sarnas Persada, tidak boleh meresume hasil Pleno II oleh SC, bahan tersebut akan dikerjakan sendiri oleh SC di daerah.  Menurut pendapat bapak, ibu, saudara, dan adik-adik, di mata disiplin ilmu organisasi serta ilmu administrasi maupun kebiasaan serta pelaksanaan sidang-sidang ormas, sudah benarkah hasil Sargung Tuntunan dan Sarnas Persada?***

Kamis, 18 Maret 2010

Tebarkan Senyum dan Carilah Teman!

Sore hari tepatnya tanggal 28 Desember 2008, merupakan acara pergantian tahun Jawa sekaligus tahun Hijriah. Seperti tahun-tahun sebelumnya, pergantian tahun Jawa yang diawali dengan bulan Suro atau tahun Hijriah yang juga disebut sebagai bulan Muharram tidak ada hiruk pikuk apapun. Berbeda dengan perayaan tahun baru Masehi yang selalu dirayakan oleh manusia seluruh dunia.

Memasuki bulan Suro ataupun Muharram, maka kita kembali harus melakukan ibadah. Ibadah apa itu? Ibadah itu terdiri dari 2 jenis yakni ibadah raga dan ibadah bathin. Dalam satu tahun yang berisi 12 bulan, terbagi menjadi 2 bulan dimana kita harus melaksanakan ibadah. 2 bulan tersebut adalah bulan poso/Ramadhan dan Suro/Muharram. Di ke 2 bulan tersebut, ibadah yang dilakukan pun berbeda.

Pada bulan poso/ramadhan, ibadah yang dilakukan adalah ibadah ragawi. Artinya, kita berpuasa dengan menggunakan raga kita dengan tidak makan dan minum dan dipadukan dengan ibadah bathin seperti menahan hawa nafsu. Tetapi ketika menginjak ke bulan Suro/Muharram, maka ibadah yang dilakukan cenderung mengarah ke ibadah bathin.

Dari pemahaman Kejawen, ritual di bulan Suro diawali pada malam 1 Suro hingga berakhirnya bulan. Artinya, laku dan olah bathin yang merupakan ibadah bathin tersebut lebih sering dilakukan dibandingkan bulan-bulan lainnya. Semuanya itu semata-mata hanya untuk berupaya mendekatkan diri dengan GUSTI ALLAH.

Lho, apakah bulan-bulan lain tidak boleh sering melakukan laku dan olah bathin? Boleh saja, siapa yang bilang tidak boleh. Malah jika sesering mungkin kita berhubungan dengan GUSTI ALLAH, akan semakin mendekatkan diri kita denganNYA.

Ada 2 hal utama yang patut untuk kita lakukan di tahun Je 1942 ini seperti pada tahun-tahun sebelumnya yakni "tansah manembah marang GUSTI ALLAH" (Selalu menyembah GUSTI ALLAH) dan apik marang sak-padan-padane urip" (berbuat baik pada sesama makhluk hidup). Kenapa disebut utama, karena itulah hakekat dari hidup kita di dunia ini. Beberapa hal cara yang bisa dilakukan antara lain tebarkan senyum di manapun Anda berada, carilah teman sebanyak-banyaknya, janganlah mencari musuh. Itu merupakan beberapa cara berbuat baik pada sesama makhluk hidup. Selamat tahun baru tahun Je 1942.

Senin, 08 Maret 2010

Melihat, Mendengar, Merasa, Meraba dengan Kalbu

Dalam setiap tubuh manusia terdapat satu piranti khusus yang diciptakan oleh GUSTI ALLAH. Namun kebanyakan manusia tidak menyadari pentingnya piranti itu. Piranti tersebut merupakan bagian tubuh manusia yang berukuran kecil.Namun jika satu bagian tubuh ini rusak, maka rusaklah manusia itu.

Bagian tersebut adalah hati nurani atau yang dikenal dengan kalbu. Begitu pentingnya arti dari sebuah kalbu, sampai-sampai Rasulullah Muhammad SAW mengungkapkan lewat hadistnya,"Dalam tubuh setiap orang terdapat bagian yang terkecil yang disebut kalbu. Jika kalbunya rusak, maka rusaklah akhlak manusia itu. Namun, jika kalbunya baik, maka baiklah akhlak manusia itu".

Begitu pentingnya sebuah hati nurani atau kalbu itu hingga piranti yang merupakan bagian dari tubuh kita itu menjadi 'tali' pengikat antara kita dan GUSTI ALLAH.

Pernah ada seorang teman yang menyatakan,"saya tidak suka bekerja dengan hati nurani. Saya lebih suka bekerja dengan logika". Agak kaget juga saya mendengar perkataannya. Memang manusia dibekali dengan logika. Tetapi tidak semua yang ada di muka bumi ini bisa dilogika. Karena GUSTI ALLAH menciptakan alam ini ada dua yakni alam nyata dan alam ghaib. Bagaimana bisa masuk logika jika menyangkut alam ghaib? Lalu dengan apa manusia bisa menyaksikan keberadaan alam ghaib?

Jawabannya hanya satu yaitu dengan kalbu. Jika diasah secara terus menerus maka kalbu manusia itu akan lebih tajam daripada pisau. Namun sebaliknya, jika kalbu tersebut tidak pernah diasah, maka akan tumpul. Kebanyakan pelaku spiritual sangat memperhatikan betul terhadap kalbu. Mereka melihat dengan kalbu, merasa dengan kalbu, mendengar dengan kalbu bahkan kadang-kadang mereka meraba dengan kalbu.

Apakah otak manusia sebagai tempat untuk berpikir tentang logika tidak penting? Wah, sangat penting. GUSTI ALLAH tidak akan menciptakan apapun di dunia ini yang sia-sia. Semuanya pasti ada gunanya. Untuk itu, antara otak manusia dan kalbu memiliki hubungan yang sangat penting.

Agar hati bisa setajam belati, lakukanlah latihan dengan kalbu Anda. Aktifkanlah kalbu Anda agar bisa lebih mendekat pada GUSTI ALLAH. Pada dasarnya, semua yang ada di dunia ini ada dalam kalbu. Kegembiraan, kesenangan, kebahagiaan, rasa syukur dan lain-lainnya ada pada kalbu. Oleh karena itu, gunakanlah kalbu Anda untuk selalu bisa berkomunikasi dengan GUSTI ALLAH.

Jumat, 05 Maret 2010

Sekilas Budaya Bali


SEJARAH
Bali berasal dari kata “Bal” dalam bahasa Sansekerta berarti "Kekuatan", dan "Bali" berarti "Pengorbanan" yang berarti supaya kita tidak melupakan kekuatan kita. Supaya kita selalu siap untuk berkorban. Bali mempunyai 2 pahlawan nasional yang sangat berperan dalam mempertahankan daerahnya yaitu I Gusti Ngurah Rai dan I Gusti Ketut Jelantik.


DESKRIPSI LOKASI
Pulau Bali adalah bagian dari Kepulauan Sunda Kecil yang beribu kota Denpasar. Tempat-tempat penting lainnya adalah Ubud sebagai pusat seni terletak di Kabupaten Gianyar, sedangkan Kuta, Sanur, Seminyak, dan Nusa Dua adalah beberapa tempat yang menjadi tempat tujuan pariwisata, baik wisata pantai maupun tempat peristirahatan. Suku bangsa Bali dibagi menjadi 2 yaitu: Bali Aga (penduduk asli Bali biasa tinggal di daerah trunyan), dan Bali Mojopahit (Bali Hindu / keturunan Bali Mojopahit).

UNSUR – UNSUR BUDAYA

A. BAHASA
Bali sebagian besar menggunakan bahasa Bali dan bahasa Indonesia, sebagian besar masyarakat Bali adalah bilingual atau bahkan trilingual. Bahasa Inggris adalah bahasa ketiga dan bahasa asing utama bagi masyarakat Bali yang dipengaruhi oleh kebutuhan industri pariwisata. Bahasa Bali di bagi menjadi 2 yaitu, bahasa Aga yaitu bahasa Bali yang pengucapannya lebih kasar, dan bahasa Bali Mojopahit.yaitu bahasa yang pengucapannya lebih halus.

B. PENGETAHUAN
Banjar atau bisa disebut sebagai desa adalah suatu bentuk kesatuan-kesatuan social yang didasarkan atas kesatuan wilayah. Kesatuan social tersebut diperkuat oleh kesatuan adat dan upacara keagamaan. Banjar dikepalahi oleh klian banjar yang bertugas sebagai menyangkut segala urusan dalam lapangan kehidupan sosial dan keagamaan,tetapi sering kali juga harus memecahkan soal-soal yang mencakup hukum adat tanah, dan hal-hal yang sifatnya administrasi pemerintahan.

C. TEKNOLOGI
Masyarakat Bali telah mengenal dan berkembang system pengairan yaitu system subak yang mengatur pengairan dan penanaman di sawah-sawah. Dan mereka juga sudah mengenal arsitektur yang mengatur tata letak ruangan dan bangunan yang menyerupai bangunan Feng Shui. Arsitektur merupakan ungkapan perlambang komunikatif dan edukatif. Bali juga memiliki senjata tradisional yaitu salah satunya keris. Selain untuk membela diri, menurut kepercayaan bila keris pusaka direndam dalam air putih dapat menyembuhkan orang yang terkena gigitan binatang berbisa.

D. ORGANISASI SOSIAL
a). Perkawinan
Penarikan garis keturunan dalam masyarakat Bali adalah mengarah pada patrilineal. System kasta sangat mempengaruhi proses berlangsungnya suatu perkawinan, karena seorang wanita yang kastanya lebih tinggi kawin dengan pria yang kastanya lebih rendah tidak dibenarkan karena terjadi suatu penyimpangan, yaitu akan membuat malu keluarga dan menjatuhkan gengsi seluruh kasta dari anak wanita.
Di beberapa daerah Bali ( tidak semua daerah ), berlaku pula adat penyerahan mas kawin ( petuku luh), tetapi sekarang ini terutama diantara keluarga orang-orang terpelajar, sudah menghilang.
b). Kekerabatan
Adat menetap diBali sesudah menikah mempengaruhi pergaulan kekerabatan dalam suatu masyarakat. Ada macam 2 adat menetap yang sering berlaku diBali yaitu adat virilokal adalah adat yang membenarkan pengantin baru menetap disekitar pusat kediaman kaum kerabat suami,dan adat neolokal adalah adat yang menentukan pengantin baru tinggal sendiri ditempat kediaman yang baru. Di Bali ada 3 kelompok klen utama (triwangsa) yaitu: Brahmana sebagai pemimpin upacara, Ksatria yaitu : kelompok-klompok khusus seperti arya Kepakisan dan Jaba yaitu sebagai pemimpin keagamaan.
c). Kemasyarakatan
Desa, suatu kesatuan hidup komunitas masyarakat bali mencakup pada 2 pengertian yaitu : desa adat dan desa dinas (administratif). Keduanya merupakan suatu kesatuan wilayah dalam hubungannya dengan keagamaan atau pun adat istiadat, sedangkan desa dinas adalah kesatuan admistratif. Kegiatan desa adat terpusat pada bidang upacara adat dan keagamaan, sedangkan desa dinas terpusat pada bidang administrasi, pemerintahan dan pembangunan.

E. MATA PENCAHARIAN
Pada umumnya masyarakat bali bermata pencaharian mayoritas bercocok tanam, pada dataran yang curah hujannya yang cukup baik, pertenakan terutama sapi dan babi sebagai usaha penting dalam masyarakat pedesaan di Bali, baik perikanan darat maupun laut yang merupakan mata pecaharian sambilan, kerajinan meliputi kerajinan pembuatan benda anyaman, patung, kain, ukir-ukiran, percetakaan, pabrik kopi, pabrik rokok, dll. Usaha dalam bidang ini untuk memberikan lapangan pekerjaan pada penduduk. Karena banyak wisatawan yang mengunjungi bali maka timbullah usaha perhotelan, travel, toko kerajinan tangan.

F. RELIGI
Agama yang di anut oleh sebagian orang Bali adalah agama Hindu sekitar 95%, dari jumlah penduduk Bali, sedangkan sisanya 5% adalah penganut agama Islam, Kristen, Katholik, Budha, dan Kong Hu Cu. Tujuan hidup ajaran Hindu adalah untuk mencapai keseimbangan dan kedamaian hidup lahir dan batin.orang Hindu percaya adanya 1 Tuhan dalam bentuk konsep Trimurti, yaitu wujud Brahmana (sang pencipta), wujud Wisnu (sang pelindung dan pemelihara), serta wujud Siwa (sang perusak). Tempat beribadah dibali disebut pura. Tempat-tempat pemujaan leluhur disebut sangga. Kitab suci agama Hindu adalah weda yang berasal dari India.

Orang yang meninggal dunia pada orang Hindu diadakan upacara Ngaben yang dianggap sanggat penting untuk membebaskan arwah orang yang telah meninggal dunia dari ikatan-ikatan duniawinya menuju surga. Ngaben itu sendiri adalah upacara pembakaran mayat. Hari raya umat agama hindu adalah Nyepi yang pelaksanaannya pada perayaan tahun baru saka pada tanggal 1 dari bulan 10 (kedasa), selain itu ada juga hari raya galungan, kuningan, saras wati, tumpek landep, tumpek uduh, dan siwa ratri.

Pedoman dalam ajaran agama Hindu yakni : (1).tattwa (filsafat agama), (2). Etika (susila), (3).Upacara (yadnya). Dibali ada 5 macam upacara (panca yadnya), yaitu (1). Manusia Yadnya yaitu upacara masa kehamilan sampai masa dewasa. (2). Pitra Yadnya yaitu upacara yang ditujukan kepada roh-roh leluhur. (3).Dewa Yadnya yaitu upacara yang diadakan di pura / kuil keluarga.(4).Rsi yadnya yaituupacara dalam rangka pelantikan seorang pendeta. (5). Bhuta yadnya yaitu upacara untuk roh-roh halus disekitar manusia yang mengganggu manusia.

G. KESENIAN
Kebudayaan kesenian di bali di golongkan 3 golongan utama yaitu seni rupa misalnya seni lukis, seni patung, seni arsistektur, seni pertunjukan misalnya seni tari, seni sastra, seni drama, seni musik, dan seni audiovisual misalnya seni video dan film.

NILAI-NILAI BUDAYA
1. Tata krama : kebiasaan sopan santun yang di sepakati dalam lingkungan pergaulan antar manusia di dalam kelompoknya.
2. Nguopin : gotong royong.
3. Ngayah atau ngayang : kerja bakti untuk keperluan agama.
4. Sopan santun : adat hubungan dalam sopan pergaulan terhadap orang-orang yang berbeda sex.

ASPEK PEMBANGUNAN
Di Bali jenis mata pencahariannya adalah bertani disawah. Mata pencaharian pokok tersebut mulai bergeser pada jenis mata pencaharian non pertanian. Pergeseran ini terjadi karena bahwa pada saat sekarang dengan berkembangnya industri pariwisata di daerah Bali, maka mereka menganggap mulai berkembanglah pula terutama dalam mata pencaharian penduduknya.

Sehingga kebanyakan orang menjual lahannya untuk industri pariwisata yang dirasakan lebih besar dan lebih cepat dinikmati. Pendapatan yang diperoleh saat ini kebanyakan dari mata pencaharian non pertanian, seperti : tukang, sopir, industri, dan kerajinan rumah tangga. Industri kerajinan rumah tangga seperti memimpin usaha selip tepung, selip kelapa, penyosohan beras, usaha bordir atau jahit menjahit.
DAFTAR PUSTAKA
  • Swarsi, Si Luh;1986;Kedudukan Dan Peranan Wanita Pedesaan Daerah Bali;Jakarta: Departeman Pendidikan Dan Kebudayaan
  • Dhana, I Nyoman;1994;Pembinaan Budaya Dalam Keluarga Daerah Bali;Bali: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan

Senin, 01 Maret 2010

Butir-Butir Budaya Jawa

Hanggayuh Kasampurnaning Hurip Berbudi Bawalesana
Ngudi Sejatining Becik


Ketuhanan
1. Pangeran iku siji, ana ing ngendi papan langgeng, sing nganakake jagad iki saisine dadi sesembahane wong sak alam kabeh, nganggo carane dhewe-dhewe.
2. Pangeran iku ana ing ngendi papan, aneng siro uga ana pangeran, nanging aja siro wani ngaku pangeran.
3. Pangeran iku adoh tanpa wangenan, cedhak tanpa senggolan.
4. Pangeran iku langgeng, tan kena kinaya ngapa, sangkan paraning dumadi.
5. Pangeran iku bisa mawujud, nanging wewujudan iku dudu Pangeran.
6. Pangeran iku kuwasa tanpa piranti, akarya alam saisine, kang katon lan kang ora kasat mata.
7. Pangeran iku ora mbedak-mbedakake kawulane.
8. Pangeran iku maha welas lan maha asih hayuning bawana marga saka kanugrahaning Pangeran.
9. Pangeran iku maha kuwasa, pepesthen saka karsaning Pangeran ora ana sing bisa murungake.
10. Urip iku saka Pangeran, bali marang Pangeran.
11. Pangeran iku ora sare.
12. Beda-beda pandumaning dumadi.
13. Pasrah marang Pangeran iku ora ateges ora gelem nyambut gawe, nanging percaya yen Pangeran iku maha Kuwasa. Dene kasil orane apa kang kita tuju kuwi saka karsaning Pangeran.
14. Pangeran nitahake sira iku lantaran biyung ira, mulo kudu ngurmat biyung ira.
15. Sing bisa dadi utusaning Pangeran iku ora mung jalma manungsa wae.
16. Purwa madya wasana.
17. Owah gingsiring kahanan iku saka karsaning Pangeran kang murbeng jagad.
18. Ora ana kasekten sing madhani pepesthen awit pepesthen iku wis ora ana sing bisa murungake.
19. Bener kang asale saka Pangeran iku lamun ora darbe sipat angkara murka lan seneng gawe sangsaraning liyan.
20. Ing donya iki ana rong warna sing diarani bener, yakuwi bener mungguhing Pangeran lan bener saka kang lagi kuwasa.
21. Bener saka kang lagi kuwasa iku uga ana rong warna, yakuwi kang cocok karo benering Pangeran lan kang ora cocok karo benering Pangeran.
22. Yen cocok karo benering Pangeran iku ateges bathara ngejawantah, nanging yen ora cocok karo benering Pangeran iku ateges titisaning brahala.
23. Pangeran iku dudu dewa utawa manungsa, nanging sakabehing kang ana iki uga dewa lan manungsa asale saka Pangeran.
24. Ala lan becik iku gandengane, kabeh kuwi saka karsaning Pangeran.
25. manungsa iku saka dating Pangeran mula uga darbe sipating Pangeran.
26. Pangeran iku ora ana sing Padha, mula aja nggambar-nggambarake wujuding Pangeran.
27. Pangeran iku kuwasa tanpa piranti, mula saka kuwi aja darbe pangira yen manungsa iku bisa dadi wakiling Pangeran.
28. Pangeran iku kuwasa, dene manungsa iku bisa.
29. Pangeran iku bisa ngowahi kahanan apa wae tan kena kinaya ngapa.
30. Pangeran bisa ngrusak kahanan kang wis ora diperlokake, lan bisa gawe kahanan anyar kang diperlokake.
31. Watu kayu iku darbe dating Pangeran, nanging dudu Pangeran.
32. Manungsa iku bisa kadunungan dating Pangeran, nanging aja darbe pangira yen manungsa mau bisa diarani Pangeran.
33. Titah alus lan titah kasat mata iku kabeh saka Pangeran, mula aja nyembah titah alus nanging aja ngina titah alus.
34. Samubarang kang katon iki kalebu titah kang kasat mata, dene liyane kalebu titah alus.
35. Pangeran iku menangake manungsa senajan kaya ngapa.
36. Pangeran maringi kawruh marang manungsa bab anane titah alus mau.
37. Titah alus iku ora bisa dadi manungsa lamun manungsa dhewe ora darbe penyuwun marang Pangeran supaya titah alus mau ngejawantah.
38. Sing sapa wani ngowahi kahanan kang lagi ana, iku dudu sadhengah wong, nanging minangka utusaning Pangeran.
39. Sing sapa gelem nglakoni kabecikan lan ugo gelem lelaku, ing tembe bakal tampa kanugrahaning Pangeran.
40. Sing sapa durung ngerti lamun piyandel iku kanggo pathokaning urip, iku sejatine durung ngerti lamun ana ing donyo iki ono sing ngatur.
41. Sakabehing ngelmu iku asale saka Pangeran kang Mahakuwasa.
42. Sing sapa mikani anane Pangeran, kalebu urip kang sempurna.

Kerohanian
1. Dumadining sira iku lantaran anane bapa biyung ira.
2. Manungsa iku kanggonan sipating Pangeran.
3. Titah alus iku ana patang warna, yakuwi kang bisa mrentah manungsa nanging ya bisa mitulungi manungsa, kapindho kang bisa mrentah manungsa nanging ora mitulungi manungsa, katelu kang ora bisa mrentah manungsa nanging bisa mitulungi manungsa, kapat kang ora bisa mrentah manungsa nanging ya ora bisa mrentah manungsa.
4. Lelembut iku ana rong warna, yakuwi kang nyilakani lan kang mitulungi.
5. Guru sejati bisa nuduhake endi lelembut sing mitulungi lan endi lelembut kang nyilakani.
6. Ketemu Gusti iku lamun sira tansa eling.
7. Cakra manggilingan.
8. Jaman iku owah gingsir.
9. Gusti iku dumunung ana atining manungsa kang becik, mulo iku diarani Gusti iku bagusing ati.
10. Sing sapa nyumurupi dating Pangeran iku ateges nyumurupi awake dhewe. Dene kang durung mikani awake dhewe durung mikani dating Pangeran.
11. Kahanan donya ora langgeng, mula aja ngegungake kesugihan lan drajat ira, awit samangsa ana wolak-waliking jaman ora ngisin-ngisini.
12. Kahanan kang ana iki ora suwe mesthi ngalami owah gingsir, mula aja lali marang sapadha-padhaning tumitah.
13. Lamun sira kepengin wikan marang alam jaman kelanggengan, sira kudu weruh alamira pribadi. Lamun sira durung mikan alamira pribadi adoh ketemune.
14. Yen sira wus mikani alamira pribadi, mara sira mulanga marang wong kang durung wikan.
15. Lamun sira wus mikani alamira pribadi, alam jaman kelanggengan iku cedhak tanpa senggolan, adoh tanpa wangenan.
16. Lamun sira durung wikan alamira pribadi mara takono marang wong kang wus wikan.
17. Lamun sira durung wikan kadangira pribadi, coba dulunen sira pribadi.
18. Kadangira pribadi ora beda karo jeneng sira pribadi, gelem nyambut gawe.
19. Gusti iku sambaten naliko sira lagi nandang kasangsaran. Pujinen yen sira lagi nampa kanugrahaning Gusti.
20. Lamun sira pribadi wus bisa caturan karo lelembut, mesthi sira ora bakal ngala-ala marang wong kang wus bisa caturan karo lelembut.
21. Sing sapa nyembah lelembut ikut keliru, jalaran lelembut iku sejatine rowangira, lan ora perlu disembah kaya dene manembah marang Pangeran.
22. Weruh marang Pangeran iku ateges wis weruh marang awake dhewe, lamun durung weruh awake dhewe, tangeh lamun weruh marang Pangeran.
23. Sing sapa seneng ngrusak katentremane liyan bakal dibendu dening Pangeran lan diwelehake dening tumindake dhewe.
24. Lamun ana janma ora kepenak, sira aja lali nyuwun pangapura marang Pangeranira, jalaran Pangeranira bakal aweh pitulungan.
25. Gusti iku dumunung ana jeneng sira pribadi, dene ketemune Gusti lamun sira tansah eling.

Kemanusiaan

1. Rame ing gawe sepi ing pamrih, memayu hayuning bawana.
2. Manungsa sadrema nglakoni, kadya wayang umpamane.
3. Ati suci marganing rahayu.
4. Ngelmu kang nyata, karya reseping ati.
5. Ngudi laku utama kanthi sentosa ing budi..
6. Jer basuki mawa beya.
7. Ala lan becik dumunung ana awake dhewe.
8. Sing sapa lali marang kebecikaning liyan, iku kaya kewan.
9. Titikane aluhur, alusing solah tingkah budi bahasane lang legawaning ati, darbe sipat berbudi bawaleksana.
10. Ngunduh wohing pakarti..
11. Ajining dhiri saka lathi lan budi.
12. Sing sapa weruh sadurunge winarah lan diakoni sepadha-padhaning tumitah iku kalebu utusaning Pangeran.
13. Sing sapa durung wikan anane jaman kelanggengan iku, aja ngaku dadi janma linuwih.
14. Tentrem iku saranane urip aneng donya.
15. Yitna yuwana lena kena.
16. Ala ketera becik ketitik.
17. Dalane waskitha saka niteni.
18. Janma tan kena kinira kinaya ngapa.
19. Tumrap wong lumuh lan keset iku prasasat wisa, pangan kang ora bisa ajur iku kena diarani wisa, jalaran mung bakal nuwuhake lelara.
20. Klabang iku wisane ana ing sirah. Kalajengking iku wisane mung ana pucuk buntut. Yen ula mung dumunung ana ula kang duwe wisa. Nanging durjana wisane dumunung ana ing sekujur badan.
21. Geni murub iku panase ngluwihi panase srengenge, ewa dene umpama ditikelake loro, isih kalah panas tinimbang guneme durjana.
22. Tumprape wong linuwih tansah ngundi keslametaning liyan, metu saka atine dhewe.
23. Pangucap iku bisa dadi jalaran kebecikan. Pangucap uga dadi jalaraning pati, kesangsaran, pamitran. Pangucap uga dadi jalaraning wirang.
24. Sing bisa gawe mendem iku: 1) rupa endah; 2) bandha, 3) dharah luhur; 4) enom umure. Arak lan kekenthelan uga gawe mendem sadhengah wong. Yen ana wong sugih, endah warnane, akeh kapinterane, tumpuk-tumpuk bandhane, luhur dharah lan isih enom umure, mangka ora mendem, yakuwi aran wong linuwih.
25. Sing sapa lena bakal cilaka.
26. Mulat salira, tansah eling kalawan waspada.
27. Andhap asor.
28. Sakbegja-begjane kang lali luwih begja kang eling klawan waspada.
29. Sing sapa salah seleh.
30. Nglurug tanpa bala.
31. Sugih ora nyimpen.
32. Sekti tanpa maguru.
33. Menang tanpa ngasorake
34. Rawe-rawe rantas malang-malang putung
35. Mumpung anom ngudiya laku utama.
36. Yen sira dibeciki ing liyan, tulisen ing watu, supaya ora ilang lan tansah kelingan. Yen sira gawe kebecikan marang liyan tulisen ing lemah, supaya enggal ilang lan ora kelingan.
37. Sing sapa temen tinemu.
38. Melik nggendhong lali.
39. Kudu sentosa ing budi.
40. Sing prasaja.
41. Balilu tau pinter durung nglakoni.
42. Tumindak kanthi duga lan prayogo.
43. Percaya marang dhiri pribadi.
44. Nandur kebecikan.
45. Janma linuwih iku bisa nyumurupi anane jaman kelanggengan tanpa ngalami pralaya dhisik.
46. Sapa kang mung ngakoni barang kang kasat mata wae, iku durung weruh jatining Pangeran.
47. Yen sira kasinungan ngelmu kang marakake akeh wong seneng, aja sira malah rumangsa pinter, jalaran menawa Gusti mundhut bali ngelmu kang marakake sira kaloka iku, sira uga banjur kaya wong sejene, malah bisa aji godhong jati aking.
48. Sing sapa gelem gawe seneng marang liyan, iku bakal oleh wales kang luwing gedhe katimbang apa kang wis ditindakake.