Semar disebut juga Badranaya

Mengemban sifat among, membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia.

Benih yang baik untuk hasil terbaik

Apabila menginginkan hasil yang baik maka tentulah dipilih bibit yang baik pula, bibit yang unggul, bibit yang sempurna.

Tesing dumadi, asal mula terjadinya Manusia.

Asal mula manusia adalah dari getaran tanaman dan getaran binatang yang kita makan, dan akhirnya berwujud air putih (air suci) dengan sinar cahaya tri tunggal yaitu nurcahya = sinar cahaya allah, nurrasa = sarinya Bapak dan nur buat = sarinya Ibu).

Pancasila..sikap hidup bangsa Indonesia.

Menurut ajaran spiritual Budaya Jawa, Pancasila merupakan bagian dari Wahyu Sapta Warsita Panca Pancataning Mulya (Wahyu tujuh ajaran yang masing-masing berisi lima butir ajaran mencapai kemuliaan, ketentraman, dan kesejahteraan kehidupan alam semesta hingga alam keabadian/akhirat).

Apakah yang kita miliki..?

Ketika mati pun kita tidak akan membawa sepeser pun uang. Masihkah kita merasa sebagai makhluk yang adigang-adigung-adiguno?

Sujud dasawarsa, Sujudnya warga KSD

Sujud secara Kerohanian Sapta Darma adalah tata cara menembah kehadapan Hyang Maha Kuasa.

Kita tidak sendiri

Alam beserta isinya adalah milik kita bersama...mari jaga kerukunan, kebersamaan dalam menjaga kelestarian demi generasi selanjudnya

out of body experience

Peristiwa out of body experience adalah merupakan gambaran awal dari kematian, Adalah merupakan indikasi putusnya hubungan Input sensor dalam tubuh, ketika kondisi manusia dalam konsisi sadar.

Butir-butir budaya jawa

Hanggayuh Kasampurnaning Hurip Berbudi Bawalesana Ngudi Sejatining Becik

Wewarah Tujuh

Merupakan kewajiban yang harus dijalankan Warga SAPTA DARMA dalam kehidupannya.

Sesanti

Sikap dan perilaku hidup dalam masyarakat yang harus diciptakan oleh Warga SAPTA DARMA.

Wejangan

Wejangan Panuntun Agung Sri Gutomo bagi warga SAPTA DARMA dalam mengenali jati diri yang sebenarnya.

Jumat, 18 Maret 2011

NYALAKAN "LAMPU HATI"

Hidup ini diciptakan oleh GUSTI ALLAH berpasang-pasangan. Ada siang-malam, lelaki-perempuan, orangtua-anak-anak, besar-kecil, tua-muda, baik-buruk, bahagia-sedih dan lain-lain. Semuanya itu merupakan pasang-pasangan yang sudah ditetapkan oleh GUSTI ALLAH. Jikalau hidup kita sedang mengalami kebahagiaan, janganlah lantas kita
bangga. Pasalnya, dibalik kebahagiaan itu pasti ada kesedihan. Tidak mungkin hidup seseorang di dunia ini bahagia selamanya karena kita semua hidup di alam fana (tidak abadi).



Demikian juga ketika kita sedang dilanda kesulitan hidup, janganlah berputus-asa. Karena dibalik kesulitan hidup itu pasti ada kemudahan. Sering kita mendengar orang bijak yang mengatakan,"Setiap peristiwa pasti ada hikmahnya". Bahkan Kanjeng Nabi Muhammad SAW sendiri lewat hadistnya pernah mengungkapkan beberapa hal penting. Apa itu?

1. Ingatlah sehat-mu sebelum sakit
2. Ingatlah muda sebelum tua
3. Ingatlah kaya sebelum miskin
4. Ingatlah lapang sebelum sempit
5. Ingatlah hidup sebelum mati

Hidup bahagia itu bisa dicapai jika hati kita terlepas dari gundah gulana, tidak ada kecemasan, kekhawatiran dan ketakutan untuk menghadapi hidup ini. Dengan hati yang tenang, maka segala persoalan hidup akan bisa diatasi karena hati yang tenang akan membuat pikiran kita lebih jernih dalam memandang segala persoalan yang ada dalam hidup ini.

Bagi masyarakat Kejawen, untuk membuat hati menjadi tenang, maka langkah utama yang harus dilakukan adalah menyalakan "lampu" dalam hati kita yang gelap. Dengan begitu, maka hati kita menjadi terang benderang. Bagaimana untuk mendapatkan hati yang terang benderang? Orang Jawa yang berpaham Kejawen memiliki kiat tersendiri. Kiat itu adalah dengan jalan bertapa.

Kata-kata bertapa yang dikenal oleh masyarakat Kejawen bukan berarti menyendiri di hutan ataupun di gunung, tetapi bisa saja bertapa itu dilakukan di perkotaan ataupun tempat ramai. Contohnya, ada tapa ngrame, dimana si pelaku tapa tidak boleh masuk ke dalam rumah atau tempat-tempat yang dinaungi atap untuk beberapa hari dan harus selalu mencari keramaian. Tentu saja hal itu dilakukan semata-mata untuk mendekatkan diri pada GUSTI ALLAH.

Tapa Lelono

Salah satu cara bertapa yang dilakukan oleh masyarakat Kejawen adalah tapa lelono. Apa itu tapa lelono? Tapa lelono adalah bertapa dengan cara berjalan kaki. Lelaku jalan kaki tersebut lebih afdhal-nya dilakukan dari jam 12 malam sampai jam 3/subuh. Hakekat dari cara lelaku ini adalah untuk mendekatkan diri pada GUSTI ALLAH. Lho kok bisa mendekatkan diri dengan jalan kaki? Jika cara berjalan kaki itu hendaknya diniatkan untuk mencari "lampu" hati sehingga bisa dengan mudah mendekatkan diri pada GUSTI ALLAH

Pada saat berjalan kaki itu, kita berbicara sendiri dengan diri kita. Dan pada saat berjalan tersebut dipergunakan sebagai waktu untuk introspeksi diri. Jadi berjalan kaki yang kita lakukan tidak sia-sia. Insyaallah dengan cara itu, kita akan menemukan siapa jati diri kita.

Selasa, 01 Maret 2011

Asal Mula Aksara Jawa

Tidak banyak yang tahu sejarah aksara Jawa. Aksara Jawa sangat berkaitan dengan sejarah dari Ajisaka. Sang Ajisaka itulah yang menciptakan aksara Jawa yang kita kenal hingga saat ini. Bagaimana kisahnya?

Dahulu kala, di Pulau Majethi hidup seorang satria tampan bernama Ajisaka. Selain tampan, Ajisaka juga berilmu tinggi dan sakti mandraguna. Sang Satria mempunyai dua orang punggawa yang bernama Dora dan Sembada. Kedua punggawa itu sangat setia pada Ajisaka. Pada suatu hari, Ajisaka berkeinginan pergi berkelanan meninggalkan Pulau Majethi. Kepergiannya ditemani punggawanya yang bernama Dora, sementara Sembada tetap tinggal di Pulau Pulo Majethi, diperintahkan menjaga pusaka andalannya. Ajisaka berpesan pada Sembada, tidak boleh menyerahkan pusaka tersebut kepada siapapun kecuali pada Ajisaka sendiri. Sembada menyanggupi akan melaksanakan perintahnya.

Pada masa itu di tanah Jawa terdapat negara yang terkenal makmur, tertib, aman dan damai, yang bernama Medhangkamulan. Rajanya adalah Prabu Dewatacengkar, seorang raja yang luhur budinya serta bijaksana. Pada suatu hari, juru masak kerajaan mengalami kecelakaan, jarinya terbabat pisau hingga terlepas. Ki Juru Masak tidak menyadari bahwa potongan jarinya tercebur ke dalam hidangan yang akan disuguhkan pada Sang Prabu. Ketika tanpa sengaja memakan potongan jari tersebut, Sang Prabu serasa menyantap daging yang sangat enak, sehingga ia mengutus Sang Patih untuk menanyai Ki Juru Masak.

Setelah mengetahui yang disantap tadi adalah daging manusia, sang Prabu lalu memerintahkan Sang Patih agar setiap hari menghaturkan seorang dari rakyatnya untuk santapannya. Sejak saat itu Prabu Dewatacengkar mempunyai kegemaran menyeramkan, yaitu menyantap daging manusia. Wataknya berbalik seratus delapanpuluh derajat, berubah menjadi bengis dan senang menganiaya. Negara Medhangkamulan berubah menjadi wilayah yang angker dan sepi karena rakyatnya satu persatu dimangsa rajanya, sisanya lari menyelamatkan diri. Sang Patih pusing memikirkan keadaan, karena sudah tidak ada lagi rakyat yang bisa dihaturkan pada rajanya.

Pada saat itulah Ajisaka bersama punggawanya, Dora, tiba di Medhangkamulan. Ajisaka heran melihat keadaan yang sunyi dan menyeramkan itu, maka ia lalu mencari tahu penyebabnya. Setelah mendapat keterangan mengenai apa yang sedang terjadi di Medhangkamulan, Ajisaka lalu menghadap Rekyana Patih dan menyatakan kesanggupannya menjadi santapan Prabu Dewatacengkar. Pada awalnya Sang Patih tidak mengizinkan karena merasa sayang bila Ajisaka yang tampan dan masih muda harus disantap Sang Prabu. Namun tekad Ajisaka sudah bulat, sehingga akhirnya iapun dibawa menghadap Sang Prabu.

Sang Prabu tak habis pikir, mengapa orang yang sedemikian tampan dan masih muda mau menyerahkan jiwa raganya untuk menjadi santapannya. Ajisaka mengatakan, ia rela dijadikan santapan sang Prabu asalkan dihadiahi tanah seluas ikat kepala yang dikenakannya. Di samping itu, harus Sang rabu sendiri yang mengukur wilayah yang akan dihadiahkan tersebut. Sang Prabu menyanggupi permintaannya.

Ajisaka kemudian mempersilakan Sang Prabu menarik ujung ikat kepalanya. Sungguh ajaib, ikat kepala itu seakan tak ada habisnya. Sang Prabu Dewatacengkar terpaksa mundur dan semakin mundur, sehingga akhirnya tiba ditepi laut Selatan. Ikat kepala tersebut kemudian dikibaskan Ajisaka sehingga Sang Prabu terlempar jatuh ke laut. Seketika wujudnya berubah menjadi buaya putih. Ajisaka kemudian menjadi raja di Medhangkamulan.

Setelah dinobatkan menjadi raja Medhangkamulan, Ajisaka mengutus Dora pergi kembali ke Pulo Majethi menggambil pusaka yang dijaga oleh Sembada. Setibanya di Pulau Majethi, Dora menemui Sembada dan menjelaskan bahwa ia diperintahkan untuk mengambil pusaka Ajisaka. Sembada tidak mau memberikan pusaka tersebut karena ia berpegang pada perintah Ajisaka ketika meninggalkan Majethi. Sembada yang juga melaksanakan perintah Sang Prabu memaksa meminta agar pusaka tersebut diberikan kepadanya. Akhirnya kedua punggawa itu bertempur. Karena keduanya sama-sama sakti, peperangan berlangsung seru, saling menyerang dan diserang, sampai keduanya sama-sama tewas.

Kabar mengenai tewasnya Dora dan Sembada terdengar oleh Sang Prabu Ajisaka. Ia sangat menyesal mengingat kesetiaan kedua punggawa kesayangannya itu. Kesedihannya mendorongnya untuk menciptakan aksara untuk mengabadikan kedua orang yang dikasihinya itu.

Aksara tersebut berbunyi:

Ha Na Ca Ra Ka = yang berarti Ana utusan (ada utusan)
Da Ta Sa Wa La = Padha kekerengan (saling berselisih pendapat)
Pa Dha Ja Ya Nya = Padha digdayané (sama-sama sakti)
Ma Ga Ba Tha Nga = Padha dadi bathangé (sama-sama menjadi mayat)

Sabtu, 26 Februari 2011

BERSAHABAT DENGAN BENCANA

Tidak ada yang mengharapkan bencana, tetapi tidak ada pula yang bisa menolaknya. sejak tanggal 7 Oktober, taifun nomor 18 mendatangi daratan Jepang dan menumbangkan pepohonan, merobohkan jembatan, menggelindingkan truk. Taifun yang merupakan taifun terbesar sejak 10 tahun terakhir ini mulai mendarat di wilayah Aichi perfektur dan selanjutnya bergerak perlahan di sepanjang daratan Jepang.
Bulan Oktober adalah bulan yang seharusnya menyenangkan karena biasanya daun-daun musim gugur mulai memerah dan menguning, mempercantik alam negeri sakura. Tetapi bulan ini juga selalu ditandai dengan kedatangan angin topan besar yang kadang-kadang hanya melewati lautan tetapi sering pula melewati daratan.
Jika gempa tak bisa diprediksi kedatangannya, maka angin topan sudah bisa diprediksi kemunculan dan pergerakannnya sekitar tiga hari sebelum datangnya. Dan sekita tiga hari yang lalu Badan Meteorologi dan Geofisika Jepang telah mengeluarkan pengumuman tentang angin topan dahsyat yang akan datang dan menyinggahi seluruh daratan Jepang.
Sejak dua hari lalu, siaran TV di Jepang selalu menyiarkan pergerakan angin topan dan mengumumkan kewaspadaan warga. Angin topan biasanya disertai dengan hujan dan kadang-kadang banjir.
Sesuai dengan perkiraan, angin topan mulai memasuki daerah Nagoya sejak pukul 5 dini hari tadi (8 Sept), dan sebagaimana dipesankan di siaran TV agar semua orang berdiam diri di rumah, mengunci rapat-rapat jendela, meletakkan barang-barang yang mudah diterbangkan ke dalam rumah, dan peringatan untuk segera pulang ke rumah karena kemungkinan jalur angkutan umum semuanya akan terhenti.
Angin topan 18 tidak menimbulkan kerusakan yang berarti di dekat tempat tinggal saya, tetapi sebagaimana dilaporkan di TV, daerah-daerah lain mengalami kerusakan parah. Pemerintah kota juga mengumumkan melalui siaran TV tentang libur semua sekolah di Nagoya. Adapun kampus saya hanya memberikan pengumuman untuk tetap berada di rumah jika angin masih bertiup kencang, dan jika sudah reda diperbolehkan ke kampus dan kegiatan perkuliahan berjalan seperti biasa.
Tidak hanya angin topan 18, tetapi sebentar lagi pasti akan datang angin topan 19 dan bencana lainnya. Dari berbagai macam bencana yang melanda negeri ini, pemerintah dan penduduknya telah belajar banyak untuk menghadapinya. Anak-anak sejak kecil telah kenal dan diperkenalkan dengan bencana dan kesiapan untuk menghadapinya senantiasa dilatihkan di sekolah.
Bencana yang sering melanda Jepang tidak hanya mengasah kepekaan warga Jepang, tetapi telah melahirkan ratusan ilmuwan yang mempelajari dan meneliti misteri alam. Menjelang kedatangan angin topan 18, sebuah TV menyiarkan tentang bagaimana kita memahami kekuatan air. Ketika air masih berkentinggian 10 cm, maka pintu masih dapat dibuka, tetapi ketika sudah berketinggian 30 cm atau 40 cm, kekuatan seorang laki-laki pun tak mampu membukanya. Melalui pemahaman ini masyarakat belajar untuk tidak berusaha melawan bencana, tetapi berusaha bersifat arif kepada alam agar tak menimbulkan bencana.

Selasa, 15 Februari 2011

FENOMENA OBE

PENGALAMAN MATI SURI
DAN FENOMENA OUT OF BODY (OBE)
*) PENGALAMAN penulis Novel Sufi, MASTER OF THE JIN alamat Irvingk1945@gmail.com.

Beberapa bulan setelah ulang tahun 40, pada 14 Januari 1986, saya dilarikan ke Ruang Gawat Darurat karena pengaruh yang sangat buruk dari penyakit yang tak bisa didiagnosa dokter. Seandainya kakakku tidak berkunjung untuk melihat kondisi dan memaksa aku pergi ke rumah sakit segera, para dokter bilang aku tidak akan hidup lagi.
Di ruang gawat darurat jantung saya berhenti, dan para dokter berupaya menghidupkan kembali dengan orang-orang dayung listrik sebagaimana yang Anda lihat dalam film. Aku ingat hanya samar-samar, meskipun aku sedikit mengingat ada rasa sedikit terbakar selama beberapa hari. Akhirnya, mereka menemukan bahwa aku telah mengidap suatu tumor jinak pada kelenjar pituitary (yang berada di tengah-tengah dahi) yang menyebabkan tingkat hormon-hormon dalam tubuh saya untuk bergerak liar. Hormon steroid alami ACTH, misalnya, yang memiliki tingkat normal 200 sementara hormon saya tingkatnya adalah 6000.
Dan karena kontrol kelenjar hipofisis dari kelenjar lain dalam fungsi tubuh, saya juga mendapat tekanan darah tinggi dan diabetes. Diabetes itu tidak terdiagnosis bisa membunuh saya. Akhirnya saya tahu bahwa diabetes itu sudah diobati begitu lama dan situasi memburuk karena tumor yang saya. Beruntung saya masih hidup. Pada waktu itu, penglihatan saya kabur, otot-otot saya jadi berhenti. Saya mengalami dehidrasi sampai nyaris tidak bisa berjalan, dan aku merasa sulit untuk berpikir jernih. Ada banyak gejala lain, tetapi gejala itu yang utama.
Dokter sebenatnya punya obat namun masih obat percobaan, namanya obat itu aminoglutethymide. Saya tidak yakin ejaan ini tepat. Obar itu terasa sangat lambat membawa kadar hormon saya terkendali seperti semula. Darah ditarik setiap jam untuk memeriksa kadar hormon, sehingga kedua lengan saya menjadi hitam dan biru, mulai bahu ke pergelangan tangan.
Itu belum resiko lain saat berada di rumah sakit sekian waktu. Terbukti kemudian aku segera mendapat infeksi endokarditis, yang menyerang katup jantung, dan menghabiskan enam minggu pada terapi Oxycilin. Aku pun menghabiskan begitu banyak tabung untuk lengan hitam dan biru itu. Apa yang tidak lucu adalah tingkat hormon akibat paranoia. Seperti orang pada steroid, mereka mempengaruhi baik tubuh dan pikiran di level tersebut. Aku tidak akan masuk ke rincian, tetapi cukuplah untuk mengatakan bahwa aku adalah pasien paling buruk rumah sakit.
Hormon mengalami lonjakan pada malam hari, dan pada hari-hari pertama di sana, saya merasa sering pergi ke katatonik semacam wilayah kadang-kadang selama berhatri-hari. Aku keluar ruangan dan perawat yang berdiri di sekitar saya berkata, “Apakah kau bangun?? “Aku pernah bertanya berapa lama aku sudah keluar, dan mereka berkata,” Tiga hari. “Aku tidak tahu di mana aku telah atau apa aku sedang bermimpi, jika ada.
Sekitar dua minggu setelah aku mengakui, ketika dokter masih belum yakin apakah aku akan hidup dari satu hari ke hari, aku ingat berbaring di tempat tidur, di punggung saya, karena kedua lengan itu di dalam tabung dan merasa sangat lemah dan aneh. Aku telah belajar untuk mengenali gejala-gejala fisik awal dari salah satu bagian katatonik, tapi ini berbeda. Aku merasa yakin bahwa aku akan mati.
Dan aku merasa itu seperti kilat, kesadaran saya, atau jiwa, atau roh meninggalkan tubuh saya. Aku terbang ke atas di sekitar tepi melengkung alam semesta pada kecepatan yang tidak mungkin lebih cepat daripada pikiran. Aku masih memiliki tubuh, tapi itu halus, ringan seperti bulu. Aku bisa melihat bentuk oval kecil dari ribuan galaksi di sebelah kiriku saat aku melesat melewati. Sebuah detak jantung kemudian aku berada di sana.
Di depan saya adalah meja bercahaya panjang, seperti mengangkat mimbar, dan duduk makhluk bermandikan cahaya, tetapi dalam bentuk manusia. Mereka memiliki kepala dan tubuh, tapi aku tidak bisa melihat wajah mereka. Apakah mereka malaikat? Hakim? Aku tidak tahu. Saya pikir ada sepuluh dari mereka. Setidaknya itulah angka yang ada di kepalaku. Lalu aku mulai berputar seperti gasing melekat pada sebuah senar, meskipun demikian dengan kesadaran, saya melihat langsung mereka. Aku berputar dan menatap lurus ke depan. Bagaimana itu mungkin? Dan aku mulai menangis. Aku pasti mati, aku berpikir, dan mulai, tanpa memicu atau pertanyaan yang diminta, untuk menceritakan dosa-dosa dalam hidup saya pada mereka.
Berbohong, menipu, mencuri, kerakusan, seks, obat-obatan; semua dosa-dosa besar kecil anak laki-laki dan sebagai manusia. Seberapa kecil atau besar dosa itu bagi mereka tak ada bedanya. Saya pikir saya harus menunjukkan untuk itu kepada mereka. Melalui air mataku, aku memohon ampun.
Yang berada di tengah-tengah berbicara dengan tenang, dia berjenis laki-laki suaranya terdengar dan saya dengar di pikiran saya. “Anda sudah diampuni. Itu bukan masalah. ”
Seketika aku terbang kembali di sekitar lingkaran alam semesta. Galaksi ada di kanan saya saat aku terbang ke masa lalu, dengan perasaan luar biasa pergi ke bawah. Dalam sekejap aku kembali di kamar rumah sakit di tubuhku dan duduk tegak di tempat tidur. Sebelumnya, aku tidak pernah lebih terjaga seperti itu dalam hidupku.
Ketika aku akhirnya pergi tidur malam itu, aku bermimpi bahwa saya menulis sebuah buku yang mengubah dunia dan membawa kedamaian bagi umat manusia. Sekarang saya merasa sebagai orang berdosa yang benar-benar berusaha untuk menebus kesalahan.
Aku mulai pulih kemudian. Mungkin pengobatan itu akhirnya membawa efek. Beberapa tahun kemudian aku memiliki kesempatan untuk melihat catatan medis dalam bentuk buku.
Aku meninggalkan rumah sakit pada 7 Maret, 1986, berjalan dengan tongkat karena saya otot-otot kaki susah bergerak dan lumpuh. Selama hampir satu tahun saya harus menaiki tangga rumah saya dengan merangkak naik karena tangan dan lutut kaki saya tidak kuat menahan beban tubuh saya. Perlahan-lahan otot-otot menjadi lebih kuat. Pada saat saya memiliki operasi untuk menghilangkan kelenjar hipofisis saya pada 23 Desember 1986, aku benar-benar pulih. Setelah dihapus, diabetes pergi. Tekanan darah kembali normal.
Dalam sembilan bulan antara saya keluar dari rumah sakit dan operasi aku mulai pulih. Sukur tak terhingga atas anugerah kehidupan saya, dan kasih Tuhan yang tak terbatas dan belas kasih dan pengampunanNya. Seperti cerita saya telah membaca tentang orang-orang yang telah mendekati pengalaman kematian, semuanya kemudian tampak diterangi dengan cinta dan kedamaian untuk kehidupan saya yang baru. Aku mudah menangis untuk menunjukkan kelembutan dan emosi. Anak-anak saya mengejekku untuk itu, tapi aku tidak peduli. Aku tahu betapa berharganya hadiah kehidupan yang singkat ini dan saya masih diberi kesempatan di dalamnya untuk memberikan cinta dan berbagi pengalaman.
Lima tahun setelah dirawat di rumah sakit dan pengalaman keluar tubuh (OBE) itu aku memutuskan untuk berbagung sebagai pengikut jalan sufi. Enam bulan setelah inisiasi dalam dzikir, muncul ide untuk sebuah menulis buku datang dan dua belas tahun setelah itu saya akhirnya menerbitkan novel sufi, Master of the Jin.
Dulu saya seorang yang sinis dan agnostik. Aku tidak percaya neraka, tapi saya selalu ingin untuk mengetahui apa yang ada di alam gaib, untuk mengetahui apa kehendak Allah. Mungkin ini ada di tepi kesadaran dalam diri diri setiap orang. Sekarang, setelah lima belas tahun di jalan sufi, saya berbagi cerita ini sehingga Anda akan tahu bahwa di luar pengalaman dan semua yang Anda percaya, ada kebenaran yang tak terbayangkan, dan bahwa suatu hari Anda juga akan mengalami hal itu. Hal ini telah ditulis di dalam kitab suci, dan diekspresikan dalam bahasa dan perumpamaan yang indah dan dan melalui kehidupan nabi dan para rasul yang suci.
Ini adalah rahmat dan belas kasihan, pengampunan dan cinta Tuhan kepada manusia. Kita dilahirkan dari alam gaib dan nanti suatu ketika kembali ke sana pada akhirnya. Ini adalah ikatan Cinta antara manusia dengan Tuhan seperti ikatan antara ibu dan anak.
Setelah sembuh dari penyakit, aku mulai berpacaran dengan wanita yang sangat berbakat dalam hal spiritual sekitar setahun setengah setelah saya tinggal di rumah sakit. Dia kebetulan seorang psikolog. Setelah beberapa bulan, aku bercerita tentang penyakit saya, rumah sakit, dan pengalaman saya keluar dari tubuh. Saya pikir pada saat itu ketakutan saya sendiri akan kematian yang membuat saya memiliki mimpi pengakuan dan penebusan.
Aku berkata, “Apa pendapatmu tentang itu?”
Dia berkata, “Apa yang membuatmu berpikir itu tidak benar-benar terjadi?”
Dia kemudian mengatakan kepada saya bahwa ia juga memiliki pengalaman keluar dari tubuh (OBE). Pada saat melahirkan anak pertamanya, karena bayi itu benar-benar meninggalkan tubuhnya, ia menggambarkan memiliki perasaan seperti orgasme yang luar biasa, dan saat itu dia sadar telah terbang keluar dari tubuhnya dan terbungkus dalam apa yang digambarkan sebagai “cahaya emas murni cinta tanpa akhir.”
“Itu sangat transenden dan indah sehingga dia tak pernah ingin pergi. Dia pikir dia mungkin telah meninggal, tetapi tidak peduli. Itu Cahaya cinta murni yang merangkul semua. Kemudian ia mendengar teriakan dari jauh bahwa bayinya berjenis kelamin seorang putri, dan akhirnya ada kesadaran yang secara paksa menariknya kembali ke tubuhnya. Dia telah berlinang air mata pada saat meninggalkan “tempat” Itu.
Saya sering bertanya-tanya apakah itu “tempat” adalah sumber cinta seorang ibu, ikatan antara ibu dan anak. Atau mungkin sumber dari segala Cinta, lautan cahaya dari tetes yang mandiri kita dibentuk dalam hidup ini.
Dia kemudian melakukan studi kecil semua pengalaman-pengalaman seperti itu, dan menerima beberapa hasil mengejutkan dari kelompok studinya. Rupanya 5% dari perempuan yang menanggapi memiliki pengalaman yang sama, kadang-kadang selama melahirkan dan kadang-kadang bahkan selama orgasme. Tetapi wanita tidak membicarakan hal itu, menghubungkan ke stres kerja, untuk penghilang rasa sakit, atau buru-buru hormon selama seks. (Tidak heran di Prancis orgasme dikatakan sebagai “kematian kecil.”)
Kita adalah makhluk spiritual yang bisa memiliki pengalaman untuk keluar dari tubuh, meskipun hanya untuk waktu yang singkat. Kita datang dari cahaya terang itu, dan akan kembali ke setelah kesempatan hidup di dunia selesai. Dan inilah kesempatan untuk menggunakan kesempatan kita dalam hidup ini sebagai pemberian Tuhan, seperti yang tampak bercahaya ketika Ia berkata, “Ini bukan waktu Anda lagi.”
Selama bertahun-tahun saya bersyukur kepada Tuhan setiap pagi untuk karunia menakjubkan dalam hidupku. Atas Cinta-Nya kepada saya dan kemurahan-Nya. Setiap hari, setiap saat adalah rahmat. Seperti yang dikatakan dalam Alquran: “Sesungguhnya, di langit dan di bumi adalah tanda-tanda kepada mereka yang percaya.” (45:2) 

OBE (Out of Body Experience) merupakan sensasi keluarnya kesadaran dari tubuh/ jasad. Pada saat mengalaminya, orang merasa melihat jasadnya sendiri, yang dia tinggalkan. Banyak sekali pembahasan mengenai hal ini, namun sampai sekarang ada beberapa hal yang tetap menjadi misteri.
Berikut ini penuturan pengalaman dan penjelasan dari Hardicahyanta dari Yogyakarta pada saat mengalami OBE:
Pada waktu itu saya sedang bertugas di sebuah anjungan produksi minyak di laut jawa. Pada suatu malam, saya merasa agak capek tapi tidak ingin tidur. (Ini mungkin seperti yang dipaparkan juga di wikipedia, termasuk yang diawali menjelang tidur). Saya berbaring tiduran. Karena saya tidak ingin tidur, saya mencoba untuk tetap sadar. Entah mungkin karena terlalu lelah, tampaknya terasa badan saya mulai ringan. Saya merasakan kesemutan atau baal mulai dari ujung kaki, terus merambat ke atas, sampai ke kepala. Jadi seluruh badan saya “kesemutan”, seperti kena suntikan anestesi lokal, tapi seluruh tubuh sesudah itu, rasa kesemutan itu hilang, tidak terasa apa-apa lagi, namun yang terjadi adalah: saya sadar tetapi sudah tidak bisa mengontrol/menggerakkan tubuh lagi.
Lalu tiba-tiba saya merasa bergeser ke samping tubuh saya, maka saya mencoba bangkit berdiri. Di saat itulah saya melihat tubuh saya terbaring di tempat tidur. Saya tiba-tiba seperti masih bisa berpikir logis, kalau saya ini tidak bertubuh lagi (badan halus), berarti saya bisa menembus dinding. Lalu saya mencoba “melongok” menembus dinding kamar untuk melihat keadaan di kamar sebelah.
Kebetulan di sebelah kamar saya adalah sebuah ruangan kantor, yang kalau malam sering dipakai nonton tv karena memang tersedia di sana. Saya sengaja hanya melongokkan separuh badan bagian atas (barangkali karena waktu itu terpikir untuk menguji kemampuan menembus dinding). Ternyata yang saya lihat, di ruangan sebelah itu orang-orang sedang menonton tv, RCTI. Acaranya pertandingan sepak bola.
Saya balik lagi ke posisi semula di kamar, kemudian berpikir bagaimana caranya saya bisa kembali ke tubuh saya. Aneh, pada waktu itu tidak terpikir sedikitpun kemungkinan kalau saya sudah mati karena mengalami itu, oleh karena itu tidak ada rasa takut sama sekali. Kemudian secara gampangan saya mencoba tidur di atas tubuh saya sendiri.
Beruntung, saya berhasil masuk lagi ke dalam tubuh saya. Saya mulai merasakan hangatnya tubuh dan bisa mengontrol gerakan lagi.Saya segera bangun, kali ini benar-benar bersama tubuh wadag saya. Sesudah bangun itu baru terpikir keraguan atas apa yang baru saja saya alami. Apakah saya tadi hanya bermimpi, atau benar2 keluar dari tubuh?
Saya segera berdiri, keluar dari ruangan lewat pintu, menuju ke ruangan sebelah. Yang saya lihat di ruangan sebelah ternyata … Benar. Orang-orang sedang menonton tv RCTI, pertandingan sepak bola!Demikian sekedar cerita pengalaman pertama OBE saya.
Seingat saya waktu itu tidak sedang dalam pengaruh obat-obatan apapun. Mudah-mudahan bermanfaat, atau bisa menjadi bahan diskusi yang menarik. Sesudah pengalaman pertama tersebut, saya sangat penasaran dengan mekanisme terjadinya OBE. Saya banyak membaca tulisan-tulisan teori mengenai hal itu. Di antaranya teori mengenai badan astral dan badan etheral, yang lazim dikemukakan di kalangan pemerhati fenomena spiritual/ metafisik. Yang menarik bagi saya, ada yang berteori bahwa tubuh halus bisa kembali ke jasad wadag dikarenakan ada ikatan antara tubuh halus tersebut (badan astral) dengan jasad melalui sebuah tali yang terikat di bagian pusar. Tali tersebut berwarna keperakan, sehingga sering diistilahkan sebagai silver cord. Yang mengemukakan teori ini kemudian menyampaikan bahwa tidak usah khawatir badan halus akan tersesat atau badan wadag akan mati, selama silver cord tersebut masih utuh.
Hal lain yang saya temukan adalah bahwa sebenarnya proses keluarnya kesadaran dari jasad itu mustinya selalu dialami setiap manusia tidur. Akan tetapi, kenapa sebagian besar (90%) orang tidak menyadarinya? Pada saat badan mulai baal, dan kesadaran kehilangan kendali terhadap tubuh, biasanya orang sudah terutupi oleh apa yang saya istilahkan dengan “awan mimpi” atau kabut mimpi. Ini adalah mekanisme penutupan secara halus untuk mengecoh kesadaran agar diam-diam tidak terasa kalau sudah keluar dari jasad.
Apakah pada orang yang mati juga terjadi begitu? Sayangnya sulit sekali untuk memverifikasinya. Menurut The Tibetan Book of Death, pada awal-awal kematiannya, orang mengalami seperti OBE dan kebingungan, apakah benar dia sudah mati atau belum. Juga hal ini diilustrasikan dalam sebuah film terkenal “Ghost” (yang dibintangi oleh Patric Swayze dan Demi Moore). Juga dalam hasil observasi yang dirangkum oleh Raymond Moody Jr., dalam bukunya yang terkenal: “Hidup Sesudah Mati”.
Apapun yang diteorikan, kalau anda ingin mengetahui maka jalan yang terbaik adalah mencobanya pada diri sendiri. Walaupun ada penelitian yang mengemukakan bahwa OBE bisa dibantu dengan pemberian obat-obatan, saya sangat tidak menganjurkannya. Mungkin kalau dengan bantuan alat, seperti resonansi magnetik, agak lebih aman. Tetapi itu juga belum pasti. Yang lebih aman adalah mencoba tanpa bantuan obat atau alat apapun. Bagaimana caranya?
Mungkin bisa anda coba dengan mengatasi tipuan dari “awan mimpi”. Artinya, ketika menjelang tidur, coba usahakan anda terus menyadari proses tidur tersebut. Saya yakin sebenarnya proses itu selalu terjadi, yakni diawali dengan kehilangan kontrol perintah terhadap seluruh tubuh. Pada waktu tersebut, yang bekerja pada tubuh adalah mesin pengatur otomatis yang ada di batang otak. Biarlah mesin di dalam batang otak itu yang mengatur pernafasan dan detak jantung. Sementara itu anda harus tetap sadar. Dengan berlatih berulang kali saya yakin suatu ketika anda akan bisa merasakannya.


SEPUTAR PENELITIAN FENOMENA OBE
Out-of-body experience (OBE atau kadang-kadang OOBE), adalah sebuah pengalaman yang biasanya melibatkan sensasi melayang di luar tubuh seseorang dan, dalam beberapa kasus, mencerap satu tubuh fisik dari suatu tempat di luar tubuh seseorang (autoscopy). Istilah out-of-the-body atau keluar dari pengalaman tubuh diperkenalkan pada tahun 1943 oleh GNM Tyrrell dan diadopsi oleh, misalnya, Celia Green dan Robert Monroe sebagai alternatif bebas bias untuk keyakinan-sentris label seperti “proyeksi astral” atau “roh berjalan”.
Meskipun jarak berguna istilah ilmiah bermasalah peneliti dari konsep-konsep seperti jiwa, para ilmuwan masih tahu sedikit tentang fenomena. Satu dari sepuluh orang memiliki pengalaman OBE pada suatu saat dalam kehidupan mereka. OBEs adalah sering merupakan bagian dari pengalaman hampir matinya. Mereka yang telah mengalami OBEs kadang-kadang mengklaim telah diamati rincian yang tidak mereka ketahui sebelumnya.
Dalam beberapa kasus muncul fenomena terjadi secara spontan; dalam diri orang lain dikaitkan dengan trauma fisik atau mental, penggunaan obat-obatan psikedelik, disosiasi obat-obatan, atau mimpi-seperti situasi. Banyak teknik yang bertujuan untuk mempengaruhi pengalaman sengaja telah dikembangkan, misalnya visualisasi sementara di santai, keadaan meditatif. Baru-baru ini (2007) penelitian telah menunjukkan bahwa pengalaman yang agak mirip dengan OBEs dapat diinduksi oleh stimulasi otak langsung.
Beberapa dari mereka yang mengalami OBEs mengklaim telah menghendaki diri keluar dari tubuh mereka, sementara yang lain melaporkan bahwa mereka menemukan diri mereka ditarik dari tubuh mereka (biasanya didahului oleh rasa kelumpuhan). Pengakuan lain, perasaan di luar tubuh tiba-tiba sadar setelah fakta, dan pengalaman melihat tubuh mereka sendiri hampir kebetulan. OBEs sering terjadi selama tahap batas antara tidur REM dan gairah ketika tidur kelumpuhan dapat bertahan dan citra mimpi dapat berbaur dengan input sensorik.
Beberapa ahli saraf telah menduga bahwa acara ini dipicu oleh ketidaksesuaian antara visual dan sinyal. Mereka menggunakan virtual reality setup untuk menciptakan sebuah OBE. Subjek tampak melalui kacamata dan melihat tubuhnya sendiri karena akan tampil untuk pengamat luar berdiri di belakangnya. Eksperimen kemudian menyentuh subjek pada waktu yang sama sebagai batang muncul untuk menyentuh gambar virtual. Percobaan menciptakan ilusi berada di belakang dan di luar tubuh seseorang. Namun, para pengkritik menunjukkan bahwa tidak pasti bagaimana hal ini berhubungan dengan fenomena OBE.
Meskipun jenis pengalaman langsung dan spontan juga dilaporkan. Dalam banyak kasus, orang-orang yang mengaku telah melaporkan memiliki pengalaman OBE sedang tidur, di ambang tidur, atau sudah tidur lama sebelum mengalami. Sebuah persentase besar kasus-kasus ini mengacu pada situasi saat mereka mengalami tidur yang tidak terlalu dalam (karena sakit, suara di kamar lain, stres emosional, kelelahan dari kerja-lembur, sering bangun ulang, dll). Pada sebagian besar kasus, subjek kemudian merasa diri mereka terjaga; sekitar setengah dari mereka mencatat perasaan tidur kelumpuhan.
Bentuk lain dari OBE spontan adalah pengalaman hampir mati atau Near Death Experience (NDE). Beberapa subjek melaporkan bahwa mereka mengalami OBE pada saat-saat trauma fisik berat seperti saat akan tenggelam atau operasi besar. Dalam kasus kecelakaan kendaraan bermotor, mereka dapat mengingat kecelakaan seolah-olah mengamati dari lokasi di luar kendaraan.
Pengalaman yang sama dengan NDE adalah pengalaman ekstrem saat menjalani kegiatan-kegiatan fisik yang keras seperti mendaki ketinggian dan berlari maraton dan pengalaman itu dapat menginduksi OBEs. Perasaan berada di dua lokasi secara jelas, dengan baik tanah dan udara yang dialami secara bersamaan.
Tertidur secara fisik tanpa kehilangan terjaga atau The “Mind Awake, Body Asleep” ada situasi khusus sebagai penyebab OBE. Thomas Edison misalnya melalukan percobaan dengan tidur. Di atas kepala diletakkan uang logam. Ketika ia tertidur, koin itu jatuh dan ini akan mengembalikan kesadaran semula. Pelopor OBE, Sylvan Muldoon lebih sederhana menggunakan lengan bawah tegak lurus di tempat tidur. Salvador Dali menggunakan pengalaman yang sama yang disebutnya “paranoid-kritis”, metode untuk mendapatkan penglihatan yang aneh menginspirasi lukisannya.
Situasi antara terjaga dan tertidur diketahui menyebabkan episode trans spontan pada awal tidur yang pada akhirnya membantu ketika orang ingin mencoba mengalami OBE, seperti yang dilaporkan oleh Robert Monroe dan Robert Peterson. Saat kesadaran bergerak lebih dalam dan lebih dalam saat relaksasi satu akhirnya bertemu dengan ‘tergelincir’nya perasaan jika pikiran masih waspada. Tergelincir ini dilaporkan merasa seperti meninggalkan tubuh fisik. Beberapa orang ini bisa dialami saat mengalami relaksasi progresif saat peran indra kita mengendur.
OBE juga dikatakan sebagai “Bangunnya mental tapi tidak secara fisik”. Teknik ini biasanya dicapai melalui praktek bermimpi. Jelas sekali di dalam mimpi, sang pemimpi baik menggeser bahan dalam mimpi dalam arah OBE atau citra mimpi yang sepenuhnya jelas, dengan berbuat demikian ia memperoleh akses ke keadaan yang mendasari tidur ideal untuk visualisasi yang akan mengalami pemisahan dari tubuh.
OBE juga dialami saat kita mengalami Deep trance, meditasi dan visualisasi. Jenis visualisasi bervariasi; beberapa yang umum digunakan misalnya memanjat tali untuk “menarik keluar” dari satu tubuh, melayang keluar dari tubuh seseorang, ditembak keluar dari meriam, dan pendekatan serupa lainnya. Teknik ini dianggap sulit digunakan untuk orang-orang yang tidak bisa benar-benar rileks. Satu contoh dari teknik ini dipopulerkan Golden Dawn “Body of Light.



SINKRONISASI gelombang otak melalui stimulasi audio/visual. Binaural beats dapat digunakan untuk merangsang frekuensi gelombang otak tertentu, khususnya yang dominan dalam berbagai pikiran terjaga/tertidur tubuh situasi. Induksi “tubuh tertidur” frekuensi gelombang otak theta saat bermimpi dalam kondisi tidur diamati efektif oleh Monroe Institute. Simultan pengenalan “pikiran terjaga” beta frekuensi terdeteksi dalam otak normal, santai terbangun individu juga diamati sebagai konstruktif.
Teknologi populer lainnya gelombang sinusoidal mencapai hasil yang sama, dan drum yang menyertai upacara-upacara keagamaan asli Amerika juga diyakini telah meningkatkan penerimaan untuk “dunia lain” melalui mekanisme mendapatkan ilham.
Ada juga pendekatan lain yang bertujuan untuk mendorong intensitas disorientasi dengan cara melakukan penghapusan referensi ruang dan waktu. Sensor yang berlebihan berlawanan dengan indra yang mengendur. Subjek dapat menjadi bergoyang misalnya untuk waktu yang lama dalam buaian yang dirancang khusus, atau menggunakan cahaya yang menyiksa mata yang menyebabkan otak untuk menutup diri dari semua masukan sensorik.
Kedua kondisi tersebut cenderung menyebabkan kebingungan dan disorientasi yang sering memungkinkan subjek untuk mengalami tubuh halus keluar dari tubuh. Hal ini cenderung terjadi jika subjek percaya bahwa dia berada dalam posisi tertentu, sedangkan sebenarnya goyang tubuh baik dalam buaian aktif, atau masih berbaring. Kesadaran tiba-tiba transfer ke tubuh mental.
OBEs bisa juga diinduksi dengan obat-obatan yang kadang-kadang dianggap halusinasi. Ada beberapa jenis obat yang dapat memulai sebuah OBE, terutama disosiatif halusinogen seperti Ketamine, dextromethorphan (DM atau DXM), dan phencyclidine (PCP). Hal ini juga dilaporkan di bawah pengaruh tryptamine psychedelics termasuk dimethyltryptamine (DMT), dan ayahuasca. Salvia divinorum telah dikenal untuk menghasilkan gejala di mana pengguna dikatakan dapat meninggalkan tubuh mereka dan pergi ke banyak tempat sekaligus.
Banyak pengguna juga mengklaim bahwa mereka merasa seolah-olah “jiwa” keluar jauh dari tubuh mereka. Methamphetamine juga telah diketahui menyebabkan OBEs, bukan dalam dirinya sendiri, tetapi melalui kurang tidur.
OBEs dikategorikan ke dalam dua jenis, dikategorikan oleh Robert Monroe sebagai berikut.
  • 1 Pengalaman yang jelas dari tubuh eterik, halus. Serangan jenis ini dapat menakutkan seperti sensasi fisiologis yang kuat dapat dianggap, seperti listrik kesemutan, tubuh penuh getaran dan detak jantung pembalap.
  • 2 Pengalaman di alam fisik dan memiliki banyak tumpang tindih dengan jelas saat bermimpi. Subjek tenggelam dalam dunia realistis, diubah bentuk realitas yang menunjukkan secara fisik tidak mungkin atau tidak konsisten. Warna-warna cerah dan tajam adalah fitur umum dari jenis ini. Robert Bruce menganggap OBE jenis ini menjadi Proyeksi Astral.
Sebuah tipikal, klasik perseptual OBE terungkap melalui tahap yang berbeda. Penarikan tahap: Sadar interaksi dengan lingkungan fisik berhenti. Perhatian di tempat lain, dengan input sensorik akan diperhatikan; tubuh adalah auto-pilot. Tidur adalah contoh tahap ini. Yg berhubung dengan tahap katalepsia: Gerakan ini benar-benar terganggu. Alternatif informasi sensorik bisa tiba-tiba tampak hadir, seperti getaran kuat, suara dan penglihatan melalui kelopak mata tertutup
Tahap Pemisahan
Dengan susah payah, sudut pandang perseptual dapat menjauh dari lokasi tubuh fisik. Tetap tunduk pada sensasi intens, tarik kembali ke arah tubuh. Tahap pergerakan bebas: di radius tertentu, gerakan menjadi terhalangi, dengan kontrol meningkat tajam. Visual dan kejernihan mental dapat sangat bervariasi, dari hampir tidak fungsional untuk luar biasa.



Tahap Re-entry:
persepsi kembali meningkat, sebuah transisi untuk bangun atau tidur mungkin terjadi. Anda mungkin merasakan tekanan sebagai jiwa yang kembali ke tubuh Anda.

Rabu, 09 Februari 2011

MEMAHAMI FILOSOFI LELUHUR JAWA

Leluhur masyarakat Jawa memiliki beraneka filosofi yang jika dicermati memiliki makna yang begitu dalam. Tetapi, anehnya filosofi yang diberikan oleh para leluhur itu saat ini dinilai sebagai hal yang kuno dan ketinggalan jaman. Padahal, filosofi leluhur tersebut berlaku terus sepanjang hidup. Dibawah ini ada beberapa contoh filosofi dari para leluhur/nenek moyang masyarakat Jawa.



"Dadio banyu, ojo dadi watu" (Jadilah air, jangan jadi batu).

Kata-kata singkat yang penuh makna. Kelihatannya jika ditelaah memang manungso kang nduweni manunggaling roso itu harus tahu bagaimana caranya untuk dadi banyu.

Mengapa kita manusia ini harus bisa menjadi banyu (air)? Karena air itu bersifat menyejukkan. Ia menjadi kebutuhan orang banyak. Makhluk hidup yang diciptakan GUSTI ALLAH pasti membutuhkan air. Nah, air ini memiliki zat yang tidak keras. Artinya, dengan bentuknya yang cair, maka ia terasa lembut jika sampai di kulit kita.

Berbeda dengan watu (batu). Batu memiliki zat yang keras. Batu pun juga dibutuhkan manusia untuk membangun rumah maupun apapun. Pertanyaannya, lebih utama manakah menjadi air atau menjadi batu? Kuat manakah air atau batu?

Orang yang berpikir awam akan menyatakan bahwa batu lebih kuat. Tetapi bagi orang yang memahami keberadaan kedua zat tersebut, maka ia akan menyatakan lebih kuat air. Mengapa lebih kuat air daripada batu? Jawabannya sederhana saja, Anda tidak bisa menusuk air dengan belati. Tetapi anda bisa memecah batu dengan palu.

Artinya, meski terlihat lemah, namun air memiliki kekuatan yang dahsyat. Tetes demi tetes air, akan mampu menghancurkan batu. Dari filosofi tersebut, kita bisa belajar bahwa hidup di dunia ini kita seharusnya lebih mengedepankan sifat lemah lembut bak air. Dunia ini penuh dengan permasalahan. Selesaikanlah segala permasalahan itu dengan meniru kelembutan dari air. Janganlah meniru kekerasan dari batu. Kalau Anda meniru kerasnya batu dalam menyelesaikan setiap permasalahan di dunia ini, maka masalah tersebut tentu akan menimbulkan permasalahan baru.

"Sopo Sing Temen Bakal Tinemu"

Filosofi lainnya adalah kata-kata "Sopo sing temen, bakal tinemu" (Siapa yang sungguh-sungguh mencari, bakal menemukan yang dicari). Tampaknya filosofi tersebut sangat jelas. Kalau Anda berniat untuk mencari ilmu nyata ataupun ilmu sejati, maka carilah dengan sungguh-sungguh, maka Anda akan menemukannya.

Namun jika Anda berusaha hanya setengah-setengah, maka jangan kecewa jika nanti Anda tidak akan mendapatkan yang anda cari. Filosofi di atas tentu saja masih berlaku hingga saat ini.

"Sopo sing kelangan bakal diparingi, sopo sing nyolong bakal kelangan"
(Siapa yang kehilangan bakal diberi, siapa yang mencuri bakal kehilangan).


Filosofi itupun juga memiliki kesan yang sangat dalam pada kehidupan. Artinya, nenek moyang kita dulu sudah menekankan agar kita tidak nyolong (mencuri) karena siapapun yang mencuri ia bakal kehilangan sesuatu (bukannya malah untung).

Contohnya, ada orang yang dicopet. Ia akan kehilangan uang yang dimilikinya di dalam dompetnya. Tetapi GUSTI ALLAH akan menggantinya dengan memberikan gantinya pada orang yang kehilangan tersebut. Tetapi bagi orang yang mencopet dompet tersebut, sebenarnya ia untung karena mendapat dompet itu. Namun,ia bakal dibuat kehilangan oleh GUSTI ALLAH, entah dalam bentuk apapun.

Dari filosofi tersebut, Nenek moyang kita sudah memberikan nasehat pada kita generasi penerus tentang keadilan GUSTI ALLAH itu. GUSTI ALLAH itu adalah hakim yang adil.

Jumat, 28 Januari 2011

TUJUH KEAJAIBAN TUBUH KITA

Nggak cuma bumi saja yang punya seven wonders of the world. Tubuh manusia pun ternyata menyimpan banyak hal menakjubkan yang susah dijelaskan dengan logika. Apa saja sih seven wonders of the body alias tujuh keajaiban dalam tubuh kita, berikut keajaiban-keajaibannya :

1. The Golden Ratio.
Setiap bagian tubuh manusia ternyata merupakan hitungan matematika. Believe it or not, Fibonacci numbers yang kita jumpai di buku Da Vinci Code, ternyata juga ada di tubuh kita sendiri. Bilangan Phi (1:1,61  adalah angka yang akan kita dapatkan setiap kali kita mengukur setiap inci tubuh kita. Coba deh perhatikan ruas jari tangan kita. Ruas kedua dari ujung berukuran 1,618 kali lebih panjang dari ruas terujung, begitu seterusnya. Rumus phi ini juga kita temui di wajah kita. Panjang hidung kita berbanding 1:1,618 dibanding lebar mulut dari ujung ke ujung. Gigi terdepan dengan gigi di sebelahnya juga berukuran 1,1618 kali lebih besar. Inilah yang disebut dengan The Golden Ratio.

Dr. Stephen Marquardt bahkan telah membuat topeng kecantikan berdasarkan golden ratio ini, dan orang yang mempunyai struktur muka paling mendekati topeng ini adalah cewek yang sudah diakui kecantikannya, seperti Ratu Nefertiti. Tapi wajah kita juga bisa cocok ke dalam topeng golden ratio, kok. Soalnya, setiap kali kita tertawa, maka kita akan semakin mendekati ukuran phi tersebut. Makanya, jangan cemberut!

2. Sidik Lidah
Selain sidik jari, ternyata lidah kita juga mempunyai pattern unik yang tidak dimiliki orang lain. Hmm, jangan-jangan di masa depan kita akan bikin paspor dengan sidik lidah, nih. Hehehe…

3. Hidup dan Mati
Saat kita membaca tulisan ini, sebenarnya sedang ada sekitar 50 ribu sel yang mati di dalam tubuh kita. Tapi, di saat yang sama, lahir pula 50 ribu sel baru yang menggantikannya (kecuali di otak, yang tidak bisa menumbuhkan sel baru). Wow, ternyata tubuh kita aktif banget, ya? Di saat yang sama, untuk mencerna isi kalimat ini, pesan tersebut disampaikan ke otak dengan kecepatan mencapai 250 mil per jam!

4. Tempat Tinggal Bakteri
Satu orang manusia mempunyai organisme hidup yang lebih banyak daripada jumlah seluruh manusia di bumi. Soalnya, dalam 1 inci tubuh manusia, ternyata merupakan tempat tinggal bagi kira kira 32 juta bakteria.

5. Kepanasan atau Kedinginan?
Pernah makan makanan panas dan dingin, kan? Seberapa pun panas atau dinginnya makanan tersebut, tapi lidah kita masih bisa menerimanya, tuh. Hal ini disebabkan karena mulut kita menyesuaikan suhu makanan tersebut menjadi suhu normal, sehingga akhirnya bisa kita telan. Maksudnya, si mulut akan mendinginkan si makanan panas, dan menghangatkan si makanan dingin. Wah, ternyata mulut kita tak ubahnya seperti microwave dan kulkas, nih.

6. Anti Kerriput!
Selain bisa menghilangkan stress, ternyata tertawa juga bisa menguatkan sistem kekebalan tubuh, lho. Dan, menurut penelitian, anak-anak tertawa sekitar 300 kali setiap harinya, sementara orang dewasa cuma 15-100 kali saja tertawa. Ck ck ck, apa hidup mereka sedemikian beratnya, ya? Hehehe… Dan, nggak heran juga kalau orang dewasa itu jadi cepat terlihat tua. Soalnya, setiap 2000 kali wajah kita berkerut (misalnya karena kesal atau cemberut), maka muncullah segaris keriput. Makanya, jangan malas tertawa!

7. Self-healing
Tubuh kita ternyata tak ubahnya seperti Claire Bennet di serial Heroes yang bisa menyembuhkan dirinya sendiri. Soalnya, setiap luka kita pasti akan sembuh, dan tubuh kita mempunyai ”keajaiban” untuk membentuk bagian tubuh yang baru. Misalnya nih, kaki kita terluka dalam karena terantuk batu. Lama-kelamaan, sel-sel di tubuh akan membentuk jaringan daging dan kulit baru untuk menutupi bekas luka tersebut. Namun demikian, ternyata ada satu bagian tubuh yang nggak bisa menyembuhkan dirinya sendiri lho, yaitu gigi. Kalau gigi tetap kita copot, jangan harap akan tumbuh gigi baru.

Kamis, 27 Januari 2011

Dibalik Rasa Percaya Diri

Setiap manusia itu memiliki kehidupan pribadi. Kehidupannya jelas merupakan urusan dari manusia itu sendiri dan GUSTI ALLAH. Untuk itu, manusia harus tahu keberadaan diri pribadi dan tidak malah mengekor pada orang lain.

Sering kita menjumpai orang-orang yang tidak bisa memutuskan sesuatu. Dia lebih sering mengambil ide orang lain untuk menyelesaikan sesuatu masalah yang membelenggu kehidupannya. Hal itu sah-sah saja. Tetapi, jika seorang manusia tetap saja menganggap ide orang lain itu yang paling benar, berarti dia tidak memiliki kepercayaan diri.

Orang yang tidak memiliki kepercayaan diri, sama saja tidak tahu bahwa dirinya mampu untuk melakukan segala sesuatu. Yang perlu diingat, GUSTI ALLAH itu ada dalam diri kita masing-masing. GUSTI ALLAH tidak menggantung di awang-awang. GUSTI ALLAH itu dekat dengan kita, bahkan lebih dekat dari urat leher kita sendiri.

Setiap orang memiliki perbedaan dalam pola pikirnya. Setiap orang itu berbeda-beda, tidak bisa sama. Ide orang lain itu belum tentu cocok dengan diri kita pribadi. Untuk itu, yang tahu bahwa sesuatu hal itu cocok bagi kita adalah diri kita sendiri. Hal itu sudah tercantum dalam kata-kata Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Magrwa. Artinya, Berbeda-beda tetapi tetap satu, tidak ada kebenaran yang mendua.

Hal itu memiliki arti, bahwa setiap manusia dengan manusia lainnya itu berbeda-beda. Tetapi pada hakekatnya, manusia itu satu. Semuanya berasal dari satu wiji (benih) yaitu GUSTI ALLAH. Jadi, Perbedaan tersebut harus kita syukuri, bukan malah kita sesali. Percaya pada diri sendiri merupakan wujud rasa syukur kita pada GUSTI ALLAH. Oleh karena itu, tumbuhkan rasa percaya diri Anda.

Senin, 10 Januari 2011

Dua Hakekat Hidup


Manusia hidup di dunia ini sebenarnya memiliki dua hakekat. Dua hakekat hidup tersebut sebenarnya juga merupakan janji seorang manusia kepada sang Khalik sebelum manusia dilahirkan ke dunia ini. Dua hakekat hidup itu sendiri juga merupakan perintah Tuhan yang harus dijalankan selama hidup di dunia. Apakah dua hakekat hidup itu?


Masyarakat Jawa mengenal dua hakekat hidup tersebut yaitu tansah eling manembah marang Gusti Allah lan apik marang sak padan-padaning urip. Hakekat hidup yang dikenal oleh masyarakat Jawa tersebut juga dikenal dalam ajaran Islam dengan istilah Hablum Minnallah (selalu menyembah Allah) dan Hablum Minna Nass (berbuat baik pada sesama umat).


Dua hakekat kehidupan tersebut harus senantiasa kita ingat. Pasalnya, jika kita tidak ingat terhadap dua hakekat hidup tersebut, maka kita akan terkena bencana karena ulah kita sendiri. Misalkan, kita tidak berbuat baik terhadap sesama manusia, maka secara langsung maupun tidak langsung, kita tidak akan disenangi manusia lainnya yang ada di sekitar kita. Itu masih masalah hubungan dengan manusia. Nah, kalau hubungan dengan TUhan malah harus lebih baik lagi. Kalau dimusuhi manusia, kita masih bisa berlagak sombong dengan mengatakan tak butuh bantuan dari si fulan yang memusuhi kita, tetapi kalau dimusuhi oleh Gusti Allah, kepada siapa kita berlindung dan meminta pengayoman hidup?


Dua hakekat kehidupan itulah yang harus kita pegang dalam hidup ini. Kalau Anda tidak percaya, silakan Anda mengingkari dua hakekat kehidupan itu dan lihatlah apa yang akan terjadi pada Anda. Oleh karena itu, hayatilah dua hakekat hidup itu sebelum melangkah pada penyembahan Gusti Allah yang maha sempurna. Itu sebagai bukti bahwa kita telah menjalankan apa yang diperintahkan Gusti Allah kang Maha Adil untuk merengkuh CintaNYA.

Senin, 27 Desember 2010

"SYEKH SITI JENAR" NAMANYA MELARISKAN BUKU

Siapakah Syekh Siti Jenar? Meskipun setidaknya Intisari telah menjejaki – yang disebut sebagai – dua kuburan Syekh Siti Jenar, masing-masing di Kemlaten, Cirebon maupun Gedong Ombo, Tuban, agaknya Syekh Siti Jenar tidak bisa dipastikan keberadaan historisnya secara ilmiah dalam kategori positivistik. Keberadaan Syekh Siti Jenar adalah keberadaan sebuah makna, baik dalam bentuk suatu ajaran yang tercatat pada berbagai naskah, maupun makna keberadaan dalam penafsiran politis, sebagai tokoh oposisi terhadap hegemoni kekuasaan rohani para wali. Suatu konstelasi yang sebetulnya juga merupakan tipologi konstelasi politik duniawi, ketika kerajaan-kerajaan Islam di Jawa telah menjadi dominan, tetapi pusat-pusat kekuasaan pra-Islam dengan segenap aliran kepercayaannya, belum sepenuhnya terleburkan – bahkan sampai hari ini.
                                    
Wali yang mencemaskan
Dalam ziarah pustaka ini, gambaran Nancy K. Florida tentang Tiga Guru Jawa (Syekh Siti Jenar, Syekh Malang Sumirang, Ki Ageng Pengging) dalam disertasinya, Menyurat Yang Silam Menggurat Yang Menjelang (1995) akan dikutip sebagai pengantar:
“Di antara ketiga empu tersebut, Syekh Siti Jenarlah yang paling dikenal, dengan ketenarannya sebagai wali pembangkang yang paling utama di Jawa bahkan hingga saat ini. Berbagai versi kisahnya, baik lisan maupun tulisan, melimpah. Dialah tokoh yang mewakili penyebarluasan, dan yang disebarluaskannya adalah pengetahuan esoteris eksklusif yang keluar dari kalangan elite politik-spiritual ke dalam budaya khalayak ramai. Atas penyebarluasan inilah maka para wali merasa terpanggil untuk memusnahkan Syekh Siti Jenar. Mereka melihat ancaman politik yang benar-benar nyata dalam dirinya; lantaran sebagai sosok penyebarluasan dan populisme dia dengan sendirinya menentang pemusatan dan penyatuan kekuasaan.
“Dalam benak khalayak ramai, Siti Jenar dikenang sebagai patron wong cilik. Garis besar kisah hidupnya menggarisbawahi keterkaitan organisnya dengan lapis terendah masyarakat. Dalam versi kisahnya yang paling tersebar luas, Siti Jenar diceritakan sebagai seekor cacing tanah yang secara ajaib berubah menjadi manusia. Pengubahan ini terjadi karena sang cacing secara kebetulan menerima pengetahuan esoteris yang mengantarnya menuju Hakikat Sejati. Sekali menjadi manusia, dia yang semula cacing ini kemudian berani untuk membuka tabir Pengetahuan Makrifat ini kepada khalayak ramai. Barangkali anggapan bahwa penyampaian pengetahuan semacam itu akan dapat mengubah martabat “cacing-cacing” yang lain adalah kecemasan elite spiritual-politik di ibu negeri Demak.
“Selain dosanya ‘menyingkap sang Rahasia’ kepada khalayak ramai, Siti Jenar juga dipersalahkan karena menyepelekan syariat, hukum suci Islam. Dan di dalam banyak penuturan kisahnya, dia dituduh sebagai orang yang mengaku dirinya Allah. Bagaimanapun juga, yang paling mencuat dan diberitakan adalah dosanya menyebarluaskan Ilmu Gaib; dan lantaran dosa inilah sang wali diadili dan dijatuhi hukuman mati. Terdapat berbagai versi tentang ‘pengadilan’ dan eksekusinya. Masing-masing versi perlu untuk dipahami dengan latar belakang ingatan kolektif masyarakat tentang kisahnya dan dalam bandingan dengan versi lainnya. Yang terpenting untuk diperhatikan adalah keragaman kisah atas apa yang terjadi dengan jasad sang wali; berkisar dari ekstrem yang satu bahwa jasadnya berubah menjadi bangkai busuk seekor anjing hingga ke ekstrem yang lain (yakni pada versi Babad Jaka Tingkir) bahwa sang wali akhirnya mikraj ke surga.”
Adapun asal nama Kemlaten, kuburan Syekh Siti Jenar di Cirebon, terasalkan dari kisah dalam Babad Cerbon, bahwa ketika para wali membongkar kuburan Siti Jenar setelah dihukum mati, untuk membuktikan kebenaran ajarannya: bahwa jika ia mati di dunia ini artinya hidup abadi di dunia yang sebenarnya -ternyata memang tak menemukan jasad, melainkan sekuntum bunga melati. Seperti juga telah sering ditemukan dalam riwayat wali yang sembilan, istilah “politik dongeng” menegaskan terdapatnya kepentingan ideologis di balik segenap “sejarah” tersebut. Kesadaran tentang perlu diabaikannya keberadaan dongeng-dongeng tersebut sebagai fakta historis, juga tersurat dalam catatan sejarawan Graaf dan Pigeaud dalam Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa: Peralihan dari Majapahit ke Mataram (1974), seperti ketika memberi catatan atas keberadaan Dewan Walisanga:
“Sudah jelas bahwa Musyawarat orang-orang suci menurut cerita legenda ini, yang dihadiri oleh mereka semua, sukar kiranya dapat sungguh-sungguh terjadi. Dugaan ini wajar, karena antara kedua tokoh historis Sunan Ngampel Denta dan Sunan Kudus terdapat jarak waktu beberapa generasi (dari pertengahan abad ke-15 sampai dekade-dekade pertama abad ke-16).”                                    
Ajaran tentang ada
Lantas, ajaran macam apa sebetulnya, yang dianggap “benar tapi berbahaya”, sehingga penyebarnya begitu patut menerima hukuman mati dalam pandangan Walisanga? Dalam kenyataannya, buku-buku yang memuat dan menyebarkan teks yang disebut sebagai “ajaran” Syekh Siti Jenar ini beredar luas pada masa kini, beberapa di antaranya bahkan berpredikat best seller alias laris manis tanjung kimpul, yang bukan hanya tidak mengundang kecaman apa pun dari para pemeluk teguh syariat, melainkan justru ditulis oleh para ahli agama itu sendiri. Untuk menyebut beberapa, bisa diperiksa dua buku laris Abdul Munir Mulkhan, Syekh Siti Jenar: Pergumulan Islam-Jawa (1999) dan Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar (2001), Muhammad Sholikhin, Sufisme Syekh Siti Jenar: Kajian Kitab Serat dan Suluk Siti Jenar (2004), Sudirman Tebba, Syaikh Siti Jenar: Pengaruh Tasawuf Al-Hallaj di Jawa (2003), dan yang ditulis dengan sapaan hangat serta indah karya Achmad Chodjim, Syekh Siti Jenar: Makna “Kematian” (2002). Namun untuk mengintip apa yang disebut “ajaran rahasia” tersebut, pustaka yang akan diziarahi masih dari karya ilmiah P.J. Zoetmulder, Manunggaling Kawula Gusti: Pantheisme dan Monisme dalam Sastra Suluk Jawa (1935).
Tidak mungkin memindahkan ulasan panjang lebar dalam disertasi Zoetmulder tersebut, tapi kita mulai saja dengan petikan atas kutipan dari Serat Siti Jenar yang diterbitkan oleh Tan Khoen Swie, Kediri, pada 1922:
Kawula dan gusti sudah ada dalam diriku, siang dan malam tidak dapat memisahkan diriku dari mereka. Tetapi hanya saat ini nama kawula-gusti itu berlaku, yakni selama saya mati. Nanti, kalau saya sudah hidup lagi, gusti dan kawula lenyap, yang tinggal hanya hidupku, ketenteraman langgeng dalam Ada sendiri.
Hai Pangeran Bayat, bila kau belum menyadari kebenaran kata-kataku maka dengan tepat dapat dikatakan, bahwa kau masih terbenam dalam masa kematian. Di sini memang banyak hiburan aneka warna. Lebih banyak lagi hal-hal yang menimbulkan hawa nafsu. Tetapi kau tidak melihat, bahwa itu hanya akibat pancaindera.
Itu hanya impian yang sama sekali tidak mengandung kebenaran dan sebentar lagi akan lenyap. Gilalah orang yang terikat padanya, tidak seperti Syeh Siti Jenar. Saya tidak merasa tertarik, tak sudi tersesat dalam kerajaan kematian. Satu-satunya yang kuusahakan, ialah kembali kepada kehidupan.
Dalam disertasi filsafat ini Zoetmulder menekankan, bahwa dengan teks semacam ini Syekh Siti Jenar dan murid-muridnya telah ditafsirkan memberi kesan seolah-olah Tuhan itu tidak ada, padahal, “Menurut hemat kami ucapan-ucapan serupa hendaknya ditafsirkan sebagai sebuah polemik serta penolakan terhadap ide mengenai seorang Tuhan yang berpribadi; sebaliknya Siti Jenar mengetengahkan ide mengenai suatu Jiwa Semesta, ia manunggal dengan Hyang Suksma, manunggal dengan hidup yang tunggal, yakni dirinya sendiri.”

                              
Bukan Al-Hallaj, tapi India
Syekh Siti Jenar begitu sering dihubung-hubungkan dengan al-Husain ibnu Mansur al-Hallaj atau singkatnya Al-Hallaj sahaja, sufi Persia abad ke-10, yang sepintas lalu ajarannya mirip dengan Siti Jenar, karena ia memohon dibunuh agar tubuhnya tidak menjadi penghalang penyatuannya kembali dengan Tuhan. Adalah Al-Hallaj yang karena konsep satunya Tuhan dan dunia mengucapkan kalimat, “Akulah Kenyataan Tertinggi,” yang menjadi alasan bagi hukuman matinya pada 922 Masehi di Baghdad. Seperti Syekh Siti Jenar pula, nama Al-Hallaj menjadi monumen keberbedaan dalam penghayatan agama, sehingga bahkan diandaikan bahwa jika secara historis Syekh Siti Jenar tak ada, maka dongengnya adalah personifikasi saja dari ajaran Al-Hallaj, bagi yang mendukung maupun yang menindas ajaran tersebut. Tepatnya persona Syekh Siti Jenar memang dihidupkan untuk dimatikan.
Namun karena penelitiannya tentang segenap pengaruh terhadap sastra suluk Jawa, Zoetmulder berpendapat lain tentang ajaran Syekh Siti Jenar. “Jelaslah betapa besar pengaruh dari ide-ide India. Pengaruh itu tampak juga dari sikap terhadap nilai dan kenyataan dunia, yang dianggap hanya suatu permainan pancaindera, sebuah impian, segalanya hanya bersifat semu dan tak ada sesuatu yang nyata, suatu godaan, sebuah sulapan yang menimbulkan keinginan manusia dan dengan demikian mengurungnya. Singkatnya, di mana-mana kita mengenal kembali pandangan dari India.
“Akhirnya, juga kematian Siti Jenar – menurut logatnya sendiri, masuknya ke dalam kehidupan -seperti dilukiskan dalam versi yang kami bahas di sini, bernafaskan suasana India. Dengan menutup sendiri semua pintu dengan dunia luar ia membiarkan nafas kehidupan keluar dari badannya yang lalu mempersatukan diri dengan Sukma semesta. Dalam segala uraian ini hanya sedikit sekali pengaruh dari dunia Islam, sekalipun kadang-kadang disebut sebuah kutipan dalam bahasa Arab sekadar bahan pendukung. Sebaliknya menonjol sekali, betapa ajaran ini serasi dengan suatu bagian dari Arjunawiwaha yang melukiskan bagaimana Bhatara Indra dalam wujud seorang resi tua menyampaikan ajaran kesempurnaan kepada Arjuna yang sedang bertapa.
“Bila akhirnya tokoh Siti Jenar kita bandingkan dengan apa yang kita ketahui mengenai Al-Hallaj, maka tampak, bahwa keserasian hanya berkaitan dengan beberapa sifat dari kisah itu, tetapi kesamaan dalam hal ajaran jarang kita jumpai.”
Setelah menguraikan konsep ajaran Al-Hallaj yang dirujuknya dari peneliti sufisme terkenal Louis Massignon, hanya satu hal dianggap Zoetmulder agak mirip, yakni tentang permintaan maaf telah mengungkap rahasia ilahi (ifsa-al-asrar) – itu pun menurutnya Siti Jenar tidak minta maaf. Dijelaskannya, “Tidak mengherankan, bahwa dalam ajaran Siti Jenar tak terdapat bekas-bekas ajaran otentik Al-Hallaj.”
Ia pun merumuskan, “Perbedaan pokok antara kedua tokoh itu ialah Al-Hallaj selalu ditampilkan sebagai seorang sufi yang terbenam dalam cinta akan Tuhan, sedangkan dalam diri Siti Jenar sifat tadi hampir tidak tampak. Siti Jenar terutama dikisahkan sebagai seorang yang mandiri, akal bebas yang tidak menghiraukan raja maupun hukum agama; tak ada sesuatu pun yang menghalanginya menarik kesimpulan dari ajarannya. Dengan demikian ia menjadi wali yang paling digemari rakyat dan yang riwayatnya masih hidup di tengah-tengah orang Jawa.”
                                   
Lemah Abang serba pinggiran
Dengan konteks pengaruh India dan bukan Islam da lam ajaran Syekh Siti Jenar, menjadi jelas konteks duniawi yang terpadankan dengannya, seperti teruraikan oleh Graaf dan Pigeaud mengenai kedudukan politis Pengging sebagai kerajaan “kafir” terhadap kekuasaan Demak. Dalam legenda, Kebo Kenanga atau Ki Ageng Pengging adalah murid Syekh Siti Jenar yang membangkang dan tidak bersedia tunduk maupun melawan Sultan Demak – yang membuat kedudukannya sulit diatasi meski Sunan Kudus ia izinkan untuk membunuhnya. “Tindakan Sunan Kudus yang sangat terkenal terhadap ’si bid’ah’ Kebo Kenanga itu sesuai dengan ketegasan terhadap penghujah Allah Syekh Lemah Abang (atau Pangeran Siti Jenar) sendiri. Syekh itu adalah guru ilmu kebatinan empat bersaudara: Yang Dipertuan di Pengging, di Tingkir, di Ngerang, dan di Butuh.” Bahwa Pengging sebelumnya disebut-sebut sebagai kerajaan “kafir” yang masih berdiri setelah Majapahit runtuh, jelas menunjukkan personifikasi Syekh Siti Jenar sebagai representasi perlawanan, terhadap dominasi Demak sebagai representasi hegemoni kekuasaan rohani sekaligus duniawi.
Mungkinkah bisa dipahami sekarang, mengapa banyak wilayah di Jawa bernama Lemah Abang, dan selalu terletak di pinggiran?
 
Sumber : INTISARI No. 517 TH. XLIII, AGUSTUS 2006

Kamis, 02 Desember 2010

PANCASILA ALLAH

Maksud Pancasila Allah dalam wewarah Sapta Darma adalah merupakan sifat keluhuran dan sikap perwujudan kehendak Allah Hyang Maha Kuasa seperti berikut :
Allah Hyang Maha Agung, Allah Hyang Maha Rokhim, Allah Hyang Maha Adil, Allah Hyang Maha Wasesa dan Allah Hyang Maha Langgeng.  Dan sifat keluhuran ini tercermin dalam sifat dan sikap hidup manusia seperti berikut :
  1. Mau atau suka memaafkan kesalahan orang lain, mau menerima dan mau member, sifat berbudi bawa laksana serta daya cipta yang dimiliki.
  2. Rasa cinta dan kasih.
  3. Rasa keadilan.
  4. Rasa tanggung jawab dan mampu melaksanakan tugas yang diembannya, terutama dalam menguasai dan mengendalikan nafsu pada diri pribadi.
  5. Kesadaran bahwa hidup manusia tiada mati tapi abadi/langgeng dan akan kembali keasalnya/Allah Hyang Maha Langgeng untuk mempertanggungjawabkan tugasnya selama hidup di dunia bersama jasmaninya.
Manusia sebagai mahluk social tidak dapat lepas dari manusia lainnya, oleh karenanya pada diri manusia itu terdapat sifat tolong menolong, sifat toleransi, sifat cinta kasih dan lain-lainnya. Manusia selalu ingin berhubungan antara sesame manusia. Sifat-sifat semacam ini kita rasakan bersama pada diri kita masing-masing. Terus darimanakah sumber sifat-sifat tersebut? Tiada lain tentu dari Zat Mutlak yang tunggal yang disebut Hyang Maha Kuasa. Sifat inilah yang disebut Hyang Maha Rokhim.
Manusia juga mempunyai sifat tidak membeda-bedakan kepada sesame. Sifat ini tidak hanya terdapat pada orang-orang tua atau orang dewasa saja tetapi juga terdapat pada anak-anak. Dan sifat inipun ada sumbernya yaitu Hyang maha Kuasa, sehingga Hyang Maha Kuasa mempunyai sifat Hyang Maha Adil. Mengenai sifat adil ini dapat dijelaskan bahwa untuk mengatur kekuasaan yang ada didalam dunia ini harus ada peraturan-peraturan yang baik. Jadi segala keadaan ditata diatur dengan kejadian-kejadian yang menumbuhkan suatu keadaan pada keseimbangan yang berarti terjaminnya keadaan sebelumnya. Misalnya untuk mencari keadilan kita lari ke pengadilan, disini kita temukan seorang hakim, jaksa, pembela dan disini kita melihat keadilan yang harus dijatuhkan oleh hakim tersebut untuk memberikan suatu keseimbangan  dari orang yang bersalah /berdosa tersebut. Hasil dari pertimbangan hakim tersebut telah ditimbang-timbang dengan adanya tuntutan dari seorang jaksa dengan didampingi dengan pembelaan-pembelaan atau pledoi daripada pembela. Disitu akan memberikan suatu keseimbangan keselarasan hukum, supaya tetap keadilan dapat tercapai. Dilain pihak pelanggaran tidak hanya diantara manusia tetapi juga terjadi disegala aspek kehidupan. Baik di alam langgeng maupun dialam wajar. Di alam wajar kita melihat adanya banjir, petir, gempa bumi, tsunami, gunung meletus dan lainnya. Dan hal-hal inipun juga pelanggaran yang mengakibatkan tidak adanya keseimbangan. Hal ini yang bisa memberi keadilan tidak lain adalah Hyang Maha Adil. Jadi Hyang Maha Kuasa yang bersifat Hyang Maha Adil.
Manusia juga mempunyai sifat memberikan ampun atas kesalahan orang lain atau bersifat “berbudi bawa laksana”. Dengan daya cipta pikiran manusia mampu membuat segala macam materi atau benda-benda yang dalam abad nuklir ini seperti mulai dari sepeda, motor, mobil, pesawat, senjata kimia, biologi, satlit, televise, computer, robot, senjata nuklir dsb. Apabila kita renungkan tidak heran manusia dapat mencapai hal yang sedemikian tingginya, sebab sifat kemampuan yang agung semacam itu sumbernya adalah Hyang Maha Kuasa. Oleh karena itu Hyang Maha Kuasa bersifat Hyang Maha Agung.
                Disinilah keagungan yang diberikan kepada manusia dan manusia sekarang ini telah lupa dengan sumbernya, dengan kemampuan membuat senjata seenaknya menghancurkan sesama bahkan alam semesta tempat perlindungannya.Keagungan yang diberikan kepada manusia melalui rohaninya itu hingga manusia itu mencapai sedemikian tingginya dan manusia lupa akan tujuan hidup yang sesungguhnya yaitu memayu hayuning bawana dalam arti dunia ini tidak boleh dirusak, harus dipayungi. Tapi manusia lupa akan causaprimanya yang seharusnya menjaga ketentraman dan perdamaian dunia tapi sebaliknya alat yang diciptakannya itu malah untuk merusak sesame maupun dunia ini. Contohnya adalah perang irak, afganistan,libanon, rela menjadi teroris dsb.
Sifat yang lain yang dimiliki oleh manusia ialah manusia selalu mempunyai sifat mudah mengingat-ingat akan sesuatu hal yang selamanya akan terkenang, lebih-lebih perbuatan yang baik yang diamalkan kepada sesame umat akan memunculkan nama yang baik, nama yang langgeng, yang selalu dikenang oleh masyarakat. Misalnya perbuatan amal para nabi, para wali, pahlawan bangsa, yang namanya sampai sekarang tetap dikenang/langgeng. Jadi dengan demikian manusia juga mempunyai sifat-sifat langgeng yang sebetulnya bersumber pada jiwa atau rohaninya dan sifat ini bersumber dari Hyang Maha Kuasa, sehingga Hyang Maha Kuasa bersifat Hyang Maha Langgeng.
Masih ada sifat lain yang tersembunyi pada diri manusia yang kita rasakan bersama yaitu sifat purba dan wasesa atau purba-wasesa. Hal ini sebetulnya dipunyai oleh rohani manusia yang berupa rasa. Misalnya rasa sedih, rasa sakit, rasa gembira, rasa senang,rasa bahagia dsb. Dan rasa inipun ada sumbernya yaitu Hyang Maha Kuasa, sehingga Hyang Maha Kuasa mempunyai sifat Hyang Maha Wasesa.   
            Sifat-sifat yang lain yang dimiliki oleh manusia masih banyak yang dapat kita rasakan sehari-hari, namun dari sekian sifat-sifat tersebut yang terpenting asalnya dari repleksi sinar-sinar Hyang Maha Kuasa. Sifat terpenting yang mutlak pada Hyang Maha Kuasa adalah Panca Sila Allah yang kami sebutkan diatas, sedangkan sifat lainnya apabila kita pecah sampai tidak terbatas.

Kamis, 25 November 2010

SUJUD YANG SEMPURNA

Sujud secara Kerohanian Sapta Darma adalah tata cara menembah kehadapan Hyang Maha Kuasa. Sujud yang sesungguhnya adalah bagaimana agar Hyang Maha Suci bisa sujud Hyang Maha Kuasa. Tentulah hal ini tidak mudah karena kita dituntut untuk mengenal siapa itu Hyang Maha Suci dan bagaimana sujudnya Hyang Maha Suci sujud Hyang Maha Kuasa.
Dalam sabda Panuntun Agung Sri Gutomo dikatakan ;  “Percayalah kepada Pribadimu, kepada Tuntunanmu, sebab kalau tidak percaya kepada Hidupmu, bagaimana akan percaya kepada Hyang Maha Kuasa? Sebab Tuntunanmu adalah hidupmu yang dapat berhubungan dengan Hyang Maha Kuasa.”  Itu berarti Pribadimu, Hidupmu dan Tuntunanmu adalah tiga kata yang berbeda tetapi maksudnya sama.
Dalam penelitian penyempurnaan sujud ( sujud dasawarsa ) yang disebut juga sujud asal mula manusia atau dikenal juga istilah sujud tesing dumadi manusia. Kita disuruh “ Galilah rasa yang meliputi seluruh tubuhmu (kepribadianmu yang asli)”.
Penelitian penyempurnaan sujud ini untuk mencapai sujud yang sempurna. Karena apabila sujud yang sempurna telah saudara jalankan/praktekkan dengan betul, maka berarti saudara telah melakukan penggalian yang sejati yaitu penggalian pribadi yang asli. Barulah sujud itu dikatakan berhasil karena akan terhindar dari jajahan-jajahan getaran-getaran yang kurang/tidak sempurna. Saudara akan menjadi manusia yang berbudi luhur.
Dari uraian tersebut diatas yang dimaksudkan dalam sabda Panuntun Agung Sri Gutomo bahwa, Pribadimu, hidupmu dan Tuntunanmu adalah Kepribadiannmu yang asli. Dan untuk mengetahui kepribadian yang asli kita disuruh meneliti atau menggali rasa yang meliputi seluruh tubuhmu. Karena ada istilah asli tentu ada yang tidak asli. Yang manakah rasa yang tidak asli tentu rasa-rasa yang muncul dari gejolak saudara 12 yang masing-masing mempunyai kepribadian yang berbeda-beda yang disimbolkan dengan warna hitam, merah, kuning dan putih.
Dan ini cukup jelas untuk mendeteksi para warga atau para tuntunan, bagaimanakah kepribadiannya apakah asli atau bukan asli karena akan terpancar lewat prilakunya sehari-hari.
Apa sajakah yang mempengaruhi sujud yang sempurna itu ?? Dalam buku dasawarsa dijelaskan bahwa sujud yang sempurna erat kaitannya /bergandengan erat dengan biji dan asal mula manusia. Nah inilah inti dari pembahasan selanjutnya bagaimanakah tesing dumadi manusia tersebut ? apakah tesing dumadi manusia bisa diruwat ???…………(bersambung).

Jumat, 12 November 2010

TESING DUMADI MANUSIA

Asal mula manusia

Apakah asal mula manusia itu?…. asal mula manusia adalah dari getaran tumbuh-tumbuhan dan getaran dari binatang yang kita makan, dan akhirnya berwujud air putih (air suci) dengan sinar cahaya (tri tunggal yaitu nur cahaya = sinar cahaya allah, nur rasa = sari-sarinya Bapak dan nur buat = sari-sarinya Ibu).
Misalkan di dalam ilmu pertanian, apabila menginginkan hasil yang baik maka tentulah dipilih bibit yang baik, bibit yang unggul, bibit yang sempurna. Karena dengan bibit yang baik tanaman yg kita tanam akan menghasilkan buah /hasil yg baik pula. Disamping itu perlu juga metode/cara bercocok tanam yang benar, pemeliharaan, pemupukan dan lingkungan alam yang baik pula.

Dalam kehidupan manusia, kita akan mencita-citakan mempunyai anak yang baik, anak yg cerdas, bagus, cantik, sehat, bijaksana dsb. Akan tetapi adakah kita perhatikan bibitnya ? Adakah dipelihara bibitnya ?……apalagi jaman sekarang biji manusia diecer-ecer dimana-mana, disebarkan pada tempat yang gelap, tempat yg tidak layak dsb. Sebab menanam biji yg sempurna terletak pada orang tuanya. Kenakalan, kebodohan dan kekurang sempurnanya anak-anak yg dilahirkan adalah karena orang tuanya. Adalah karena kekeliruan orang tua dalam memelihara bijinya. Seperti contoh sehabis menebar biji ditempat-tempat yang gelap baru pulang menanam disawahnya sendiri, sehabis main judi, melihat barang-barang yg jelek, terus sampai dirumah menebarkan biji. Tentu hasilnya akan jelek, kenapa ?….Sebab getaran-getaran yg buas yg jelek masih terkenang-kenang dikepala. Dan getaran tersebut akan turut tersaring dalam menurunkan biji-biji manusia dan turut pula tertanam didalamnya.

Disamping itu prilaku orang tua yang lainnya….misalnya dalam pembentukan biji manusia didapat dari hasil yang tidak baik… misalnya dengan mencuri, korupsi, menipu, merampok dsb. Tentu berpengaruh pada kualitas biji manusia tersebut karena mengandung virus setan /jin. Bila ditanam maka anak yg lahir telah terkontaminasi virus tersebut sehingga kelak anak tersebut juga berprilaku mirip orang tuanya.
Prilaku yang lain orang tuanya senang belajar ilmu sesat yg dilarang oleh Agama atau memakai pengasihan/pellet untuk mencari jodoh…..apakah tidak mungkin juga berpengaruh terhadap anak yg dilahirkan.

Pada kenyataan sering ditemui watak/tabiat anak yang dilahirkan tidak mirip dengan kedua orang tuanya tetapi mirip kakek/neneknya atau mbahnya yg sudah meninggal.  Pada kasus ini apakah mungkin getaran/ilmu-ilmu Mbahnya menurun/tertetes pada cucunya?

Sabtu, 23 Oktober 2010

Bagian 4 : Sekelumit Kisah Sunan Kajenar atau Syeh Siti Jenar

Syeh Siti Jenar, kini telah menjadi semacam duri dalam daging bagi Dewan Wali Sangha. Sebuah duri ditengah berkobarnya semangat kekhalifahan. Sebuah obsesi Kaum Putihan untuk mendirikan bentuk pemerintahan Islam pertama di Jawa. Suatu Kekhalifahan yang menurut mereka bakal menjadi lebih besar gaungnya daripada Kekhalifahan Malaka( yang berdiri -/+ 1400 M) maupun Kekhalifahan Samudera Pasai yang berdiri pada tahun 1285 Masehi, tujuh tahun lebih awal berdiri daripada berdirinya Kerajaan Majapahit di Jawa ( 1292 M).Samudera Pasai bisa berdiri karena Kerajaan Shriiwijaya yang bercorak Buddhis, tengah terlibat peperangan dengan Kerajaan Thai yang juga sama-sama bercorak Buddhis. Ditambah lagi, serangan dari Kerajaan Singhasari yang berpusat di Malang, Jawa Timur dalam ekspedisi Pamalayu-nya, ikut memperlemah kekuatan Shriiwijaya.

Dalam situasi politik yang tidak menentu seperti ini, Samudera Pasai berhasil memisahkan diri, dan kemudian memaklumatkan diri sebagai Kekhalifahan pertama di Nusantara. Namun manakala Majapahit berdiri, sebagai penerus dinasty Singhasari, dan ketika Shriiwijaya berhasil dimasukkan kedalam wilayah kekuasaan Majapahit, maka Samudera Pasai-pun, mau tak mau, harus ikut tunduk mengakui kekuatan Majapahit.

Namun walaupun begitu, otonomi khusus bagi Samudera Pasai tetap diberikan oleh Penguasa Majapahit ( Raden Wijaya kala itu ). Hukum Islam tetap boleh diberlakukan diwilayah Samudera Pasai. Kebijakan yang luar biasa seperti ini, hanya bisa didapati dari mereka-mereka yang sudah berkesadaran tinggi. Seandainya Samudera Pasai yang berkuasa atas Majapahit, apakah akan terjadi sebaliknya?

Dan pada tahun 1401-1406 Masehi, Majapahit dilanda keguncangan. Kadipaten Blambangan, sebuah Kerajaan kecil wilayah Majapahit yang ada diujung timur pulau Jawa, hendak melepaskan diri dari pusat kekuasaan. Maka, terjadilah perang saudara yang terkenal dalam sejarah dengan nama Perang Pareg-greg. Blambangan berhasil ditundukkan. Beberapa bangsawan Blambangan berhasil melarikan diri ke pulau Tumasik ( Negara Singapura sekarang : Damar Shashangka). Namun, beberapa diantara bangsawan Blambangan merasa tetap tidak aman tinggal di pulau Tumasik, salah seorang darinya, bernama Pangeran Paramishora, diiringi beberapa pengikutnya, meninggalkan pulau Tumasik, menuju ke Semenanjung Malaka.

Di Semenanjung Malaka, Pangeran Paramishora dengan para pengikutnya dari Jawa, membuka hunian baru. Karena letaknya strategis, hunian baru itu berkembang pesat menjadi salah satu pusat perdagangan dunia. Pangeran Paramishora lantas memberanikan diri memproklamirkan berdirinya sebuah Kerajaan baru bernama Kerajaan Malaka. Dan Kerajaan Malaka inilah cikal bakal negara Malaysia sekarang.

Mendengar diproklamirkannya sebuah Kerajaan baru di Semenanjung Malaka yang merupakan wilayah Majapahit dan yang tidak mengakui kedaulatan Majapahit, penguasa Majapahit kala itu, yaitu Prabhu Wikramawardhana, tidak tinggal diam. Pangeran Paramishora, meminta bantuan Kaisar China dan menyatakan tunduk kepada Kekaisaran China, sehingga mau tidak mau Angkatan Perang Majapahit jika hendak merebur kembali Malaka, harus berhadapan dengan Angkatan Perang China!

Pangeran Paramoshora memang cerdik, bahkan untuk memperkuat tercapai ambisinya, dia menyatakan masuk Islam karena dia menyadari, di Malaka kebanyakan masyarakatnya telah memeluk Islam. Begitu masuk Islam dia mengganti namanya menjadi Sultan Iskandar Syah. Dan Malaka lantas berubah menjadi sebuah kekhalifahan Islam. Para penduduk Malaka dan Samudera Pasai menyatakan dukungannya kepada Kekhalifahan Malaka. Praktis, kini Majapahit harus menghadapi dua kekuatan sekaligus, yaitu kekuatan Angkatan Perang China dan kekuatan Islam.

Dilain pihak, dipusat kekuasaan Majapahit sendiri, segala keputusan penting yang menyangkut Kedaulatan Negara, terkesan sangat lambat dan tidak tegas. Terutama kebijakan yang terlampau lunak kepada orang-orang Islam yang ada diwilayah Majapahit membuat Majapahit semakin kehilangan pamornya. Kebijakan yang teramat lunak ini juga tak lepas dari banyaknya petinggi Kerajaan yang telah beragama Islam. Maka tak heran, kebijakan yang terlampau lunak kepada orang-otrang Islam, kerap kali mewarnai keputusan-keputusan yang diambil. Dan menyangkut urusan Malaka, pada akhirnya, Malaka lepas juga dari wilayah Majapahit. Konfrontasi yang hendak dijalankan, tidak pernah terwujud. Majapahit tengah disetir oleh kekuatan-kekuatan eksternal yang tidak kasat mata.

Sultan Iskandar Syah, meninggal dunia pada tahun 1414 Masehi. Dia digantikan oleh Muhammad Iskandar Syah. Sepuluh tahun kemudian (1424 M ), terjadi perebutan kekuasaan. Adik Muhammad Iskandar Syah, yaitu Mudzafar Syah, merebut tahta Kekhalifahan. Situasi politik Malaka mencekam.

Pada masa inilah, Syeh Datuk Sholeh, seorang ulama Islam terkemuka yang tinggal di Malaka, melarikan diri ke Jawa.

Syeh Datuk Sholeh, adalah putra dari Syeh Datuk Isa. Syeh Datuk Isa adalah ulama terkemuka juga di Malaka, beliau putra Syeh Ahmad Jalalluddin, ulama Islam yang bermukim di Champa ( Kamboja sekarang : Damar Shashangka ). Syeh Ahmad Jalalluddin adalah pendatang dari India, dia adalah putra Syeh Abdullah Khannuddin, seorang Mursyid Thariqat Syathariyyah yang terkenal di Ahmadabad, India. Syeh Abdullah Khannuddin sendiri adalah putra Syeh Abdul Malik yang juga seorang pendatang di India. Beliau berasal dari Qazam, Hadramaut. Syeh Abdul Malik adalah putra Syeh 'Alawy. Syeh Alawiy adalah keturunan seorang ulama terkenal yang bernama Syeh Isa al-Muhajjir al-Bashori al- 'Alawiy.

Pada tahun 1425 Masehi, Syeh Datuk Sholeh, tiba di Caruban Larang ( Cirebon sekarang : Damar Shashangka ). Kedatangannya bersama istri beliau dan para pengikutnya. Setibanya di Caruban Larang, yang waktu itu sudah diperintah oleh Pangeran Cakrabhuwana, beliau memilih menetap di daerah Pakuwuan Caruban atau Astana Japura sekarang, terletak sebelah tenggara kota Caruban Larang.

Di Caruban, beliau bersahabat dekat dengan Syeh Datuk Kahfi, seorang ulama Islam yang telah lebih dahulu tiba di Caruban, bahkan jauh-jauh hari sebelum Pangeran Cakrabhuwana mendirikan Caruban Larang. Syeh Datuk Kahfi inilah, guru dari Pangeran Cakrabhuwana.

Pada awal tahun 1426 Masehi, Syeh Datuk Sholeh wafat. Kala itu, istri beliau yang tengah mengandung semenjak kepergiannya dari Malaka, melahirkan seorang putra. Putra yang lahir yatim ini, diberi nama San 'Ali Anshar. Kelak, San 'Ali Anshar inilah yang terkenal dengan nama Syeh Lemah Abang atau Syeh Siti Jenar.

Sejak kecil, San 'Ali Anshar diasuh oleh Ki Danusela, sahabat Syeh Datuk Sholeh. Menginjak usia lima tahun, Ki Danusela mengirimkan San 'Ali Anshar ke pasantren Giri Amparan Jati yang diasuh oleh Syeh Satuk Kahfi.

San 'Ali Anshar, adalah santri generasi kedua dari Pesantren Giri Amparan Jati. Pada generasi pertama, tercatat nama Pangeran Walang Sungsang dan Dewi Rara Santang. Keduanya adalah putra-putri Prabhu Silihwangi, Raja Pajajaran. Dan Pangeran Walang Sungsang, lantas bergelar Pangeran Cakrabhuwana, sedangkan Dewi Rara Santang lantas berganti nama menjadi Syarifah Muda'im. Syarifah Muda'im adalah ibu dari Syarif Hidayatullah yang kelak terkenal dengan nama Sunan Gunungjati.

Menginjak dewasa, San 'Ali Anshar setelah merasa cukup menimba ilmu agama dari Syeh Datuk Kahfi, dia lantas memutuskan untuk menuju pedalaman Pajajaran. San 'Ali Anshar merasa bahwa apa yang dicarinya selama

Di Pajajaran, San 'Ali Anshar berhasil berguru kepada seorang Yogi Hindhu. Dari Sang Yogi, San 'Ali Anshar mendapatkan pelajaran Yoga yang bersumber dari Rontal Catur Viphala, sebuah sistem Yoga yang juga dipelajari oleh Prabhu Kertawijaya ( pengganti Ratu Suhita ) Raja Majapahit.

San 'Ali Anshar, mampu dengan cemerlang menguasai empat tahapan sistem Yoga Catur Viphala. Empat tahap yang disebut Nis-Prha, Nir-Hana, Nis-Kala dan Nir- Asraya.

Dalam tahap Nis- Prha, seorang Sadhaka ( pengembara spiritual ) diharapkan sudah mampu melampaui segala macam keinginan duniawinya. Duniawi sudah tidak menarik minatnya lagi. Kehendak 'aku'-nya hanya terarah pada 'Sang Atma' atau 'Aku- Semesta'. Seluruh Panca Indrya ( Lima Indra penghubung dengan dunia Maya ) dan Panca Karmendrya ( Lima Indera penggerak badan kasar ), sudah mampu ditundukkan. Demikian juga dengan Manah ( Pikiran ), Citta ( Ingatan ), Ahamkara ( Keakuan ) dan Buddhi ( Kesadaran terbatas ), sudah sangat tenang. San 'Ali Anshar, menyebut kondisi ini dengan satu kata : Heneng ( Tenang )

Dalam tahap Nir-Hana, seorang sadhaka diharapkan sudah mampu menyadari sebenar-benarnya, bahwa diri-Nya adalah bagian dari Kesadaran Murni Semesta. Telah benar-benar menyadari bahwa diri-Nya adalah Atma. Diri-Nya bukanlah Badan Kasar atau Sthula Sariira yang terlihat ini. Diri-Nya bukanlah Badan Halus atau Suksma Sariira yang terdiri dari Manah, Citta, Ahamkara, Buddhi dan kesepuluh Indra ini. Diri-Nya tak lain adalah percikan Brahman, sebuah Kesadaran Total Murni Yang Absolut Transendental. San 'Ali Anshar, menyebut kondisi ini dengan satu kata : Hening ( Jernih ).

Dalam tahap Nis- Kala, seorang sadhana sudah mampu melampaui Badan Kasar dan Badan Halusnya. Seorang sadhana sudah menyadari betul, bahwa Badan Kasar dan Badan Halus hanyalah produk Maya, Produk Alam, yang tidak kekal dan bakalan musnah. Sandahan benar-benar menyadari hanya Atma-lah yang kekal, karena Atma tidak diciptakan. Atma adalah percikan Brahman. Sang Sadhana sudah melihat kebenaran ini Dia sudah mampu melihat apa itu Atma, apa itu Brahman. Sang Sadhana sudah bisa melihat bahwasanya Atman dan Brahman adalah Satu. San 'Ali Anshar, menyebut kondisi ini dengan satu kata : Hunong ( Melihat ).

Dalam tahap Nir- Asraya, Sang Sadhana sudah mampu melebur 'aku'-nya. Sudah mampu memecahkan belenggu 'Aku'-Nya Sudah melampaui Mindnya. Dan Atma sang Sadhana yang ternyata adalag Satu Kesatuan Tunggal dengan Brahman, kini telah menikmati kondisi penyatuan ini, penyatuan yang telah lama Ia lupakan. Menikmati Ketunggalan yang telah lama tak disadarinya akibat pengaruh Maya, pengaruh Mind. Pengaruh 'aku' kecilnya sendiri. Sang Sadhana telah lebur kedalam Kebahagiaan Sejati Yang Tiada Akhir. San 'Ali Anshar, menyebut kondisi ini dengan satu kata ; Menang ( Kemenangan ).

Di Pajajaran, melalui bimbingan seorang Yogi Hindhu, San 'Ali Anshar, mencapai 'Puncak Kesadaran'. Dan dari Pajajaran inilah, San 'Ali Anshar menyadari bahwa seluruh alam ini, sesungguhnya adalah Satu Kesatuan. Terlihat berbeda karena setiap makhluk masih terliputi kesadaran Badan Halus. Sehingga muncul 'aku' kecil. Begitu 'aku' kecil muncul, maka setiap makhluk merasa terpisah sebagai pribadi-pribadi tersendiri. Begitu pengaruh Maya ini berhasil disingkapkan, maka semua yang terlihat hanyalah Brahman semata. San 'Ali Anshar bersujud syukur, karena melalui seorang Yogi Hindhu, dia bisa menyadari semua ini. Bahkan akhirnya, dia juga bisa memahami apa yang pernah diucapkan oleh seorang Sufi terkenal, yaitu Abu Yazid al-Busthami, manakala beliu pernah berkata kepada seseorang yang tengah mencarinya. Seseorang yang tengah mengetuk pintu rumahnya. Beliau bertanya : Siapa ?.Yang mengetuk menjawab : Aku, mencari Abu Yazid. Beliau lantas menjawab : Pergilah. Yang ada dirumah ini hanya Allah!.

Setelah berhasil memperoleh Kesadaran Purna dari Pajajaran, hasrat San 'Ali Anshar untuk melakukan pengembaraan, tak terbendung lagi. Dia bertolak ke Palembang. Menemui Arya Damar. Disana San 'Ali Anshar memperdalam lagi puncak spiritualitas yang sesungguhnya telah ia dapatkan.

Arya Damar adalah bangsawan Palembang. Dia adalah putra Prabhu Wikramawardhana, Raja Majapahit yang memerintah pada tahun 1389-1429 Masehi dengan seorang putri China. Nama China Arya Damar adalah Swan Liong. Dia adalah peranakan Jawa-China. Sempat belajar agama kepada Syeh Ibrahim As-Samarqand atau yang di Jawa terkenal dengan nama Syeh Ibrahim Smorokondi. Syeh Ibrahim As-Samarqand inilah ayah kandung Sunan Ampel. Arya Damar inilah ayah tiri Raden Patah. ( Baca catatan saya : Misi Peng-Islam-an Nusantara : Damar Shashangka ).

Di Palembang, San 'Ali Anshar bersama Arya Damar membuktikan bahwa seluruh semesta ini sejatinya adalah satu kesatuan tunggal. Sehabis dari Palembang, San 'Ali Anshar melanjutkan pengembaraannya ke Kesultanan Malaka ( +/- 1450 M ). Di Malaka, San 'Ali Anshar dikenal dengan nama Syeh Jabaranta, Bahkan, akibat pertemuannya dengan Syeh Datuk Ahmad, yaitu kakak kandung Syeh Datuk Sholeh, ayahnya, San 'Ali Anshar, diberi nama baru, yaitu Syeh Abdul Jalil.

Rasa ingin mengenal semesta raya yang semakin meletup-letup didada San 'Ali Anshar yang kini dikenal dengan nama Syeh Abdul Jalil, membuatnya memutuskan untuk melanjutkan pengembaraan ke Baghdad, Irak. Bersama seorang ulama Sufi asal Baghdad yang menetap di Malaka, bernama Syeh Ahmad Al-Mubasyarah Al- Tawwalud, Syeh Abdul Jalil, berangkat ke Baghdad.

Di Baghdad, Syeh Abdul Jalil semakin intensif mempelajari spiritualitas. Apalagi disana, dikediaman Al-Tawwalud, banyak naskah-naskah Sufistik yang tersimpan. Seluruh kitab Sufistik mulai dari Ihya' Ulumuddin-nya Al-Ghazali, Fushushul Hikam-nya Ibnu 'Araby, karya-karya Abu Yazid Al-Busthami bahkan At-Thawasun-nya Al-Hallaj, yang terkenal dengan ucapannya 'Anna Al-Khaq' ( Aku-lah Kebenaran Sejati ) dan yang hidupnya berakhir targis ditiang eksekusi mati, semuanya berhasil dipelajari oleh Syeh Abdul Jalil. Termasuk pula kitab Haqiqatul Haqoiq, Insan Kamil dan Manazilul Alahiyyah-nya Al-Jilli, semuanya berhasil dipahaminya.

Setelah dirasa cukup, Syeh Abdul Jalil meneruskan pengembaraannya ke Makkah. Setelah mengunjungi Makkah, Syeh Abdul Jalil bertolak pulang ke Jawa.

Syeh Abdul Jalil tiba kembali dipulau Jawa pada tahun 1463 Masehi. Caruban Larang, kini telah berubah menjadi daerah otonom. Pangeran Walang Sungsang kini menjawab sebagai Penguasa tunggal wilayah Caruban Larang dan bergelar Pangeran Cakrabhuwana, serta bergelar Shrii Manggana. Gelar terakhir adalah gelar pemberian dari ayahandanya Prabhu Silih Wangi.

Syeh Datuk Kahfi, masih dianugerahi usia panjang.

Kedatangan Syeh Abdul Jalil ini diketahui oleh Dewan Wali Sangha, yaitu semacam Majelis Ulama Jawa yang berpusat di Ampeldhenta, Surabaya. Majelis Ulama Jawa ini berdiri pada tahun 1454 dibawah pimpinan Raden 'Ali Rahmad atau lebih dikenal dengan nama Sunan Ampel. ( Baca catatan saya : Misi Peng-Islam-an Nusantara : Damar Shashangka ).

Selama beberapa tahun meninggalkan Jawa, telah banyak sekali perubahan yang terjadi. Syeh Abdul Jalil melihat umat Islam sekarang terkesan lebih militan, jauh berbeda dengan kesan sebelum beliau meninggalkan Jawa.

Karena di Jawa bagian barat kepemimpinan Islam belum ada yang memegang, atas usul Sunan Benang, Syeh Abdul Jalil diangkat sebagai wakil Dewan Wali di sana. Syeh Abdul Jalil, yang setibanya di Caruban mendapat gelar baru Syeh Lemah Abang atau Syeh Siti Jenar, menerima tawaran itu.

Namun melihat dominasi Dewan Wali Sangha yang semakin hari semakin tidak mencerminkan Islam yang sesungguhnya, membuat Syeh Siti Jenar harus berkali-kali melayangkan protesnya kepada Sunan Ampel. Syeh Siti Jenar tidak menyetujui gerakan-gerakan lasykar Islam yang kian hari kian radikal. Harmonisasi terganggu. Toleransi terkoyak. Etika kemanusiaan tercampak. Dan ujung-ujungnya Islam menjadi kambing hitam.

Pada puncaknya, Syeh Siti Jenar menyatakan keluar dari Dewan Wali Sangha. Bagi beliau, spiritualitas Islam yang universal, menjadi terasa sempit terhimpit dinding-dinding kelembagaan Dewan Wali. Dan, Syeh Siti Jenar tidaklah sendiri, seorang anggota Dewan Wali, yang sangat disegani diwilayah Majapahit, yaitu Sunan Kalijaga, mempunyai pandangan yang sama dengan beliau. Maka, dimata Dewan Wali, kedua tokoh ini telah menjadi dua sosok figur 'pemberontak'.

Seorang santri senior Sunan Ampel, yang bernama Sunan Giri, menamakan kelompok Syeh Siti Jenar dan Sunan Kalijaga, sebagai kelompok Abangan, semacam kelompok bid'ah. Kelompok yang tidak mengamalkan ajaran Islam secara keseluruhan, sepotong-sepotong. Dan, situasipun memanas. Ummat Islam Jawa terpecah menjadi dua kelompok besar. Mereka yang berpandangan bahwasanya umat beragama lain berhak berdampingan secara sejajar dengan umat Islam, saling asah, asih dan asuh, saling memberi, saling mengisi, dikelompokkan oleh Sunan Giri sebagai pengikut Abangan. Sedangkan kelompok yang berpandangan bahwa Islam adalah kebenaran tunggal, tidak ada lagi agama yang benar kecuali Islam, tidak ada lagi toleransi bagi mereka yang bukan Islam kecuali ada perjanjian tertulis dan selayaknya ajaran Islam yang berhak mendominasi segala aspek kehidupan manusia, dikelompokkan sebagai kaum Putihan.

Pada tahun 1475 Masehi, Syarif Hidayatullah, keponakan Pangeran Cakrabhuwana, beserta ibunya Syarifah Muda'im, datang ke Cirebon dari Mesir. Mengingat kedudukan kepemimpinan Islam di Jawa bagian barat tengah kosong, maka Dewan Wali Sangha meminta Syarif Hidayatullah bersedia mengisi kekosongan itu. Syarif Hidayatullah lantas terkenal dengan nama Sunan Gunungjati.

Menjelang awal tahun 1478, Sunan Ampel wafat. Kepemimpinan Dewan Wali Sangha beralih ketangan Sunan Giri. Melihat perubahan yang tak terduga ini, mau tak mau posisi abangan sangat terjepit.

Dan manakala mendengar Pesantren Krendhasawa yang diasuh oleh Syeh Siti Jenar mengalami kemajuan sedemikian pesat, dimana materi pengajaran yang diajarkan ternyata sangat-sangat lunak bagi akidah Islam, begitu menurut Sunan Giri, bahkan tassawuf adalah materi utama yang diajarkan disana melebihi ilmu-ilmu yang lain, maka Sunan Giri, yang merasa sebagai Wali Mukmin, Pemimpin Dewan Wali, meminta Syeh Siti Jenar untuk menghadap ke Giri.

Dewan Wali Sangha yang mendapati bahwa Syeh Siti Jenar benar-benar sudah diluar kontrol, diam-diam memutuskan untuk menyingkirkan beliau.

Pada tahun 1478, Demak Bintara mengadakan perebutan kekuasaan. Majapahit berhasil dihancurkan ( Baca catatan saya ; Misi Peng-Islam-an Nusantara : Damar Shashangka ). Perebutan kekuasaan yang berakhir sukses gemilang ini membuat orang-orang Islam golongan Putihan merasa bangga. Kala itu, mereka yakin, Tuhan telah merestui perjuangan mereka. Andai saja mereka tahu, seandainya Majapahit tetap berdiri kokoh, kelak Belanda tidak akan mampu menguasai Nusantara secara keseluruhan. Sebab dengan dihancurkannya Majapahit, maka integrasi wilayah-wilayah diluar pulau Jawa yang selama ini mampu disatukan dalam panji kebesaran Majapahit, akan sangat sulit dilakukan oleh Demak Bintara, mengingat Demak Bintara memiliki kebijakan politik yang sangat kaku.

Begitu juga, hubungan perdagangan dengan bangsa Eropa, pasti tidak akan bisa berjalan lancar selancar disaat Majapahit masih berkuasa. Bangsa Eropa dan dunia Islam, semenjak Perang Salib, telah memiliki dendam sejarah yang teramat dalam. Mau tidak mau, untuk memperlancar kembali pasokan rempah-rempah dari Nusantara yang kini didominasi kekuatan Islam, maka politik konfrontasi akan dikedepankan oleh bangsa-bangsa Eropa.

Secara tidak sadar, ummat Islam Putihan telah mengundang konflik lebih besar bagi Nusantara. Mengundang keterpurukan Nusantara dalam jangka waktu yang cukup lama.

Namun dikala itu, disaat mereka telah berhasil menghancurkan Majapahit, mereka benar-benar optimis, benar-benar yakin, bahwa dengan tegaknya Kesultanan Demak Bintara, maka Nusantara akan diberkahi kemakmuran oleh Tuhan.

Pada kenyataannya, sejak masa itu, Nusantara terus tenggelam kedasar jurang keterbelakangan dan kemiskinan. Mana janji Tuhan ? Seandainya Majapahit tetap berdiri, maka dapat dipastikan, Nusantara akan tetap tegak sejajar dengan China!

Kubu Abangan tidak ikut campur sama sekali dengan urusan perebutan kekuasaan ini. Namun, begitu kaum Putihan memenangkan pertarungan, maka bukan saja komunitas Hindhu-Buddha, kubu Abangan-pun ikut tersudut. Dan pada puncaknya, mereka lama-lama tidak betah juga terus-terusan disudutkan, dihakimi, diajari, dinasehati bahkan diintimidasi. Banyak para pengikut Abangan yang kemudian menjauhi pusat-pusat perkotaan. Menyingkir ke pedesaan. Membentuk kelompok-kelompok kecil, terpisah-pisah dan terkucil. Dan pada perkembangan selanjutnya, sebagian dari mereka ini menyebut dirinya sebagai penganut aliran Kejawen.

(Bersambung).


LIST OF COMMENTS

1/2. Ms
Written by Guest - Thursday, December 10 2009


"Pada kenyataannya, sejak masa itu, Nusantara terus tenggelam kedasar jurang keterbelakangan dan kemiskinan. Mana janji Tuhan ? Seandainya Majapahit tetap berdiri, maka dapat dipastikan, Nusantara akan tetap tegak sejajar dengan China!" comment: siapa yg bisa menjamin bahwa Majapahit akan sejajar dengan China kalau tidak ada gerakan para sunan?, sejarah Imperium China sendiri dimulai nyaris 300 tahun sebelum Masehi dan terus berkembang dari masa ke masa, sepertinya penulis harus membaca lebih banyak lagi dan mengutip nara sumber yg aktual selain dirinya sendiri.

2/2. Giss
Written by Guest - Saturday, January 16 2010


"siapa yg bisa menjamin bahwa Majapahit akan sejajar dengan China kalau tidak ada gerakan para sunan?, sejarah Imperium China sendiri dimulai nyaris 300 tahun sebelum Masehi dan terus berkembang dari masa ke masa, sepertinya penulis harus membaca lebih banyak lagi dan mengutip nara sumber yg aktual selain dirinya sendiri" rasanya penjelasan diatas sudah sangat logis.... saat suatu bangsa bersatu, maka makin sulit untuk digoyahkan...persatuan salah satunya diperoleh dengan adanya sikap toleran terhadap agama/kepercayaan orang lain. yang berarti persatuan tentu tidak dapat dilakukan jika salah satu golongan/kepercayaan menganggap bahwa mereka lebih diatas daripada yang lain (mengganggap orang lain sampah) .....